kondektur
Gw benci sifat tidak sportif yang suka dilakukan kondektur bis kota. Tetapi berhubung belum mampu memiliki kendaraan pribadi, dan setiap hari musti berhubungan dengan kondektur, ya terpaksa harus memaklumi.
Buat yang terbiasa naik bus kota, pasti sudah nggak asing lagi dengan suara gemerincing uang-uang recehan yang sengaja digenggam di tangan, dan dikocok-kocokkan di samping telinga penumpang. Itu tandanya dia mempertanyakan apakah kita sudah membayar atau belum. Kalau belum, itulah saatnya kita segera diharuskan mengulurkan uang sebagai pembayaran ongkos naik bus.
Tetapi yang paling bikin gw heran dan nggak habis pikir, kondektur selalu hafal mana-mana saja penumpang yang belum bayar, namun lupa (atau pura-pura lupa) siapa-siapa saja penumpang yang sudah bayar. Buktinya, dia akan tetap mengocok-ngocokkan uang recehan itu kepada penumpang yang belum bayar, dan akan terus dilakukannya sampai si penumpang bergerak merogoh kantongnya (untuk laki-laki) atau membuka ristleting tasnya (biasanya penumpang perempuan) guna mencari dompet.
Dan rasanya nggak perlu banget buat kondektur terus-terusan menagih penumpang yang jelas-jelas sudah bayar. Kebiasaan menggemerincingkan uang recehan ini tentu akan sangat mengganggu, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa naik bis kota, isyarat bola mata yang membesar sambil membatin “gw kan sudah bayar” , tentu akan dengan sendirinya dilakukan. Buat yang mengalami kejadian “ditagih lagi” setiap hari, pasti menjadi kebal dan memasang tampang cuek adalah jawaban yang pasti langsung bisa dikenali oleh kernet sebagai kata lain dari “sudah bayar”.
Kejadian tadi pagi adalah salah satu ketidaksportifan kondektur bis kota yang kesekian kali gw alami. Ketika ditagih untuk membayar, gw ulurkan duit sepuluh ribuan. Ongkos bis kota jauh deket dua ribu rupiah (non AC). Kondektur akan menggemerincingkan recehan makin keras apabila kita tidak cepat atau segera mengeluarkan uang. Namun ketika uang yang kita ulurkan merupakan uang gedean (bukan berarti gw mengelompokkan Rp. 10.000,- ke dalam kategori uang gede, hehe…), dengan santainya kondektur akan meninggalkan kita tanpa mengembalikan uang sisanya kepada penumpang dengan segera. Ada saja alasannya, kalau kita memasang muka yang merupakan kode pertanyaan “kembalian gw mana?”
Gw sudah sabar menunggu sampai tempat dimana gw harus turun, terpaksa gw tagih uang yang belum dikembaliin. Gantian si kondektur mengulurkan uangnya ke gw. Selembar uang lima ribuan dan dua lembar uang seribuan. Entahlah apa maksudnya. Apa dikiranya gw nggak ngerti? Atau dipikirnya karena gw udah mau turun, pasti nggak akan dihitung lagi kembaliannya? Atau yang lainnya. Yang pasti gw langsung nggak terima dengan akal-akalan seperti itu. Dengan membulatkan mata dan memasang tampang seseram mungkin, gw mengulurkan uang kembalian yang ditangan gw, dan dengan tergopoh-gopoh, si kondektur mengulurkan lagi satu lembar uang seribuan ke tangan gw.
Mungkin gw nggak bakal seekstrim itu kalo nggak kesel dari awal mulanya. Apalagi hanya masalah uang seribu rupiah. Ilmu sabar dan ikhlas gw nggak mempan menghadapinya…