
ditengah hebohnya pemberitaan tentang praja IPDN yang bertambah jumlahnya meninggal dianiaya oleh seniornya, gw juga kehilangan salah seolah yang bisa dibilang sebagai ayah, teman, sahabat, dan guru gw sejak tahun 2005. namanya Mardi Yatmo Hutomo, tetapi semua orang memanggilnya Pak Mamok. almarhum lahir 46 tahun lalu di Yogyakarta dan berpulang tanggal 12 April 2007.
belum genap dua tahun gw kenal pak Mamok, pertama jumpa di akhir Agustus 2007, ketika gw mulai masuk di lingkungan LSM yang sampai sekarang gw bergelut di dalamnya. saat itu beliau masih menjadi Staf Ahli Komisi IV DPR RI, namun belakangan mengundurkan diri dan digantikan oleh Pak Edward Tanari. mungkin juga karena kesibukannya dan penyakitnya yang mulai sering kambuh.
menurut penuturannya, beliau lahir di tanggal 1 Suro dan mempunyai “tanda” yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang dilahirkan pada tanggal tersebut. sesuai dengan kepercayaan orang Jawa, ibunya tak pernah lupa selametan setiap hari ulang tahun kelahirannya. namun kepercayaannya itulah yang mungkin membuat dirinya tidak menyadari bahwa tanda yang dia percayai sebagai bawaan lahir itulah sebenarnya adalah kanker kulit. entahlah, jika dilihat dari tingkat intelektualitas almarhum yang disegani oleh lingkungannya, alangkah naifnya bahwa penyakit yang dia punya, nggak pernah diperiksakan secara medis. sangat nggak masuk akal, gw yakin pasti sebenarnya beliau tahu sejak lama. bahkan beberapa bulan sebelum berpulang, beliau sempat bercerita bahwa di malam hari, beliau sudah tidak tahan lagi merasakan sakit yang harus ditahannya.
2 atau 3 bulan yang lalu akhirnya Pak Mamok dibawa pulang ke rumahnya di Yogya. Pak Edo (Edward Tanari) juga sempat ke Yogya membawa dokter ahli kanker untuk mencoba mengobati beliau. namun rupanya Tuhan menakdirkan lain, ditengah upaya memberikan pengobatan ke negeri China (visanya sudah diurus dan akan berangkat tanggal 28 April) beliu harus berpulang.
selamat jalan pak Mamok, semoga amal ibadahmu diterima Allah. Amien.