3 Hari Di Jawa Timur

Perjalanan saya ke Surabaya diawali dengan badan yang lumayan lelah setelah 5 hari jalan-jalan di Padang. Hari Minggu, pesawat yang saya tumpangi delay hampir dua jam lamanya di Bandar Udara PDG. Sesampainya di CGK sudah jam 22.00 dan saya tiba di rumah sudah lebih jam 24.00, artinya hari Senin. Siangnya, saya sudah harus balik lagi ke bandara buat ke SUB dan menempuh 4 jam perjalanan darat menuju Hotel Merdeka yang terletak di Kota Madiun.

Ada yang menarik dalam penerbangan menuju Surabaya. Pesawat yang saya tumpangi adalah pesawat tujuan Kupang yang transit di Djuanda. Dan untuk kali pertama, suasana di dalam pesawat mirip dengan pasar berisiknya. Maaf, bukannya mau menjelekkan kawan-kawan dari daerah tersebut, tapi memang perjalanan yang sudah melelahkan buat saya dan berharap bisa istirahat di pesawat yang biasanya sepi dan lengang itu, pupus sudah. Teriakan demi teriakan ada di mana-mana. Setelah itu, berombongan beberapa penumpang hilir mudik, ke toilet dan mengambil barang-barang di loker atas. Dan ketika flight attendant yang berjenis kelamin laki-laki (dan ganteng pula 😳 ) lewat, segerombolan ABG dengan rambut yang dire-bonding tertawa-tawa keras setelah berbisik-bisik di antara mereka. Bernyanyipun, suara yang mereka keluarkan bukan senandung lirih, melainkan seperti di depan loud speaker yang terletak di atas panggung. Beberapa mata mendelik ke arah mereka saya lihat dari beberapa penumpang tujuan Djuanda, tapi ya mereka acuh. Woalah, memang ada-ada saja. Mungkin karena hampir seluruh penumpang tujuan Kupang itu satu rombongan kali ya. Kalau penumpang perorangan, saya yakin juga tidak seperti kondisi tersebut.

Saya dan rombongan memesan Hotel dari Jakarta. Katanya sih The Best Hotel in Town. Harganya juga mirip (bahkan lebih tinggi mungkin) dengan bintang tiga di Jakarta seperti Kaisar, tapi pas masuk saya syok, kok bisa dengan harga yang sama dengan Jakarta, tapi kondisinya jauh berbeda. Ya sudah, memang tak ada pilihan lain. Check in sudah hampir jam 23.00 dan lapar; makanya makan dulu.

Nasi Goreng Lamongan

Dari daftar menu, hanya ada beberapa yang bisa diorder, yang lainnya sudah nggak bisa. Akhirnya saya pesan Nasi Goreng Lamongan. OMG, ternyata itu mirip tiga porsi dalam satu piring. Padahal sudah tengah malam, ya nggak mungkin lagi bisa selera makan banyak. Nasi Goreng Lamongan itu nasi goreng yang dicampur dengan mie dan sayuran seperti kol, toge dan sawi. Ada ayam goreng dan telur rebus yang dibelah empat sebagai teman makan nasi goreng itu. Enak sih, tapi porsinya kejumboan.

Subuh sudah harus siap-siap, sarapan, dan jam 07.00 meluncur dari hotel buat jalan ke Jombang, Nganjuk, Madiun dan Mojokerto. Tiga hari saya dan rombongan seperti itu. Nggak terlalu menarik sih, kalau saya ceritakan. Nanti tulisannya kepanjangan.

Sebelum pulang ke Jakarta, saya sempat kopdar dengan Rusa yang nyusul ke bandara. Saya ditraktir RotiBoy dan dikasih gantungan kunci oleh-oleh dari jalan-jalan ke Malaysia selama 12 hari lalu. Makasih ya Rusa :-* Obrolan kami nggak lain ya soal blog (Pacar jangan cemburu ya 😳 ).

Ada satu lagi cerita yang nyebelin. Dari bandara, seperti biasa saya naik Damri pulangnya. Karena sudah jam 22.00, Damri tujuan Cikarang sudah habis, naiklah saya jurusan Bekasi dengan maksud nanti turun di Jati Bening dan melanjutkan dengan bus tujuan Cikarang. Karena lelah, saya tidur dan kebablasan. Bangun-bangun sudah bingung di terminal Jati Padang, Bekasi. Ditawarin taksi tapi semua pengen borongan dengan harga yang nggak masuk akal. Mentang-mentang sudah hampir jam 24.00. Untung saya tak kehilangan akal, saya telpon teman yang saya tahu belum tidur tengah malam, dan rumahnya di deket situ. Minta dicariin taksi dan dijemput ke terminal Jati Padang. Dan benar, sampai Cikarang dengan argo hanya Rp. 60.000,-. Tapi karena si Sopir curhat kalo dia harus berada di pool jam 00.30 dan pasti bakal terlambat, biaya keterlambatan adalah Rp. 10.000,- per jam, ya saya bayar Rp. 70.000,-. *dadah-dadah sama si teman yang baik nganterin taksi 😀 *

Dari Surabaya, oleh-olehnya seperti ini nih, dilarang ngiler ya. Ini buat mama tercinta di rumah, yang ditinggal anaknya mulu. :p

Krupuk Rambak

Sambel Pecel

Bandeng Asap

Lidah Sapi Asap

Oiya, tanya dong teman-teman, biasa nyimpen foto-foto secara online di mana? Eksternal disc saya mulai penuh, karena sekali jalan bisa beberapa GB foto yang saya kumpulkan. Diaplot ke Facebook kan direduce ya ukurannya, jadi berkurang kualitasnya. Flickr saya bukan akun pro, dan Picasa ribet aplotnya satu-satu, nggak kaya Facebook yang bisa beberapa foto sekaligus. Adakah penyimpanan online yang gratis dan bagus?

51 thoughts on “3 Hari Di Jawa Timur

  1. kalau pergi ke suatu daerah pasati ada makanannya yang khas,yang merupakan kekayaan budaya kuliner Indonesia,ngomong@ makanannya komplit banget apa dicobain semuannya mas?

    1. Itu pengalaman pertama berisik di dalam pesawat. Kalau pas lagi nggak capek sih sebenernya nggak bakalan terlalu kesel. Tapi berhubung butuh istirahat dan akhirnya nggak bisa, ya dongkol juga. 🙂

    1. Lha di Surabaya cuma transit aja, kok. Nggak ada satu jam di Surabaya. Sisanya keliling.

      *Catet di agenda: Nasi Bebek deket Tugu Pahlawan enak.*

  2. Loh ko nyambung ya sama postingnya mas gie? *ahemmm* Itu si rusa curang bgt, mbak nunik di kasih gantungan kunci.. aku yang katanya di oleh-olehin milo sampe sekarang gak dikasih,,, *tumpulin tanduk rusa*

  3. mudah2an kesan pertama yang gak mengenakkan tak terulang lagi ya…. danbisa berkunjung lagi ke surabaya, mojokerto, jombang, nganjuk bablas ke madiun… ada banyak oleh2 khas di Jatim lhoo… kalau krupuk rambak paling mak nyus rambak kerbau produk TUlungagung…
    Salak kenal salam persahabatan
    purwanto selesai posting Mantra Google

  4. Wah nginepnya di hotel mana tuh? banyak kok hotel bagus di Sby, kalau teman-teman backpacker biasanya ambilnya di hotel Paviljoen (banyak bule eropa juga di sana, karena hotelnya sudah terkenal di Eropa). Bisa di baca di tulisan saya di sini http://dila.blogdetik.com/index.php/2011/02/26/sht-menyusuri-peradaban-china-di-surabaya/

    Oleh-oleh khas Mojokerto jangan lupa Onde-onde Bo Liem (banyak tokonya, tapi paling seru kalau ke rumahnya langsung awal mula munculnya onde2 Bo Liem).

    Salam kenal

  5. Waaah, Menyenangkan kan di Jawa Timur 😀
    Enak tuh Sambel Pecelnya . . .
    Emmm… kalo mau nyimpen foto mungkin bisa di Photobucket Mbak 🙂

  6. daripada koment masalah makanan krn hanya bikin saya lapar saja jadi koment mnjawab pertanyaan saja, daripada di upload lbh baik beli lagi hard disk external lagi karena klo di upload takut terjadi apa2, *antisipasi sejak dini 🙂
    shaleh selesai posting Kiriman dari IdBlogNetwork

  7. Mbak Isnuansa, kapan nich ke Malang. Kalao di Malang ada Nasi Goreng Pak Ji di stasiun kota baru yang harganya 20K tapi bisa buat orang 5 porsinya. Dan yang lebih lucu lagi perkenalanku dengan Nasi Goreng Pak Ji itu gara-gara salah porsi….bisa dibayangkan begitu lihat porsi nasi gorengnya seperti lihat gunung Bromo….
    fatmasnow selesai posting Sodara Pindahan Rumah Asiknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge