Nunggu Pejabat Terpeleset
Semalam, teror sudah mulai menimpa saya. Betapa kejamnya dunia politik. Sang “terduga” sudah ada di bayangan saya, hanya saja tentu amat sulit pembuktiannya.
0857 3158 6762 menelepon dan kirim SMS porno. Kalo ada yang mampu menyadap seperti KPK, dan rekamannya dibeberkan seperti kasus Ayin, kayaknya seru juga.
Operator nggak punya kekuatan sedikitpun, jangankan membeberkan rekaman pembicaraan, memblokir sebuah nomor pun harus pake “prosedur” yang bertele-tele alias kalo bisa dipersulit buat apa dipermudah.
Bikin laporan ke kepolisian [dari bangku ke bangku], setelah itu baru ke operator [kemungkinan dari ruangan ke ruangan pula], dan belum tentu sehari kelar. Dana yang harus dikeluarkan? Silahkan hitung aja sendiri. Dari tarif resmi pengisian formulir, sampai dengan pelicin dan uang rokok. Belum harga waktu saya yang terbuang.
Sedangkan buat pelaku, nggak masalah diblokir, lha wong dengan 5 ribu rupiah bisa beli nomor baru dan mulai neror lagi. Apalagi, operator selular nomer saya memberi promo telpon gratis sampai puassssss…
Jadi kesimpulannya: silahkan teror terus, nggak akan saya tuntut nggak akan saya gugat.
