Cara Memulai Bisnis Online untuk Pemula

Oleh Rio Quiserto, Pemilik Blog Mengelola Keuangan www.Duwitmu.com

Besarnya jumlah internet users di Indonesia membuat peluang bisnis online sangat menjanjikan. Apalagi, bisnis online dipandang sebagai bisnis dengan modal kecil dibandingkan bisnis offline. Namun, ada sejumlah prinsip dalam cara memulai bisnis online untuk pemula yang perlu diperhatikan. Banyak pemula yang melakukan kesalahan dalam memulai bisnis online. Akibatnya, bisnisnya kurang berhasil dan tidak dapat menghasilkan profit, meskipun sudah banyak upaya dilakukan.

Internet users Indonesia per 2012 sudah mencapai 63 juta orang, sesuai survei APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia). Pertumbuhannya cukup dahsyat, 30% setahun, sehingga diprediksi jumlahnya akan melonjak menjadi 107 juta orang di 2014. Bayangkan, penduduk Jakarta yang sudah sepadat ini, jumlahnya baru 10 juta orang. Pengguna internet 10 kali jumlah penduduk Jakarta. Bisnis di internet jelas bukan pasar yang kecil.

Yang lebih menjanjikan lagi, lebih dari 20% pengguna internet melakukan transaksi online dalam 3 bulan terakhir. Pasar online Indonesia tidak hanya besar tetapi juga menjanjikan.
Tidak heran banyak yang berlomba – lomba terjun ke bisnis online. Mulai dari yang menggunakan media sosial, seperti facebook, twitter, instagram, sampai dengan yang serius membangun websitenya dengan berbagai strategi promosi seperti Search Engine Marketing (SEM) dan Search Engine Optimization (SEO). Menimba uang dari internet dilihat sebagai peluang bisnis baru yang sangat menjanjikan. Yang tertarik berbisnis online, pastikan baca lanjutannya.

Bagaimana Sih Karakteristik Tulisan Blog Yang Oke Itu?

Dari pengalaman pribadi, membaca artikel blog memang berbeda dengan membaca artikel di media cetak. Selain mata cepat lelah karena lama menatap layar monitor, banyaknya distraksi di dunia maya membuat pembaca blog rata-rata menginginkan sesuatu yang langsung dicerna. Jadi tak heran jika teknik fast reading maupun fast scanning menjadi fenomena paling hot sepanjang hayat.

Wajar saja, pembaca blog sebagian besar berkunjung dengan satu tujuan khusus: yang nyasar dari google dengan kata kunci tertentu berharap artikel yang dibaca bersifat up to date dan bisa langsung dipraktekkan; yang datang dari referensi situs lain berharap artikel yang ada bisa memperjelas topik yang ada; dan yang datang dengan maksud nyepam, ya tinggal scroll mouse cepat-cepat ke bawah dan menyerbu kotak komentar *hehe. Ayo baca dulu sisa tulisannya, baru komentar ya!

Jadi Kita Pindah Ke Gas Alam Aja, Nih?

Sebulan belakangan ini, apa yang jadi perbincangan hangat di kalangan ibu-ibu rumah tangga seperti saya? Yak, betul. Kenaikan harga gas elpiji. Bikin pusying kepala kan ya? Yang biasanya cukup bayar 80an ribu satu tabung 12 kilogram, sempet melonjak hingga 140an ribu. Meskipun sekarang secara resmi harganya sudah diturunin lagi, tapi fakta di lapangan tetep saja harganya masih jauh di atas harga resmi. Alasan pedagang klasik, harga belinya waktu harga sudah naik, jadi ngabisin stok dulu. Ada juga yang beralasan pasokan gas langka, jadi tetep saja, konsumen yang mau nggak mau jadi korbannya.

Mama saya, biasanya paling tabah kalau soal kenaikan harga. ‘Emangnya kita bisa apa kalau harganya musti naik?’ begitu selalu kata Mama saat harga BBM naik, yang otomatis juga berimbas kepada seluruh harga, seperti sembako yang setiap hari dibelinya. Tetapi kenapa kemarin dia seperti menggumam ya, ‘Apa nggak ada alternatif, sih, selain masak pakai elpiji?’ tanyanya.

Mau saya becandain kok rasanya nggak tega juga ya. Padahal udah ada tuh di ujung mulut kalimat ‘Bisa sih, Ma, pakai kompor minyak aja, lagi.’

Jadinya kepikiran juga. Selama ini kok ya kayak cinta monyet aja kita ini sama elpiji. Dibutain perasaan kita, sehingga selalu bergantung terus. Hahahahaha…

Pas selo, saya coba cari tahu, apa alternatif yang bisa digunain buat mengganti bahan bakar untuk memasak di rumah, selain elpiji. Pertama, ketemulah kompor listrik. Tetapi begitu tahu ukurannya besar (rata-rata di atas 500 watt), langsung pingsan. Padahal belum ngitung secara matematis, tetapi 500 watt, dikali berapa puluh menit sehari (waktu yang dibutuhkan untuk memasak), dikali satu bulan itu pasti ketemunya angka yang sangat besar. Apalagi tarif dasar listrik bakalan semakin naik karena subsidinya juga semakin diperkecil sama pemerintah. Ah, nggak jadi deh. Continue reading “Jadi Kita Pindah Ke Gas Alam Aja, Nih?”