Nggak terasa waktu cepat sekali berlalu, sudah setahun sejak gempa 6,5 Skala Richter mengguncang Djogdjakarta dan Klaten, termasuk meratakan rumah keluarga gw. Masih jelas dalam ingatan gw, Sabtu pagi 27 Mei 2006 Om gw telpon ketika gw masih tidur lelap akibat semalam gw baru bisa tidur jam 03.00 WIB mengabarkan kalau rumah sudah rata dengan tanah, sesaat setelah gempa, namun seluruh anggota keluarga dalam keadaan sehat, termasuk kakek dan nenek gw (ortunya Papa gw) yang sudah berusia 75 tahun.
Gw langsung lega dan tenang karena yang utama keselamatan dulu. Saat itu gw menduga gempa diakibatkan oleh Gunung Merapi yang memang pada saat itu sedang aktif. Buat warga Klaten, gempa-gempa yang diakibatkan oleh Gunung Merapi sudah sering terjadi dan nggak terlalu menghawatirkan. Gw baru menyadari bahwa gempa ini adalah gempa tektonik setelah melihat tayangan di televisi. Yang bikin agak panik, sampai jam 10.00 WIB gw belum tahu kabar nenek gw yang satu lagi (Ibunya Mama gw) yang berumur 80 tahun dan tinggal di pusat kota Klaten, sekitar 12 Km dari rumah keluarga gw yang rumahnya rubuh total. Untung akhirnya gw tahu juga kalo rumah nenek gw nggak kenapa-napa.
Yang mengagumkan, nenek gw (ibunya Papa gw) selamat meskipun tertimpa atap rumah yang roboh. Beruntung, dia masih bisa merayap di samping meja kompor dan atap itu tidak menghancurkan meja. Alhamdulillah sekarang rumah yang baru sudah didirikan meskipun masih sangat sederhana dan hanya berukuran 20 meter persegi.
Anyway, sekarang gw nggak akan banyak cerita tentang gempa, karena gw akan cerita tentang Klaten…
Lebih dari lima puluh persen dari hidup gw, atau selama 15 tahun, gw habiskan di Klaten, kota Bersinar. Gw tinggal di jalan Pramuka, di rumah nenek gw, sebuah rumah tua peninggalan Belanda, 200 m dari Rumah Sakit Bersalin PKU Muhammadiyah, tempat dimana gw dilahirkan, dan 200 meter pula dari Stasiun Klaten.
TK dan SD kelas 1 gw masih di Klaten, di TK Maria Asumpta dan SD Maria Asumpta, sebelum akhirnya gw berpindah-pindah Sekolah dan menetap lagi di Klaten setelah kelas 5 SD. Gw lulus dari SMUN I Klaten tahun 1998. Dan sekarang karena gw sudah tinggal di Bekasi, jadi paling-paling setahun sekali pulang ke Klaten, kalau nggak pas Natal ya pas Lebaran.
Banyak sekali yang gw ingat tentang Klaten, kota yang nyaman, karena nggak pernah macet seperti Jakarta. Kebanyakan alat transportasi adalah sepeda motor dan sepeda. Sepeda motor baru belakangan ini ramai, dulu jalanan hanya penuh dengan sepeda onthel. Waktu SMP, setiap hari gw ke sekolah yang jaraknya 5 km pulang pergi naik sepeda, maklum, belum ada jalur Angkutan Umum seperti sekarang ini. Baru pas SMA gw jalan kaki karena hanya 10 menit dari rumah.
Klaten punya tempat wisata yang terkenal, gw yakin semua rakyat Indonesia tahu Candi Prambanan, tapi nggak semua orang tahu kalo letaknya ada di Kab. Klaten. Seingat gw, -entah kalo waktu kecil gw belum bisa mengingat-, gw baru empat kali ke candi ini. Prambanan adalah salah satu Kecamatan di Kab. Klaten.
Obyek wisata lain yang mulai banyak dikunjungi adalah Deles Indah. Gw memang baru sekali doang ke sana, waktu kelas 1 SMA. Pegunungan yang berhawa dingin dengan pohon-pohon rindang, cocok buat pacaran anak muda. Deles ini bisa diakses dari pertigaan Pabrik Gula Gondang, yang saat ini sudah tutup dan nggak berproduksi lagi, naik lurus ke atas. Dulu waktu SMP gw masih sering ngeliat Lori, kereta yang khusus menarik tebu untuk dibawa ke Pabrik Gula. Dulu gw juga suka nyuri tebu, bahkan sampai dikejar-kejar pemiliknya. Ngebayangin batang-batang tebu yang tua, berwarna ungu kehitaman, hmmm pasti manis sekali. Tapi siap-siap tangan perih kalo mandi, karena daun tebu tajam sekali, sebisa mungkin pakai baju lengan panjang kalo masuk ke tanaman tebu. Sekarang nggak ada lagi petani menanam tebu, harga gula import kan jauh lebih murah dari pada gula lokal… Petani kita nggak mungkin lagi bisa bersaing dengan gula import.
Meskipun orang Klaten sekarang terpaksa mengimport gula, masih ada komoditi yang sampai sekarang masih bisa dieksport. Tembakau adalah primadona. Dari pengamatan gw, sepertinya malah terjadi penurunan juga dalam hal produksi tembakau. Dulu, hampir disepanjang jalan di Kec. Wedi dan Gantiwarno, lahan yang ditanami tembakau sangat luas, dan ciri khasnya adalah di tutup dengan kain yang mirip kelambu bayi, hanya saja lebih rapat anyamannya, supaya hama tidak bisa masuk dan kualitas tembakaunya bagus. Tapi sekarang, sudah mulai jarang terlihat hamparan tanaman tembakau, setidaknya di dua kecamatan tersebut.
Ada lagi, ini yang mungkin cuma ada satu-satunya di Indonesia, Jimbung, daerah yang terkenal karena Bulusnya, yang menurut kepercayaan sudah berumur ratusan tahun, dan bisa mendatangkan kekayaan bagi yang memujanya. Orang-orang dari berbagai daerah berduyun duyun datang ke Jimbung, untuk mendapatkan kekayaan, orang Jawa bilang Golek Pesugihan. Jimbung ini akan ramai dikunjungi, seminggu setelah Lebaran, karena ada pasar malam. Tahun 2005 kemaren gw ke Jimbung, mumpung lagi ngumpul sama sepupu-sepupu gw, rame-rame satu mobil iseng-iseng ke Jimbung, semalaman nunggu sang Bulus, tapi sayang beliau enggan nongolin diri. Entah kenapa gw jadi bloon, pengen banget ngeliat bulus itu…
Ngomongin soal mistik, ada lagi tempat yang bisa buat nyari Tuyul. Kata papa, ini juga terkenal, tapi gw lupa apa nama daerahnya. Katanya sih, ahlinya ini rumahnya deket Kreteg Abang, ato dalam bahasa Indonesianya, Jembatan Merah. Bukan Jembatan Merahnya Gesang lho…
Klaten juga terkenal dengan Makam Kiai Pandanaran atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kiai Samber Nyawa, di Kecamatan Bayat, yang ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.
Kalo gw paling hobi ke Pemancingan Ikan Janti, sebuah desa yang seluruh penduduknya setiap rumah mempunyai kolam pemancingan yang diberi nomor urut. Kebanyakan anak sekolahan merayakan ulang tahunnya dengan mentraktir teman-temannya di Pemancingan ini. Entah nomer berapa yang jadi favorit gw dulu, yang pasti kalo ke Janti, selalu makan ikan bakar dan minum es jeruk.
Tempat pemancingan seperti Janti ini juga mulai berkembang di daerah wisata Rowo Jombor, yang dulu hanya menonjolkan tempat wisata Rawanya, sekarang mulai ada rumah makan pemancingannya.
Makanan yang khas dari Klaten, sepanjang yang gw ingat susah sekali gw dapet di Jakarta adalah Jenang Ayu dan Trasikan yang diproduksi di Kecamatan Wedi. Satu lagi, adalah Belut yang dibikin kripik.
Ada yang jadi pengen ke Klaten?