Ana Haniinu Anti

Aku baru bisa menghela nafas lega setelah dari pagi disibukkan dengan pekerjaan yang nggak ada habisnya. Melayani bos yang kedatangan banyak sekali tamu, sehingga harus menyiapkan setumpuk berkas yang dibutuhkan. Belum lagi urusan memesan makan siang, kopi dan melayani kebutuhan lainnya. Fyuh, capek juga kaki ini jadinya.

Rasanya sangat nikmat bisa menikmati makan siangku, meski kini sudah hampir dingin. Secangkir kopi panas bisa menggantikan sedikit kekecewaanku karena terpaksa harus terlambat makan. Senyum cerah kembali bisa menghias bibirku. Hmmm, akhirnya bisa istirahat juga. Sambil meluruskan kaki, kubuka facebook untuk menyapa teman-teman.

Dan ternyata baru kusadari, handphoneku tak kulihat sejak aku tiba di kantor sampai saat ini sudah hampir sore. OMG, ada 7 missed calls selama hand phone itu kutinggalkan di dalam tas. Nggak terlalu panik juga sih, karena handphone yang satu itu bukan nomer utama, jadi masih bisa menunggu kalopun nggak sempat keangkat.

Aku lihat dari siapa missed calls tersebut berasal. Kok, deretan angka yang sama sekali tak ku kenal ya? Dan itu nomer luar negeri. Tapi, siapa?

Sama sekali nggak ada clue. Bos sedang di Indonesia. Dan dia malah nggak tahu nomerku yang satu itu. Salah satu teman bos yang sedang menemani istrinya berobat di luar negeri juga nggak tahu nomer yang itu. Ah, sudahlah, ngapain pusing nebak-nebak dari siapa, mending ditanya langsung aja.

“Siapa ya?”

SMS dikirim…

SMS diterima…

Tunggu 5 menit, nggak ada jawaban. Lupain aja deh, mending balik lagi ke facebook. Baca status dan komentar di status teman-teman.

~~~

Bis kota yang kutumpangi malam ini sudah mulai memasuki pintu tol ketika handphoneku bergetar tanda ada sebuah SMS yang masuk.

Your fan from Riyadh. Kayfa haluk ukhti? Ana haniinu anti…

Owh, please, adakah seorang penerjemah di atas bis kota ini? Aku membatin.

Dengan menyebutkan kata Riyadh, aku langsung tahu dari siapa SMS ini berasal. Dan, owh, damn, sejak kapan ingatanku sangat pendek hingga tak mampu menebak siapa orangnya dari tadi sejak adanya missed calls?

Empat hari setelah Lebaran memang ia telah mengabari akan meninggalkan Indonesia, dan aku memilih untuk tidak berkomentar banyak. ‘Buktiin aja’ jawabku singkat padanya. Dan komunikasi terputus semenjak itu.

Aku masih belum bisa menghilangkan kekecewaanku. Ketidakjujuran atas kepercayaan adalah hal yang sulit untuk dilupakan.

Ternyata lo buktiin jg ke sana. Gw ga tau bhs lo. Gmn, sehat? Aku berbasa-basi menjawabnya.

Sampai saat ini aku masih belom bisa mengambil sikap apa yang akan kulakukan kemudian. Banyak sekali pertanyaan ‘Bagaimana Jika’ yang terlintas di kepala.

~~~

Aku butuh kopi lagi pagi ini. Untuk yang kelima kali.

~~~

Terima kasih:

Hari Mulya, Dasir, Wempi, Fitri, Bundadontworry, Dan, VyanRH, KangBoed, Elmoudy, Mandor Tempe.

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

8 thoughts on “Ana Haniinu Anti”

  1. aih nunik tak perlulah cari penerjemah
    menurut bundo artinya sekitaran ilu imu inu.. hehhhee 😀

    Iya juga sih,, 😆 😆

  2. kata temen saya..

    ana = saya
    haniinu = al haniin = penuh kasih sayang
    anti = kamu

    jadi artinya?
    .-= Hari Mulya´s selesai [nulis] ..Reset Password WordPress dengan phpMyAdmin =-.

    Apa? 😆

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge