Sejak sepuluh hari yang lalu, saya tidak bisa online. Seneng banget hari ini bisa kembali on line lagi. Hari-hari sibuk udah berlalu sejak Rakernas dan Rakornas PDI Perjuangan selesai Senin, 10 September kemarin. Yang tersisa hanya rasa ngantuk yang terlihat dari kegiatan menguap yang tidak berenti dari tadi pagi.
Buat yang nggak sempat baca koran hari ini, semoga cerita berikut bisa jadi penggantinya. Rapat koordinasi nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang diadakan di PRJ Kemayoran kemarin diikuti oleh 16.400 pengurus partai dari tingkat nasional, propinsi, kabupaten dan kecamatan. Acara dibuka pukul 10.00 oleh Ketua Umum partai, Megawati.
Dalam acara tersebut hadir Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar, Surya Paloh. Surya Paloh dikenalkan oleh Panda Nababan [salah satu Ketua DPP] sebagai orang yang secara pribadi ”dekat” dengan perjuangan Megawati. Saya sedikit geli mendengar pernyataan Panda. Sebagai orang yang mempercayai ”tidak ada kawan dan musuh yang abadi”, kedekatan atau kejauhan dengan seseorang tidak sesimpel itu penjelasannya. Sejarah memperihatkan ada masa-masa dimana bos Media Grup itu, dari kacamata saya, pernah bertolak belakang pada perjuangan Megawati, ketika dengan kekuasaannya terhadap medianya memilih untuk mencitrakan seseorang secara berlebihan sehingga sedikit banyak meberikan andil dalam membawa swing voters ke arah lain. Sekarang, mudah-mudahan dengan kembali mendekatnya beliau, membawa sedikit angin segar dalam membantu perjuangan Megawati.
Seperti yang sudah sering saya dengar, Surya Paloh kembali menegaskan bahwa Partai Golkar dan PDI Perjuangan sama dalam tekadnya untuk memegang teguh Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
Setelah itu, giliran Bachtiar Chamsjah, Ketua Dewan Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan. Beberapa saat lamanya menjelaskan kedekatannya dengan Megawati terutama disaat mengemban tugas sebagai Menteri Sosial di Kabinet Megawati. Pernyataan Chamsjah tentang syarat calon independent dalam pilkada yang harus sama dengan calon yang dari partai politik perlu digaris bawahi. Ketentuan 7,5% seperti yang diwacanakan saat ini oleh sebagian partai politik, seharusnya paling tidak 15% menurutnya. [Rakernas PDI Perjuangan mendukung adanya calon independent dan menyerukan agar revisi UU No. 32 selesai paling lambat Desember 2007].
Hidayat Nur Wahid, mantan Presiden Partai Keadilan [sekarang PKS], menyatakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara sudah final. Juga tentang pasal 29 UUD 1945 yang tidak perlu diubah, dan presiden wanita tidak melanggar Undang-Undang. Tentang keharusan seorang presiden untuk mempunyai gelar Strata 1 juga tidak menjamin kapabilitas seseorang untuk memimpin negeri ini.
Ketika Gubernur Bank Indonesia menyampaikan materinya, saya tidak begitu memperhatikan karena sudah letih, konsentrasi kurang, dan ngantuk banget. Makanya saya keluar sebentar dan hanya mengikuti setengah sesi. Bahasa penyampaiannya seperti kalo dia menyampaikan di depan akademisi dan ekonom, jadi nggak masuk dalam otak saya.
Terakhir, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan yang baru saja menginjakkan kaki di Jakarta beberapa saat setelah kepulangannya dari Bali, menyatakan satu kalimat yang saya simpulkan dari materinya: hukum selalu dimanfaatkan oleh penguasa.
Pada acara Rakornas PDI Perjuangan ini, muncul artis-artis [yang sebenarnya sudah lama saya tahu] mendukung acara. Sonny Tulung sebagai MC, Edo Kondologit menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan spektakuler, dan Siti KDI menutup acara dengan berdangdut ria.
Megawati menutup acara dengan menyatakan kesanggupannya untuk dicalonkan sebagai Presiden RI periode 2009-2014 dari PDI Perjuangan. Merdeka!