Pulang Kampung Dan Kopdar

Entah sudah berapa orang yang saya temui dalam aktivitas yang namanya kopi darat atau kopdar. Kopdar adalah sebutan untuk “ketemuan” dengan orang yang biasanya hanya bertemu melalui media on air atau online. Teman-teman yang biasanya hanya saling bertegur sapa melalui blog dan jejaring sosial seperti facebook atau twitter.

Sebenarnya, ada beberapa pertemuan yang tak sempat saya kabarkan di blog ini. Sebut saja kisah pertemuan saya -akhirnya- dengan @satryawp, setelah gagal bertemu pada saat saya ke Bandung sebelumnya. Kenapa nggak ditulis ceritanya? Alasan sederhananya ya karena tak sempat foto bareng!
*halah*

Nah, minggu yang lalu saya pulang kampung ke Klaten. Di Klaten, dua hari berturut-turut, saya kopdar sama teman yang saya kenal via twitter, @koestomo. Bukan kopdar yang pertama kali sih, karena saat mudik lebaran yang lalu saya juga sudah kopdar sama dia. @koestomo yang pasti asyik diajak jalan karena selalu siap diajak ke mana saja. Malam-malam nongkrong di angkringan, siangnya diajak ke pemandian Cokro Tulung, dan sorenya jajan sop ayam yang hanya menghabiskan Rp. 18.000,- untuk tiga orang.

Bicara soal sop ayam, saya jadi teringat dengan pengalaman saya dan teman makan soto cawang. Bagi yang sudah terbiasa melintas di daerah Cawang, pasti pernah melihat yang namanya soto cawang di samping Rumah Sakit UKI. Posisinya berada di dalam halman parkir yang luas, tepat sebelum belokan menuju jalan MT. Haryono.

Dua porsi soto betawi dan dua gelas teh manis harganya Rp. 68.000,- Tak percaya, silahkan Anda coba sendiri. Soto itu adalah soto di warung termahal yang pernah saya beli. Tak tahu persis, berapa harga per mangkoknya. Ah, sudahlah. Tak mungkin saya balik lagi ke tempat itu. Di restoran mewah saja kalau mau sekalian menghabiskan uang.

Balik lagi ke sop ayam saat makan di Klaten, Rp. 18.000,- sudah mendapatkan 3 mangkok sop ayam (dengan nasi dicampur, bukan dipisah), tiga gelas es jeruk dengan gula batu (hmmm, di jakarta susah nemuin es jeruk dengan gula batu), 4 potong tempe goreng, 2 buah kerupuk dan 1 tusuk telur puyuh bacem! Apa nggak murah tuh?

Jangan tanya foto-fotonya ya, karena jiwa narsis saya sedang menghilang saat itu, jadi kamerapun nggak saya fungsikan buat jepret sana jepret sini.

Hari terakhir di Klaten, rencana awalnya saya mau ke Malioboro. Tapi urung karena harus mengejar jadwal kereta yang berangkat dari Solo. Jadilah kopdar dadakan dengan @andreanisme.

Sama Andre, sudah kenal agak lama melalui blognya, tapi kesengsemnya malah lewat twitter yang foto profilnya bikin… Errr, bikin apa ya? Hahaha….

Waktu bulan puasa sih biasanya kami sama-sama ngalong, ngetwit di malam hingga pagi hari, dan menghilang dari timeline di siang hari. Tapi sekarang saya sudah mulai agak jarang ngetwit, hanya sesekali aja ketemu Andre di timeline. Ya iyalah, hari kantor gini mana bisa saya tiap hari ngalong, yang ada lama-lama bisa dirumahkan.

Dari Klaten saya menuju Solo dengan bus. Lajunya mirip keong, bikin saya setengah emosi karena jadwalnya udah mepet dengan keberangkatan kereta. Andre SMS bahwa posisinya ada di Rumah Blogger Indonesia, di jalan Apel No. 27 Solo. Turun saja di Samsat Solo, Mbak, nanti saya jemput di situ, kata Andre. Dijemputlah saya dan @giewahyudi oleh Andre dan @Hasssan, yang ternyata juga sama-sama orang Klaten.

Di Rumah Blogger Indonesia, saya terbengong-bengong. Awalnya, dalam pikiran saya, paling hanya sekedar rumah kos sempit yang dijadikan basecamp, ngumpulnya para blogger. Udah sempit, abu rokok di mana-mana dan bekas botol minuman ringan bececeran. Itu bayangan saya. Ternyata…

Sungguh keren ternyata tempat kumpulnya blogger bengawan ini. Sebuah rumah yang sangat luas, halamannya pun juga luas, kamar tamu luas, pokoknya luas deh. 😆 Eh, kalo kamar mandinya nggak tahu luas apa enggak soalnya lupa nyobain pipis di sana. Jadinya ngampet pipis sampai Jakarta deh.

Saya memang belom pernah mampir ke basecamp-nya komunitas lain, tapi sepertinya Blogger Bengawan juara deh! Mereka punya 6 set komputer buat ngajar anak-anak difabel, dan basecamp-nya free wifi.

Sayangnya, karena hari minggu, nggak banyak yang nongkrong di Rumah Blogger Indonesia, pada pulang ke rumahnya masing-masing, cuma ada @hasssan dan @andreanisme. Di twitter saya dimention @mursid88, dan saat dia ke Rumah Blogger, saya malah sudah pulang.

Kesan saya ketemu @andreanisme, ehm, uhuk, wes yo ngono kuwi, nggak mau cerita ah. 😉

Oh, ya! Tak bukain satu aja ya, @andreanisme kemarin wangi! Entah karena statusnya yang jomblo sehingga menuntut harus tampil prima setiap saat, biar sewaktu-waktu kalo ketemu mangsa bisa langsung embat, atau sengaja wangi buat nyambut saya ya? Padahal saya sendiri buluk dan bau karena pake jaket yang dari seminggu lalu dipake terus. 😆

Indonesia Negeri Para Calo

Siapa sih sekarang yang nggak ngerti betapa hancurnya sistem pembelian tiket nonton bola dari PSSI? Dan pengalaman saya membeli tiket kereta api, sama hancurnya dan memalukan.

Berawal dari niatan saya untuk pulang kampung libur Natal kemarin. Memang bisa dibilang cukup mendadak, jadi tidak pesan tiket dari jauh hari. Sedangkan untuk bisnis dan eksekutif, pemesanan sudah bisa dimulai satu bulan sebelumnya, jadi saya memang pasti kehabisan tiket tersebut.

Alternatifnya, ya hanya naik kereta ekonomi, di mana penjualan tiketnya selain memakai sistem pemesanan, juga masih dibuka loket penjualan tiket pada hari H.

Kawan saya pada hari H mencoba membeli di Stasiun Tanah Abang jam 07.00 pagi dan dinyatakan habis. Saya lalu meluncur ke Stasiun Senen siang harinya. Mengantri tiket yang loketnya dibuka jam 15.00 untuk jadwal pemberangkatan kereta jam 21.00.

Saya berada di urutan depan. Tak sampai 30 orang yang ada di depan saya. Baru sekitar 20an orang yang dapat tiket, tempat duduk dinyatakan HABIS. Padahal, sistem sudah cukup baik, satu orang hanya boleh membeli dua lembar tiket. Kalau 20 orang saja yang dilayani, tempat duduk sudah habis, memangnya gerbong keretanya hanya SATU?? Meski geram, apa boleh buat saya tetap membeli tiket tanpa tempat duduk.

Sambil menunggu teman yang pulang kerja dan nyusul sore nanti ke stasiun, saya duduk di depan loket penjualan tiket. Tak lama kemudian LOKET DITUTUP dengan alasan KUOTA SUDAH TERCAPAI. Batas penjialan tiket yang diijinkan sebanyak 150 persen dari total tempat duduk.

Ratusan penumpang yang datang setelah loket ditutup inilah yang menjadi tontonan saya dalam pertunjukan CALO di stasiun. Saya sendiri ditawari tiket dengan tempat duduk seharga 2 kali lipat harga aslinya. Dan anehnya, semua calo tersebut memakai seragam PORTER resmi stasiun. Mereka tak terlihat antri tiket, tapi megang tiket. Anda simpulkan sendiri, BEKERJASAMA DENGAN SIAPAKAH porter tersebut beroperasi?

Sudahlah, negeri ini memang sudah hancur. Saya mau berbuat apa, batin saya.

Pertunjukan drama tersebut lebih panjang dari sinetron televisi yang durainya hanya 60 menit. Loket yang sudah ditutup sejak sore, tetapi penumpang yang datang sampai pukul 21.00 masih bisa membeli tiket tanpa habis-habisnya. Selalu saja MASIH ADA TIKET DI CALO.

Saat naik di kereta api, saya yang nggak dapat tempat duduk, sembarang saja duduk di bangku yang kosong. Penumpang sebelah bercerita jika dia mendapatkan tiket dengan tempat duduk di calo juga.

Nasip baik rupanya berpihak pada saya. Nomer tempat duduk yang saya pakai ada di tangan calo, tetapi nggak laku terjual. Sehingga nggak ada yang minta tempat duduk saya. Aman. Sampai Klaten saya duduk tenang.

Tak Terlindung Di Pulau Tidung

Pekerjaan di kantor beberapa minggu ini sungguh bertumpuk. Sepertinya nggak ketahuan kapan bisa selesai. Berkurang satu, nambah satu. Begitu seterusnya.

Tapi syukurlah, akhir minggu ini saya bisa melarikan diri sesaat dari deretan tugas akhir tahun yang masih menanti untuk diselesaikan. Pulau Tidung adalah tujuan saya melepas penat. Semoga bisa terlupa sesaat pekerjaan yang ada, pulang dalam kondisi fresh, dan dapat melanjutkan tugas hingga akhir tahun sesuai dengan rencana.

Bersama keempat teman, @giewahyudi, @denignasher, Karina dan Goedel Mood yang kesemuanya adalah blogger pemenang kompetisi menulis yang saya selenggarakan. Dengan tiga nama yang belakangan saya sebut, saya belum pernah bertemu, meski secara maya sudah beberapa lama mengenalnya.

Hampir deg-degan nggak jadi berangkat bareng teman-teman blogger, karena Karina dan Denny datang di saat-saat akhir, perahu sudah akan berangkat menuju Pulau Tidung. Goedel sudah datang terlebih dahulu di pom bensin muara angke, tempat janjian kami bertemu. Tunggu punya tunggu, Karina masih di Kota dan Deny masih di daerah Ancol saat kapal yang pertama sudah berangkat. Untung, tak hanya satu kapal yang bertolak menuju Tidung, kami naik kapal ke dua.

Pulau Tidung

Perjalanan selama di laut lumayan seru, ombak cukup besar buat saya, @giewahyudi dan Mas Romy (penyelenggara tour n travel yang baik hati) yang duduk di dek atas haluan kapal. Menikmati panasnya matahari dan tiupan angin laut yang segar. Tak sempat tidur selama perjalanan, karena pemandangan lebih indah untuk dilewatkan.

Pulau Tidung

Burung-burung yang melintas dan deretan pulau dengan karakteristik yang berbeda, menjadi pemandngan sepanjang dua setengah jam terombang-ambing di atas lautan. Berangkat pukul 07.30 pagi dari muara angke dan mendarat jam 10.00 di Pulau Tidung.

Mas Romy, pemilik Bandar Pulau Tidung, menceritakan bahwa dirinya sudah kewalahan menerima pesanan saat libur Natal dan Tahun Baru. Semua home stay sudah full booked. Mas Romy sendiri masih akan membangun tiga pintu penginapan dan tempat bakar ikan, tepat di pinggir pantai. Hmmm, suatu saat jadi pengen balik lagi ke Pulau Tidung…

Pulau Tidung

Tiba di Pulau Tidung, kami serombongan langsung menuju penginapan yang sudah disediakan oleh Mas Romy. Sebuah rumah dengan AC yang sangat nyaman. Es syrup dingin langsung menawarkan dahaga selama perjalanan. Istirahat sebentar, menata tas di penginapan, dan langsung makan. Menu cumi goreng, ikan bakar dan sayur asem, hmmm nikmat!

Kami ditawari untuk istirahat selama satu jam sebelum nanti akan dibawa ke pulau Payung dan pulau Tidung Kecil untuk snorkeling. Tapi kami semua sepakat menolak untuk diam-diam saja di penginapan. Kami langsung mengambil sepeda yang terparkir di halaman rumah dan mengayuhnya ke bagian barat Pulau Tidung.

Pulau Tidung

Pulau Tidung

Ternyata, Pulau Tidung tak sekecil yang saya bayangkan. Saat jalan-jalan pertama kali ke Pulau Tidung, saya tak sempat menjelajah sampai ke bagian barat, yang pantainya juga ada beberapa spot yang bisa dikunjungi. Di depan kantor Kecamatan Pulau Tidung, terdapat taman dengan pepohonan yang rindang. Kami parkir sepeda di sana, dan berlari menuju pantai. Sayang, di atas pasir putihnya, tumpukan sampah menghalangi kami berlari-lari di sepanjang bibir pantai. Air laut dan awan di atas pantai sendiri tampak biru dan indah. Lumayanlah buat dinikmati. Tak terasa, sudah mendekati jam dua belas, saatnya untuk kembali ke penginapan, karena kami akan snorkeling. Yihaaa!

Alat-alat lengkap berupa snorkel, kaca mata, fin dan pelampung sudah disiapkan oleh Mas Romy. Kami mencobanya yang sesuai dengan ukuran. Daaaan, meluncurlah kami ke pantai, ditemani oleh seorang guide, Mas Anwar. Sebuah kapal khusus disewa untuk mengantar rombongan kami menuju spot-spot yang indah dengan karang dan ikan warna warni.

Bagi yang merasa nggak bisa berenang, tapi pengen bisa menikmati rasanya snorkeling di Pulau Tidung, nggak perlu khawatir. Ada pelampung yang menemani kita dan dipandu oleh guide yang sudah pengalaman. Teman-teman saya aja @denygnasher, Goedel Mood dan Karina dari awal juga mengaku sama seperti saya, nggak bisa berenang, tapi nyatanya, bisa berjam-jam menikmati pemandangan bawah laut Pulau Tidung Kecil. Sayang, ombaknya cukup besar saat itu, dan angin juga bertiup kencang, menjadikan semuanya lemas padahal masih pengen menikmati laut.

Pulau Tidung

Selesai snorkeling, masih dengan kapal sewaan, kami dibawa ke tempat yang paling dikenal di Pulau Tidung. Apa lagi kalau bukan jembatan cinta. Jembatan Cinta adalah jembatan yang menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Jembatan panjang terbuat dari kayu tersebut, memiliki bagian yang melengkung setinggi lima meter, dan sering dipakai untuk menguji nyali: terjun menuju laut. Sore itu, tak satupun dari rombongan kami berani mencoba. Mungkin juga karena sudah lelah melawan ombak saat snorkeling tadi. Akhirnya kami hanya bertepuk tangan saat ada rombongan lain yang terjun dari atas Jembatan Cinta Pulau Tidung.

Kembali ke penginapan, kami bergantian mandi. Makan malampun sudah terhidang di atas meja. Nyaamm, kami mengisi perut yang sudah kosong. Saya, lalu tertidur di depan televisi. @denygnasher tampaknya juga merem di kursi. @giewahyudi dan Goedel Mood mengobrol sambil minum kopi di teras depan, sedang Karina sambil leyeh-leyeh, nonton televisi. Sebenernya kami semua kecewa, karena rencana dari awal kami ingin foto-foto saat sunset, tapi waktunya sudah nggak kekejar lagi. Yah, SLR-nya @denygnasher nganggur jadinya.

Pulau Tidung

Jam delapan, semuanya dipanggil ke tepi pantai untuk menikmati ikan bakar dan minum es kelapa muda. Hmmm, nikmatnya… Sambil melihat bulan, meskipun cuaca tidak cerah dan sedikit mendung, segarnya angin pantai membuat suasana romantis. Tanya-tanya ke Mas Romy kenapa ikan bakarnya sangat enak, ternyata kuncinya ada di sambel kecapnya yang menggunakan kecap ABC Black Gold. Meresap dan kaya rasa, deh jadinya…

Setelah perut kenyang dan malam juga sudah larut, kami kembali ke penginapan, dan semua tergeletak tepar dengan suksesnya. Tak ingin melewatkan sunrise seperti halnya sunset kemarin, alarm sengaja distel jam 04.30 biar bisa siap-siap dulu. Lanjut dengan tidur nyenyak. Dinginnya AC sudah nggak dirasa lagi, badan capek semua, dan kami kompak berucap: Selamat Malam…

Pulau Tidung

Sesuai dengan alarm, kami semua bangun tepat waktu. Nggak ada yang mengeluh kecapean, semuanya semangat ingin mengejar sunrise. Jam lima, kami mengayuh sepeda menuju Jembatan Cinta, dimana matahari yang cantik biasa memunculkan diri. Apa daya, jembatan cinta pagi itu terlihat tak bergairah. Langit mendung. Fotografer dengan kamera-kamera SLR yang lebih dulu tiba di Jembatan Cinta juga lunglai. Sepertinya bakal gagal mendapatkan objek buruannya. Kami serombongan memutuskan berjalan melintasi jembatan menuju Pulau Tidung Kecil. @denygnasher menangkap beberapa moment dengan SLR-nya, meski tak seindah sunrise jika cuaca cerah.

Pulau Tidung

Di tengah jembatan, kami mendapati tangan usil yang mencoba membakar jembatan. Hampir tidak mungkin puntung rokok biasa penyebabnya, karena angin sangat besar dari kemarin, jadi kalaupun ada yang membuang puntung rokok sembaranganpun pasti akan jatuh ke laut. Jembatan Pulau Tidung berasap dan tiangnya suda terbakar hampir seperempat bagian. Kami berusaha memadamkannya dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Tidung Kecil, hujan gerimis menyambut kami. Untungnya, ada pondok penjual makanan tepat di bibir pantai. Kami berteduh sambil mengisi perut. Mie instan, bakwan yang masih mengepul dan secangkir kopi, menghangatkan badan. Lanjut ke makam panglima hitam saat hujan reda.

Pulau Tidung

Pulau Tidung Kecil tidak berpenghuni. Namun demikian, ada rumah penjaga yang pada siang hari ada petugasnya. Untuk mencapai makam panglima hitam, harus berjalan melewati semak-semak dengan rumput ilalang setinggi dada. Siap-siap dengan celana dan kaos lengan panjang jika tak mau kulit tergores yang bisa mengakibatkan badan gatal-gatal. Panglima hitam adalah seorang yang dipercayai sebagai pahlawan saat melawan penjajah Belanda. Ada juga beberapa makam anak buahnya yang tersebar di Pulau Tidung Kecil.

Pulau Tidung

Nah, bagian yang paling asyik adalah pantai pasir putih yang tersembunyi di sudut pulau tidung kecil. Jika di Pulau Tidung Besar anda mendapati banyak sampah di bibir pantai, di Pulau Tidung Kecil: BERSIH!

Saya dan kawan-kawan rasanya nggak pengen balik dari pantai di Pulau Tidung Kecil ini. Tapi apa daya, waktu terbatas, jadi kami bergegas mengakhiri keindahan pulau tidung kecil. Sarapan sudah menanti di seberang jembatan cinta. Mas Romy dan istrinya mengantarkan sarapan di pantai, sehingga kami bisa menghabiskan waktu dengan mencoba meloncat dari Jembatan Cinta.

Anak-anak kecil dan remaja lokal seolah mengejek keberanian kami dengan bolak-balik terbang di udara dan menjatuhkan diri ke dinginnya air laut. Beberapa pengunjung mulai panas dan menjajal keberanian mereka. Byuur, melompatlah ke dalam laut dari ketinggian lima meter. @giewahyudi akhirnya 3 kali melompat, setelah saya tantang dengan iming-iming hadiah. 😆 Karina juga sangat pemberani, terjun dari Jembatan Cinta, meski ditungguin @giewahyudi di bawah untuk dituntun berenang ke tepian. Saya? Cukup menonton dan bertepuk tangan saja.

Pulau Tidung

Puas, akhirnya bisa menikmati libur akhir minggu dengan teman-teman blogger yang baru saya kenal. Pulang ke penginapan, mandi, dan kapalpun sudah menanti di pelabuhan siap membawa pulang kami menuju Jakarta. Di atas kapal, mencari posisi enak buat tidur. Saya, @giewahyudi dan Goedel Mood tergeletak tak berdaya. Karina saya lihat menyender di tiang kapal. Sedangkan @denugnasher, entah kenapa, energinya seperti tak habis-habis: menikmati cipratan air laut yang menerpa masuk ke dalam kapal.

Jam tiga, kapal mendarat di muara angke. Bau amis yang sangat menyengat, membuat perut lapar menjadi mual. Kami naik angkot B01 jurusan grogol dan berpisah dengan Goedel Mood yang melanjutkan perjalanan ke Depok dengan bis patas AC. Sisanya, naik busway menuju Harmony.

~~~

Foto hasil jepretan saya dan @denygnashher. Mau foto lengkap? Lihat di Facebook saya ya. Terimakasih pada Mas Romy. Yang pengen jalan-jalan ke Pulau Tidung bisa kontak Mas Romy di 0857-1616-9794