Anda tahu bagaimana caranya berjabat tangan? Mungkin terdengar sedikit mengada-ada, jabat tangan aja kok repot.
Tapi tidak, berjabat tangan memang sangat penting. Bahkan etika yang satu ini sangat perlu untuk dipelajari. Tidak hanya oleh profesional untuk dipraktekkan di lingkungan kerja, dalam kehidupan bersosialisasi sehari-haripun tak pernah lepas dari kegiatan yang satu ini.
Pada saat masih sekolah, saya belum begitu dipusingkan oleh bagaimana sebenarnya cara yang tepat berjabat tangan. Paling-paling saya salaman dengan orang tua sambil cium tangan ketika pamitan mau berangkat, itupun kadang terlewat juga. Memasuki masa kuliah, baru saya sadar betapa pentingnya moment 1 hingga 2 detik tersebut.
Suatu hari, saya bertemu dengan adik angkatan yang masuk dalam sebuah organisasi yang sama. Beliau sedang bersama-sama dengan teman-temannya. Karena saya merasa kenal, saya lantas menghampirinya dan mengulurkan tangan. Maksud hati untuk mengajaknya bersalaman (baca: berjabat tangan) sambil menanyakan kabarnya. Tetapi apa yang terjadi? Tangan saya sama sekali tidak disambutnya. Antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berjabat tangan. Fine. Tetapi betapa malunya saya saat itu, dan hingga kini menjadi trauma tersendiri bagi saya dalam menghadapi orang untuk pertama kali.
Menurut beberapa sumber pengetahuan yang saya baca, etika dalam berjabat tangan adalah dengan berdiri, menggenggam tangan secara menyeluruh sekitar 1 hingga 2 detik, sambil menatap tepat di matanya dan jangan lupa tersenyum. Sebutkan nama Anda jika itu merupakan pertemuan pertama kalinya.
Lantas, saya jadi berpikir. Darimana asalnya pendapat yang mengatakan bahwa orang Indonesia sifatnya ramah? Jualan yang selalu diucapkan untuk menarik wisatawan asing datang ke Indonesia.
Benarkah?
Visit Indonesia Year tidak harus dimulai dengan hal-hal yang besar. Tentu perlu untuk membenahi prasarana seperti akses jalan menuju tempat wisata, lokalisasi WTS pedagang asongan, ataupun menggiatkan kembali acara yang menampilkan kebudayaan asli Indonesia. Keamanan juga hal yang utama, dan kita semua pasti sepakat untuk bersama-sama melawan terorisme. Tapi, tidak kalah perlunya juga untuk menggugah semangat bangsa kita agar benar-benar layak disebut sebagai tuan rumah yang baik bagi tamu kita. Semoga “ramah” tidak lagi hanya sekedar slogan di negeri ini.