Magnum Cafe Pertama Di Dunia

Sudah kenal dong dengan Magnum Ice Cream? Ya, es krim keluaran Wall’s yang dibuat dari coklat Belgia dengan cita rasa mewah itu, Kamis 24 Februari 2011 lalu untuk pertama kalinya di dunia, membuka sebuah kafe, Magnum Cafe, untuk menikmati lezatnya es krim Magnum dengan cara berbeda.

Saya menjadi salah satu dari sembilan blogger yang diundang menghadiri acara pembukaan tersebut, bertempat di lantai 5 West Mall Grand Indonesia. Dress code yang ditentukan adalah Victorian Royal, tapi berhubung saya harus mengurus beberapa hal sebelum ke acara tersebut dan tidak memungkinkan berganti-ganti baju, ya sudahlah, tampil apa adanya dan menyalahi dress code.

Begitu masuk, suasana nyaman langsung terasa. Dan awalnya, saya berpikir dan membayangkan akan seperti apa menu-menu yang ditawarkan oleh Magnum Cafe. Yang namanya es krim, bisa diolah jadi apa sih? Paling ya begitu-begitu aja, pikir saya. Dan saya salah besar!

Aldo Volpi, chef terkenal asal Italia, mengkreasikan berbagai macam masakan lezat dari mulai appetizer, main course, hingga dessert dan mocktail, yang rasanya benar-benar yummy. Nama-nama menu yang tersedia di Magnum Cafe antara lain Waffle De Aristocrat, Goblet of Chocolate, Razzle Dazzle, Crown Jewel, Pas De Trois, A Knight’s Tale, Court Jester, The Emperor, Commander’s Fried Rice, Royal Kingdom, Summer Tango, Truffle Royale, dan Ice Queen.

Jika anda ingin membuat sendiri es krim Magnum dengan topping sesuai dengan selera, di Magnum Cafe-lah tempat satu-satunya. Di booth Magnum Dipping seperti ini, es krim Magnum bisa anda celup sendiri ke dalam coklat Belgia, dan menambahkan topping sesuai selera. Saya sendiri, mencoba berbagai menu yang disediakan. Enak, dan tidak eneg. Soal harga, bervariasi mulai dari Rp. 20.000,- hingga Rp. 165.000,-

Apa rekomendasi Chef Aldo Volpi jika bingung memilih menu di Magnum Cafe? Inilah dia: Waffle De Aristocrat yang dibanderol dengan harga Rp. 35.000,- saja!

Meski hanya direncanakan buka sampai bulan Mei saja (3 bulan), Magnum Cafe menyiapkan banyak kompetisi seru seperti Video Competition yang berhadiah voucher belanja senilai Rp 10 juta dan special shopping spree bersama Brand Ambassador Magnum Marissa Nasution, kompetisi konsep pesta “Crack Your Royal Party with Magnum” yang mewujudkan pesta impian sang pemenang, serta “Journalist Feature Writing Contest” yang berhadiah tiket liburan ke Bali dan Spa di W Hotel Bali untuk dua pemenang.

Teman-teman blogger, kalau mau ikutan “Journalist Feature Writing Contest” bisa tuh. Lumayan hadiahnya jalan-jalan ke Bali! Cobain dulu Magnum Cafenya ya, karena hanya akan buka 3 bulan.

Jika ingin mendapatkan informasi terbaru seputar Magnum dan kegiatannya bisa didapat dengan bergabung dalam Magnum Facebook Fan Page di MyMagnumID, follow twitter @mymagnumid, atau dengan mengunjungi situs resmi Magnum www.mymagnum.co.id.

SimPATIzone FMM, Nobar Gratis Pasti Seru

Hari Jum’at, 18 Februari 2011, sepulang kerja saya langsung menuju Plasa Senayan. SimPATIzone Friday Movie Mania memang diselenggarakan di 21 Plasa Senayan, berbeda dengan NobarsimPATI yang selama ini diadakan di Blitz Megaplex Grand Indonesia, dan sempat juga pertama kali (film Robin Hood) di Pacific Place 12 Mei 2010 (OMG, saya masih ingat tanggal tepatnya!).

Saya memang penggemar setia program bagi-bagi tiket nonton gratis dari SimPATI sejak pertama kali diadakan. Hampir selalu tak melewatkannya, dari permulaan dulu ketika pemenangnya ditentukan melalui kuis-kuis kreatif, hingga kini harus menukarkan 100 poin dari nomer Telkomsel kita. Buat saya, lebih praktis dengan menukarkan poin, karena sampai sepuluh tahun ke depanpun, poin saya hari ini tak akan habis jika ditukar dengan tiket nonton gratis. 😆

NobarsimPATI, atau kini dikenal dengan nama SimPATIzone Friday Movie Mania, buat saya lebih dari sekedar nonton film. Acara itu menjadi tempat ketemuan (kopdar) dengan beberapa blogger yang belum pernah bertemu sebelumnya, dan juga tempat ketemuan dengan teman-teman yang aktif di twitter. Di antara beberapa blogger ada Eka Situmorang, Mendrofa, Helga, dan terakhir Arul yang kopdar di acara NobarsimPATI. Teman-teman twitter tak terhitung lagi banyaknya yang bertemu, di antaranya adalah @iniRudy, @icit_, @iin_anggreni, @misshyukjae, @rahneputri, @viniagustina, @debhoy87, @saifulmuhajir, @atemalem, @venniem, @ridu, dan @giewahyudi.

Tulisan-tulisan saya tentang serunya nonton di acara NobarsimPATI yang lalu, secara lengkap ada di sini, di sini, di sini, di sini, di sini dan di sini.

Memang tak sebanyak jumlah film yang saya tonton, karena tak setiap habis nonton saya tulis ceritanya di blog ini. Tapi setidaknya ada 6 tulisan saya di atas tentang acara nonton gratis ini. Mau ikutan juga? Follow aja ya twitternya @nobarsimpati, karena informasi nonton gratis ini akan dibagikan setiap kali program diadakan. Nggak hanya buat pelanggan Telkomsel di Jakarta saja seperti saat NobarsimPATI dulu, kini SimPATIzone Friday Movie Mania ada di 11 kota, yaitu: Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Palembang, Medan, Balikpapan, dan Makassar.

Tetapi, entah seperti apa nasib acara ini ke depannya, jika benar film asing dibatasi peredarannya di bioskop dalam negeri. Semoga saja tidak terjadi pembatasan film asing, supaya program NobarsimPATI SimPATIzone Friday Movie Mania ini juga bisa tetap jalan.

Nonton kemarin filmnya 22 Bullets, sebuah film yang mengisahkan seorang mafia yang sudah berhenti, Charly Mattey, tetapi terpaksa kembali membunuh karena membalas dendam atas kematian seorang temannya yang dibunuh secara sadis. Cerita bermula dari Mattei yang selamat dari upaya pembunuhan dirinya, meski telah tertembus 22 buah peluru.

Serukah filmnya? Seru dong. Apalagi nontonnya gratisan. Yang lebih seru lagi, karena film yang ingin kita tonton, bisa kita tentukan sendiri. Bisa memilih judul film bergantung kesukaan kita adalah sebuah perubahan baru yang saya suka dari SimPATIzone Friday Movie Mania. Cuma, buat yang di Jakarta, popcorn dan cola-nya kenapa ilang ya? 😳

Semoga SimPATIzone Friday Movie Mania ini bukan yang terakhir, karena film Hollywood tidak bisa diputar lagi di Bioskop di Indonesia. Sayang sekali jika keseruan setiap kali nonton harus berakhir hari Jum’at kemarin. 😥

Berburu Sorabi Hijau Rengasdengklok Hingga Kelenteng

Akhir pekan lalu saya pengen banget makan sorabi hijau rengasdengklok yang terkenal itu. Jauh sebelum para artis seperti Tukul yang juga pernah berkunjung ke sana, lebih sepuluh tahun lalu saya sudah sering membeli. Melewati Kali Citarum, saya dan teman menyeberang dengan menggunakan eretan, perahu kayu yang ditarik dengan tenaga orang. Sekali lewat, membayar Rp. 1.000,- untuk sepeda motor, dan Rp. 5.000,-

Sesampainya di seberang sungai Citarum, sudah masuk wilayah Rengasdengklok, dan langsung ambil gambar Tugu Rengasdengklok, atau yang bernama resmi Monumen Kebulatan Tekad. Sebagai penanda, bahwa di tempat itulah Bung Karno dan kawan-kawan diungsikan dan menulis teks naskah proklamasi. (CMIIW, lupa-lupa ingat pelajaran Sejarah, hehe..) Tak jauh dari Tugu Rengasdengklok itulah tukang sorabi hijau yang terkenal itu berada.

Sesampainya di warung sorabi hijau H. Kasim di Rengasdengklok (kira-kira 75 km dari Jakarta), ternyata sudah sangat ramai dengan pembeli. Maklum, hari itu hari Minggu, banyak mobil plat B yang datang membeli sorabi. Warung ini memang tidak buka cabang di manapun, jadi ya kebayang ramainya. Dan saya diminta menunggu dua jam kalau mau beli sorabi hijau itu!

*&%#$* Kesel, tapi mau gimana lagi? Udah jauh-jauh ke Rengasdengklok, kalo nggak jadi beli dan pulang lagi kan lucu. Ya sudah, kami pun memesan sorabi dan memutuskan jalan-jalan dulu tanpa tujuan di Rengasdengklok. Menyusuri jalan Irigasi menuju ke Kecamatan Batujaya, kami membaca plang adanya sebuah Candi sekitar 5 kilometer. Tapi kata orang, setengah jam berkendara motor, saya jadi meragukan bacaan 5 kilometer, hehe…

Akhirnya kami berputar menuju pasar Rengasdengklok saja. Tak tahunya, di sebelah kanan jalan, kami menemukan sebuah Kelenteng yang kelihatannya bagus dari pinggir jalan. Memberanikan diri meminta ijin penjaganya untuk foto-foto masuk ke dalam Vihara, dan diperbolehkan. Asyik!

Vihara Buddha Sasana Rengasdengklok, yang dibangun pada tahun 1950, setiap akhir pekannya ramai dikunjungi oleh warga Tionghoa yang akan berdoa. “Barusaja tadi 6 bis dari Jakarta pergi. Tadi ramai sekali di sini. Dan nanti tanggal 10 April 2011 akan ada perayaan besar di sini, perwakilan Vihara dari berbagai daerah akan hadir,” kata penjaga Vihara.

Selama satu jam kami foto-foto dan istirahat di Kelenteng tersebut. Pas balik lagi ke warung sorabi hijau, sorabinya sudah matang. Satu kardus berisi 10 buah sorabi berharga Rp. 15.000,- Pesanan saya 3 kardus sudah dimasukkan ke dalam tas. Satu untuk Bulik, satu untuk Sepupu saya, dan satu dibawa pulang ke rumah. Makan sorabi hijau!

[Semua hasil foto diambil dengan Nokia N8]