suara
Tak tok tak tok, bunyi sendal gw di jalan aspal mengingatkan gw bahwa sebenernya gw nggak terlalu suka memakainya. Apalagi hari ini, nggak mecing dengan celana jins gw yang nyante.
Di depan mulai terlihat pemandangan yang biasa gw jumpai saat berangkat ke kantor. Bapak setengah tua sedang mengeluarkan sepeda yang terlihat lebih mirip becak. Sengaja didesain khusus untuk pekerjaannya berkeliling menawarkan permak lepis. Sebuah mesin jahit tua bertenger di atas meja kecil dan di bawahnya ada peralatan seperi gunting, meteran dan benang-benang.
Tidak seperti biasanya, pagi ini gw menyempatkan menegur bapak itu, yang hampir setiap hari memperoleh senyuman termanis gw. (yaicks).
“pak, kok tasih ngagem kaos niku tho?”
kata gw sampe menunjuk kaos merah dengan tulisan angka 18 di punggung.
“lha nopo dereng angsal pembagian kaos gubernur?”
lanjut gw dengan pedenya menggunkan bahasa Jawa yang semaksimal mungkin gw usahakan kromo. Masih belepotan karena di rumah tiap hari ngoko.
“dereng mbak, angsale naming stiker terus”
jawab bapak itu setengah tertawa
”milih sinten pak mangke?”
tembak langsung ah, sambil survey kecil-kecilan nih, batin gw.
”nggih nomer kalih, wong ibuk iklane niku!”
jawabnya mantap.
Sambil memberikan tanda jempol tangan, gw segera berlalu, setelah tentu saja memberikan senyuman terindah gw…
- - -
terimakasih kepada bapak itu karena memberikan inspirasi untuk postingan ini.
Terimakasih karena masih mempercayai partai ini. Yang mungkin dia sendiri tidak tahu bahwa hanya partai ini yang menolak kenaikan BBM, satu-satunya yang menolak impor beras dan satu-satunya yang mendukung interpelasi lapindo, karena mungkin yang dia tahu hanya sosok pemimpinnya.
Dengan cara yang berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama telah gw tanyakan pada tukang ojeg yang gw naikin, tukang fotokopian tempat gw mampir jilid spiral hari ini, dan tukang rokok di basement. Baru dapet 4 orang sih, lumayan…