Generasi 2.0 Bersama XL Mengulang Janji Soempah Pemoeda

Sebuah Bangsa memang sudah seharusnya tahu bagaimana menghargai sejarah. Salah satu sejarah besar dari Negara Republik Indonesia adalah Soempah Pemoeda. Sebuah tekad dari sejumlah pemuda, untuk bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu: Indonesia.

Soempah Pemoeda 2.0

Sekilas Soempah Pemoeda 2.0

Apa sih, Soempah Pemoeda 2.0?

Soempah Pemoeda 2.0 adalah peringatan hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2010, yang diselenggarakan oleh XL melalui program CSR Indonesia Berprestasi Award, mengundang masyarakat digital (Blogger, Facebooker dan Tweeps) untuk lebih mengenal perjuangan pemuda Indonesia di masa awal abad 20 tersebut yang akhirnya berbuah ‘Soempah Pemoeda’. Bersama-sama mengulang janji Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia.

Kapan dan di mana?

Acaranya diadakan pada hari Kamis, 28 October 2010, pukul 13.00 – 19.00 WIB. Bertempat di Moesioem Kebangkitan Nasional, Jl. Dr. Abdul Rahman Saleh No. 26 Jakarta Pusat, atau yang lebih terkenal dengan nama Gedung STOVIA.

Awalnya, saya tahu acara ini berkat informasi dari Eka Situmorang. Waktu itu saya kesulitan mengakses internet karena sedang berada di luar kota. Tapi akhirnya saya berhasil juga mendaftar dan hari Rabu 27 Oktober 2010 saya mendapat kiriman satu box berisi kaos, pin, kacu dan soerat kabar edisi khusus Soempah Pemoeda.

Soempah Pemoeda 2.0

Dari kantor saya melarikan diri pukul 12.30. Sudah diperhitungkan sih, nggak bakalan telat, soalnya saya naik busway yang lancar. Tetapi, karena saya ketiduran di busway, kebablasan deh! Pas balik lagi ke shelter busway Senen, jalanan macet! Huh, telat dikit deh jadinya. Yang rencana jalan kaki dari shelter busway Senen, jadi naik ojeg deh.

Acaranya apa aja sih?

Pukul 13.00 WIB pendaftaran peserta dimulai. Blogger, facebooker dan tweeps yang sudah hadir bisa beramah-tamah satu dengan yang lain. Saya ketemu beberapa blogger luar kota yang belum pernah Kopdar sebelumnya, seperti Daeng Ipul dan Ntans dari Makassar. Senengnyaaa, XL bisa mempertemukan teman-teman yang biasanya hanya saling berkomentar melalui blog, akhirnya bisa ketemu juga di dunia nyata.

Soempah Pemoeda 2.0

Acara dimulai dengan tarian dari berbagai daerah di Indonesia, dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Ibu Dian Siswarini dari PT. XL Axiata Tbk. Setelah itu, dialog Soempah Pemoeda dengan moderator Jaya Suprana, menampilkan pembicara Anhar Gonggong, Imam Prasodjo, Adrie Soebono, Sudiyanto dan Iman Brotoseno.

Generasi 2.0; Pemuda Tanpa Etika?

Sebagai generasi 2.0, tidak semua sejarah yang pernah dipelajari secara formal di sekolah, bisa kita ingat sampai sekarang. Beruntunglah saya, sebagai seorang blogger mendapat undangan khusus dari PT. XL Axiata Tbk., untuk mengikuti rangkaian acara Soempah Pemoeda 2.0, sebuah upacara digital yang memperoleh penghargaan rekor dari MURI. Acara dihadiri oleh 14 komunitas blogger dari seluruh Indonesia, diantaranya Medan, Padang, Palembang, Bandung, Semarang, Jakarta, Bodetabek, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Manado, Makassar, Kalimantan, hingga Ambon, bersama-sama mengucapkan ikrar sumpah pemuda. Mirip dengan Jong-Jong yang pada saat Kongres Pemoeda membacakan Soempah.

Soempah Pemoeda 2.0

Ada beberapa hal yang saya baru tahu dalam acara yang bertajuk “Satu Negeri” tersebut. Diantaranya adalah penentuan Bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa Nasional. Kenapa tidak dipilih Bahasa Jawa saja? Padahal mayoritas Bangsa Indonesia berasal dari suku tersebut. Atau Bahasa Sunda? Kenapa Melayu, yang merupakan bahasa kaum minoritas? Semua itu karena Bahasa Melayu sajalah yang tidak memiliki strata dalam bahasanya. Bahasa Melayu tidak bersifat feodal. Sehingga kita akan menggunakan kata yang sama ketika berbicara dengan seorang presiden ataupun dengan seorang petani.

Satu pembahasan yang sedikit panas adalah ketika sejarawan Anhar Gonggong menyinggung soal teknologi yang beretika. Beliau menyebutkan, di Negara Amerika, ketika belajar atau mengikuti sebuah rapat, seluruh peserta akan berkonsentrasi, bahkan untuk ber-SMS saja itu dianggap tidak sopan. Padahal dalam ruangan acara Soempah Pemoeda 2.0 hampir semua yang hadir, blogger atau bukan, sibuk dengan gadget masing-masing, live tweet, menyebarkan semangat Soempah Pemoeda kepada seluruh Negeri. Penguasaan teknologi seharusnya disertai dengan etika, bukan kita yang dikuasai oleh teknologi.

Tetapi, perkembangan terkini adalah, generasi 2.0 sanggup untuk multi-tasking. Sambil mendengarkan ceramah, jari tangan mampu untuk live tweet, menyebarkan informasi yang diterimanya, pada saat itu juga. Teknologi justru membantu penyebaran informasi secara real time. Bukan berarti tidak beretika. Dan menurut saya jauh lebih baik menarikan jari di atas tuts, daripada berbincang sendiri dengan rekan di sebelahnya.

Soempah Pemoeda 2.0

Kehadiran teknologi tentu harus kita manfaatkan. Banyak efek positif jika kita mampu menggunakannya dengan bijak. @AdrieSoebono salah satu contoh nyatanya. Beliau yang kini memiliki follower sebanyak 275.294 orang, dengan mudah mampu menjual 4.000 lembar tiket konsernya dalam jangka waktu satu hari melalui twitter, tanpa beriklan di media massa konvensional seperti billboard dan koran.

Komunitas Historia Indonesia; Pemuda Pecinta Sejarah

Kembali kepada Soempah Pemoeda. Seberapa banyak pemuda masa kini yang masih memiliki semangat Soempah Pemoeda di era digital? Masih adakah upacara-upacara peringatan diadakan? Ingatkah kita sejarah hingga terdeklarasi Soempah Pemoeda?

Komunitas Historia Indonesia, bersama dengan PT. XL Axiata Tbk. kembali mengingatkan generasi muda dengan cara napak tilas lahirnya Soempah Pemoeda. Acara tidak dilakukan secara formal, tetapi dengan beberapa game, membuat ingatan kita lebih mudah menangkap sejarah yang dijelaskan oleh tim Komunitas Historia.

Dari game tersebut, dibagikan beberapa hadiah untuk peserta, dan saya memenangkan lomba live tweet terseru bersama Dita dan Alex. Hadiahnya sebuah tas weekender, topi dan voucher belanja.

Soempah Pemoeda 2.0 Kredit Foto: Hedi Novianto.

Apa Yang Membekas Dari Soempah Pemoeda 2.0?

Setelah acara Soempah Pemoeda 2.0, ada yang membekas di pikiran saya. Pemuda generasi 2.0, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, tidak boleh melupakan sejarah bangsanya. Soempah Pemoeda 2.0 mengingatkan saya sebagai pemuda generasi 2.0 harus tetap membuktikan sumpah kita bahwa hanya ada satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa; INDONESIA!

Selamat kepada PT. XL Axiata Tbk. yang memperoleh rekor MURI sebagai Pemrakarsa Deklarasi Sumpah Pemuda Digital Serentak Lewat Jaringan Social Media Dengan Peserta Terbanyak!

Sisa Keriaan Festival Topeng Nusantara Di Cirebon

Masih tentang cerita jalan-jalan saya di Cirebon akhir minggu lalu. Ada dua tulisan terdahulu, Asyiknya Mengejar Kereta Api dan Wisata Kuliner Selama Di Cirebon yang juga bisa Anda baca. Tulisan ini, hanya singkat saja sebenarnya. Karena bukan tempat wisata yang saya dan teman kunjungi selama di Cirebon. Kebetulan hotel tempat kami menginap hanya berjarak beberapa meter dari lokasi topeng berada.

Festival Topeng Nusantara

Ketika melewati sebuah topeng yang ada di pinggir jalan, iseng saja saya foto di depannya. Sambil baca juga sih, sepertinya bekas acara beberapa hari sebelumnya. Dan benar saja, setelah saya Googling, ternyata Kota Cirebon adalah kota diselenggarakannya Festival Topeng Nusantara 2010. Sebuah rangkaian acara sebagai bagian dari pariwisata budaya Nasional yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Jujur, saya baru pertama kali dengar ada acara semacam itu. Jika saya dan teman tahu sebelumnya, mungkin kami akan jalan ke Cirebon lebih cepat lagi dan menyaksikan festival tersebut. 😉

Festival Topeng Nusantara

Festival Topeng Nusantara

Festival Topeng Nusantara

Festival Topeng Nusantara

Festival Topeng Nusantara

Festival Topeng Nusantara

Topeng-topeng yang dimiliki oleh Indonesia sangat banyak. Tiap daerah hampir punya topeng dengan bentuk yang khas. Beberapa diantaranya adalah seperti pada gambar di atas. Seni Topeng Nusantara diharapkan nantinya dapat diakui sebagai “Warisan Budaya Dunia” (World Heritage) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Festival Topeng Nusantara

Yang di atas adalah foto saya bersama topeng di Keraton Kasepuhan Cirebon. Cerita tentang Keraton Kasepuhan dan Kanoman bakal saya ceritain besok-besok.

~~~
Screenshot gambar topeng selain foto saya diambil dari website Festival Topeng Nusantara.

Wisata Kuliner Selama Di Cirebon

Saat jalan-jalan ke Cirebon kemarin, lumayan banyak juga makanan khas Cirebon yang masuk ke dalam perut saya. Sebenernya saya nggak terlalu berharap banyak bisa wisata kuliner jika sedang jalan-jalan, soalnya beberapa daerah di Indonesia masakannya nggak cocok dengan lidah saya, tapi Cirebon masih lumayan menyenangkan masakan khasnya. Nggak terlalu aneh-aneh, dan yang pasti menunya bukan ikan. 😆

Empal Gentong

Empal Gentong sangat terkenal di Kota Cirebon. Hampir di seluruh sudut menawarkan makanan yang satu ini. Saya dan teman malah dua kali mencicipi Empal gentong di dua rumah makan yang berbeda. Yang pertama saat tiba di Cirebon,dan yang kedua saat hampir meninggalkan Cirebon. Jadi bisa dibilang Empal Gentong adalah pembuka dan penutup perjalanan kami.

Menurut catatan yang sempat kami baca, ada Empal Gentong di Stasiun Kereta Api yang lumayan enak. Kami langsung nyari gampangnya aja. Daripada nanti nyari-nyari di tempat lain dan nggak ketemu, langsung aja makan begitu turun dari Kereta Api. Toh, perut memang sudah waktunya untuk diisi.

Empal Gentong

Berdua, kami mencoba Empal Gentong Daging Sapi Mang Darma yang ada di Stasiun Kereta Api Cirebon. Trade Mark Darma sepertinya sangat terkenal, karena ada beberapa macam Darma yang digunakan, mulai Bu Darma, Mang Darma, Darma Putra dan mungkin masih ada versi Darma lainnya.

Empal Gentong Daging Sapi Mang Darma yang ada di Stasiun Kereta Api Cirebon, enak juga. Kuahnya kental dan bumbunya terasa. Empal gentong itu agak-agak mirip gule atau soto kare, dengan kuah yang bersantan, berisi irisan daging sapi dan jerohan sapi. Ditaburi dengan irisan bawang goreng dan daun bawang. Nyaaaaam!

Empal Gentong

Yang berbeda dengan soto atau gule, sambal yang ditambahkan ke dalam empal gentong adalah cabe bubuk, bukan sambal ulek.

Empal Gentong

Empal Gentong yang kedua, masih di stasiun kereta api Cirebon juga, tapi lebih encer daripada yang pertama. Teman saya sih lebih suka yang ke dua sepertinya, buktinya langsung disikat habis. 😆

Tahu Gejrot

Bahan dasar tahu gejrot sih sebenernya ya cuma tahu goreng biasa aja. Kenapa dinamain gejrot, karena tahunya dikasih kuah dengan cara digejrotin. Bumbu yang ditambahkan adalah ulekan bawang merah, cabe, garam dan sedikit gula merah, dicampur dengan kuah cuka.

Tahu Gejrot

Sepiring tahu gejrot yang saya beli harganya Rp. 5.000,- murah meriah buat sekedar nyicipin rasanya. Saya makan sambil menunggu kereta api yang akan kami tumpangi ke Jakarta tiba.

Rasa pedes dan sedikit asem bikin mata melek! Perutpun penuh karena siang itu makan Empal Gentong dan Tahu Gejrot sekaligus.

Nasi Jamblang

Jamblang itu nama daerah di Cirebon dan di sana asal muasalnya nasi jenis ini dijual, makanya dinamai Nasi Jamblang. Nasi putih biasa aja, hanya cara penyajiannya yang sedikit berbeda. Piring dikasih alas dengan daun jati. Dan lauk yang ditawarkan beraneka macam, bisa diambil sendiri, mulai dari semur jengkol sampai dengan sate telur puyuh.

Nasi Jamblang

Nasi Jamblang

Hampir tengah malam saat saya dan teman jalan nyari nasi jamblang. Yang khas dari lauk nasi jamblang salah satunya adalah pedesan entog. Entog dalam bahasa Indonesia itik kali ya? Jadi daging itik yang dimasak pedas. Teman sampai kepedesan saat makan nasi jamblang dengan lauk pedesan entog ini.

Bubur Sop Ayam

Sudah biasa makan bubur ayam saat sarapan? Sama, saya juga.

Tapi pasti dijamin banyak yang belum ngerasain yang namanya Bubur Sop Ayam ala Cirebon. Bubur dicampur dengan sop ayam yang kuahnya ada santan kentalnya di atas, semacam opor ayam gitu.

Nih, gambarnya seperti ini. Semangkuk Rp. 7.000,-

Bubur Sop Ayam

Buburnya agak kental, tapi nggak sekeras lontong. Dicampur dengan sop yang berisi bihun dan kol, lalu ditaburi dengan kedele goreng, suwiran ayam, remesan krupuk dan bawang goreng. Sambelnya sambel ijo. Hmmm, sedap! Wajib nyoba kalau lagi jalan-jalan ke Cirebon.

Sebenernya masih ada lagi yang saya makan selama di Cirebon, tapi berhubung bukan khas cirebon, tulisan tentang wisata kuliner selama di Cirebon cukup itu aja dulu deh. Bersambung dengan cerita jalan-jalannya di tulisan berikut ya temans. 😉