Baikkah Blogger Hanya Mengulas Topik Sesuai Keinginannya?

Pada akhirnya, saya menyadari, keinginan untuk menambah jumlah trafik ke dalam blog membuat saya membabi buta dalam membuat konten di blog saya selama ini. Karena saya berpatok pada hukum jual-beli bahwa pembeli adalah raja. Sehingga apapun permintaan pembeli harus dipenuhi. Dalam hal blog, saya menganggap pembaca adalah raja sehingga konten yang saya isi pun harus memenuhi keinginan pembaca.

Artikel ini, Enigma, Blog Pengungkap Misteri, menyadarkan saya bahwa apa yang saya pikirkan mengenai konten dan pembaca sama sekali berbeda. Apa yang saya baca mengenai artikel tersebut di luar jalur berpikir saya selama ini. Orang-orang menyebutnya out of the box.

Saya mengutip sebuah kalimat dari artikel tersebut yang berbunyi: “… jika saya tidak enjoy menulisnya, maka saya rasa, tulisannya akan menjadi tulisan yang jelek.” Dan tulisan yang jelek, biasanya sepi pengunjung. Karena pengunjung adalah manusia biasa yang ingin mendapatkan info dari apa yang kita tulis. Lagipula, menurut saya – meminjam istilah dari pemilik blog Enigma tersebut: “Keinginan pembaca itu bermacam-macam. 100 pembaca tentu akan punya 100 keinginan.”

Dengan berpatokan pada pemahaman baru tersebut, lalu saya berpikir kenapa tidak membuat konten blog / web yang berbasis pada diri saya sendiri? Jika bergitu, konten yang bagaimana yang berbasis pada diri saya sendiri?

Kembali lagi ke judul di atas: baikkah blogger hanya mengulas topik sesuai keinginannya? Topik apa yang menyenangkan bagi seorang blogger atau topik apa yang dikuasai blogger. Masing-masing blogger memiliki jawaban atas ketertarikan dan penguasaan topik sesuai selera sendiri-sendiri. Ini kesimpulan saya. Pemilik blog Enigma menulis di blognya mengenai analisis-analisis misteri. Saya sendiri memiliki kecenderungan menulis hal-hal berbau horor – baik ulasan, kisah nyata, maupun cerpen (fiksi).

Gara-gara saya menerapkan hal ini, pelan-pelan jumlah trafik blog saya meningkat lumayan signifikan selama dua bulan ini. Ketika saya melihat catatan analisis trafik blog, saya lebih terkejut lagi. Ternyata selama ini trafik blog saya selalu meningkat dari waktu ke waktu. Walau kabar baik, namun belum bisa dipetik hasilnya, karena jumlahnya belum mencukupi dari target yang saya harapkan.

Nah, bagaimana menurut Anda mengenai ulasan saya ini?

~~~

Tulisan ini karya Chucky, pemilik Cerpen Horor.

Mau menulis juga untuk isnuansa.com? Baca caranya di sini.

Apakah Konten Tetap Selamanya Menjadi Raja ?

Content is the kingAnonymous

Saya yakin Anda sudah begitu familiar dengan quote yang satu ini. Tak jarang pula Anda temui blog-blog yang sekiranya tak pernah bosan membahasnya.

Namun sayang, sepertinya semua orang terlalu percaya dengan ini.

Konten yang bagus, sempurna sekalipun, tidak akan bisa menjadi raja.

Kenapa ?

Karena sehebat dan sepintar apapun seorang raja, yakinlah bahwa raja butuh lebih dari dirinya.

Apa itu ?

Kerajaan. Ya, seorang raja butuh sebuah kerajaan untuk wilayah kekuasaannya. Ia butuh prajurit untuk melindungi dirinya. Ia butuh rakyat untuk menunjang ekonominya. Ia butuh seorang penasihat untuk membantu memikirkan rakyatnya. Ia butuh beberapa panglima untuk mengatur siasat dan memimpin jalannya perang. Bahkan, ia pun butuh permaisuri yang bisa menghilangkan rasa khawatir, stres dan sedih yang dialaminya.

Sama halnya dengan urusan blogging. Mungkin benar konten adalah raja. Namun, apa yang terjadi saat tak ada satupun orang yang membacanya ? Saat bagian penting dari kerajaan itu sendiri tidak ada ?

Ya. Anda benar. Lebih baik bila Anda menyebut bahwa konten memang berharga, konten juga penting. Tapi bukan berarti konten adalah segalanya.

Konten adalah raja yang melayani pengunjung sebagai rakyat. Konten juga butuh social media sebagai ratu pemerhati sang raja. Terakhir, konten butuh search engine sebagai lahan ekonomi kerajaan.

Bayangkan! Saat sang raja berdiri sendiri dengan gagahnya tanpa itu semua, apa seluruh orang di dunia ini mengenalnya sebagai raja yang sesungguhnya ?

Bagaimana menurut Anda ?

 

Hal yang sebaiknya Anda lakukan selanjutnya: Cobalah untuk meluangkan sedikit waktu anda untuk membagikan artikel ini, setidaknya kepada seorang teman anda, sehingga mereka juga bisa mengerti dan segera paham bagaimana nasib konten sebagai raja bila hanya mengandalkan kemampuannya sendiri.

Atau, anda hanya ingin berbagi pendapat dengan saya ? Ayo berkomentar!

Salam sukses.

 

Muflich Kamil 😀