Belajar Membesarkan Anak Yang Bahagia Ala Denmark


Sudah 12 hari saya berpisah dengan Diana. Yap, kebiasaan kami beberapa tahun ini, ketika libur hari raya, Diana akan lebih lama menghabiskan waktu di kampung halaman bersama simbahnya.

Kok bisa berpisah begitu lama sama anak? Apa nggak kangen? Ya kangen pastinya. Tapi masih asyik aja, kok. Bisa dijalani. Malah kalau Diana yang ditanya kangen nggak sama mamanya, dia bakalan jawab enggak. Hahahaha.

Tahun ini, malah pernyataan Diana nambah satu lagi. “Mama ngapain bilang kangen? Mama bikes tahu, bikin kesel! Bilangnya kangen, tapi kalau ada Nana dimarahin muluk!” Diana langsung nyerocos pas saya bilang kangen.

Ya ampun, Nak. Kamu gemesin amat sik.

Iya, memang mama nyebelin banget yah. Meskipun udah belajar ilmu parenting dari mana-mana juga, giliran praktek itu susah banget tauk, Nak. Yang ada tetep keseringannya mama marah-marah dan cerewet melulu ya.

Kemarin itu semingguan setelah balik dari kampung, malam-malam sendirian di kamar, saya baca buku The Danish Way of Parenting. Buku tentang strategi orang Denmark (termasuk tip) menjadi orang tua bahagia yang membesarkan anak yang tangguh dan bahagia.

Nggak. Niat mulia awalnya nggak muluk-muluk biar bisa jadi pribadi yang bahagia. Ngelihat gaya parenting saya yang masih banyak marah dan ngomelnya aja saya udah sadar diri kok, masih banyak banget salahnya.

Beberapa yang dipaparkan buku terbitan Bentang Pustaka ini bukan hal yang baru lagi di praktek keseharian parenting ala saya, tetapi banyak juga yang saya baru tahu.

Belajar melalui bermain ini termasuk yang sudah kami lakukan. Saya nggak pelit buat beli Lego yang harganya jutaan supaya Diana bisa main sama bapaknya. Mencoba hal-hal baru seperti main ke berbagai playground dan puluhan taman RPTRA yang tersebar se-Jakarta Selatan selalu jadi agenda kami.

Tapi masih ada satu pekerjaan rumah saya tepatnya, karena Diana dan bapaknya masih menonton televisi. Dan saya suka sebel, karena saya sudah nggak pernah nonton, dan kalaupun nggak ada televisi di rumah, saya sanggup.

Salah satu tip yang mudah (tapi belum) saya lakukan adalah menyediakan bahan-bahan untuk karya seni agar anak berkreasi secara spontan. Kalau sekedar setumpuk krayon dan kertas gambar sih sudah banyak ya di rumah, tapi saya membayangkan yang lebih luas, supaya Nana nanti juga bisa percobaan science sederhana, melukis di kaos atau tote bag, sampai membuat slime sendiri.

Soal pujian. Hmmm, selama ini praktek saya masih berbeda dengan gaya parenting yang diterapkan oleh orang Denmark. Orang Denmark memuji anak supaya anaknya memiliki pola pikir yang berkembang. Pada akhirnya goal yang dicapai akan menghasilkan anak yang tangguh. Kalau mau tahu contoh-contohnya memberi pujian ala orang Denmark, baca bukunya ya. Selama ini saya seringkali masih sedikit menipu diri saat kasih pujian ke Diana.

Reframing (memaknai ulang) ini bakalan menjadi bagian terberat buat saya. Masih sering mengeluh, ngomel dan ujungnya marah-marah ini kalau saya tarik kesimpulan, karena saya belum bisa memaknai ulang sebuah kejadian seperti orang Denmark memakai kacamatanya. Beraaat pokoknya. Tapi harus mulai belajar.

Empati. Kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan orang lain. Ini juga berat. Salah satu caranya adalah dengan tidak menghakimi. Lebih toleran dengan orang lain. Untuk menjadi pemimpin, pengusaha dan pebisnis sukses, salah satu faktor yang penting adalah empati.

Yang juga berat apalagi?

Mengasuh dengan penuh hormat tanpa ultimatum. Saya seringkali cepat hilang akal di bagian ini.

Seperti saat mengajak Diana camping pertama kali. Alih-alih memperpanjang negosiasi dengannya, saya keburu hilang akal setelah beberapa hari mencoba merayu.

Lha tenda sudah lama dibeli. Diana juga bolak-balik mendirikan tenda di dalam rumah, buat mainan, buat tidur-tiduran siang. Makan di dalam tenda. Apa saja. Giliran diajak pergi camping beneran nggak mau. Maunya camping di rumah aja.

Sudah banyak video tentang camping diputerin di Youtube. Diana juga paling suka pantai. Nggak masuk akal kalau dia menolak diajak camping. Saya sampai heran, apa ketakutannya. Kalau ditanya nggak bisa menjelaskan, pokoknya nggak mau camping.

Ujungnya? Saya kalah. Saya bilang, mama dan bapak akan tetap camping. Kalau Diana nggak mau ikut, Diana bisa di rumah sama simbah. Keluarlah ultimatum pilihan ini. Akhirnya nangis dia. Mama jangan pergi, katanya. Nggak, saya bersikukuh, saya dan suami akan pergi. Diana pilih mana? Akhirnya dia ikut. (Entah ini masuk memberikan pilihan atau memberikan ultimatum ya?)

Camping Di Pantai Sedahan dan Ngrumput

Trus? Setelah di pantai, gantian Diana yang merengek-rengek nggak mau pulang. Maunya camping terus di pantai.

See? Saya kenal Diana. Dia pasti suka pantai. Lalu kenapa dia keukeuh pertama nggak mau diajak camping ke pantai? Harus berantem dulu?

Tetep saya ajak pulang. Hanya semalam camping di pantai. Karena dari awal pamit sama simbahnya juga cuma pergi semalam.

Travelling yang menantang kenyamanan seperti camping gitu buat apa sih? Wah, menurut saya itu penting banget. Karena dibiasakan ngerasain berbagai kondisi, anak sudah punya modal buat masa depanya. Dia nggak akan kaget kalaupun nanti dapet tantangan hidup susah. Sudah siap dan terlatih.

Tapi dari kejadian camping tersebut, masih belum sesuai dengan cara yang biasanya diterapkan oleh orang Denmark, bahwa mereka selalu memikirkan solusi, bukan bagaimana caranya supaya menang.

Kebersamaan dan kenyamanan ini bagian yang relatif sudah saya terapkan. Ya namanya juga keluarga kecil yang kemana-mana bertiga, lebih banyak waktu kami habiskan gluntang-gluntung di atas kasur bertiga kalau lagi nggak ada kegiatan di luar rumah.

Nah, sekalian yah, saya mau kasih giveaway 2 buah buku yang sama seperti yang saya baca di atas, ketentuannya: 1. Posting artikel tentang pengalaman parenting dan dikaitkan dengan harapannya dari buku The Danish Way of Parenting
2. Sertakan keyword: metode parenting Denmark
3. Berikan backlink kepada www.bentangpustaka.com

Cuss, saya tunggu ya manteman. Kalo udah posting, boleh kirim link-nya ke email saya: isnuansa@gmail.com atau komen di bawah ya. Saya tungguuuu~

9 thoughts on “Belajar Membesarkan Anak Yang Bahagia Ala Denmark

  1. saya suka dengan tulisan mbak nunik

    tapi saya kesini bukan untuk baca tulisan mbak nunik 😀

    tengah malam saya ingat tentang aktivitas blogger yg dulu rutin saya lakukan, kurang lebih mungkin tahun 2012 lalu. Sudah lama sekali yah 😀

    Nah tiba2 terlintas dibenak saya, wah kira2 mbak nunik masih nulis ga yah, and i come to this blog again

    salut mbak atas konsistensinya dalam menulis

  2. mbak nunik, aq mau bukunya.. aq jadi penasaran dengan metode parenting denmark.. akhir-akhir ini merasa butuh ilmu baru buat ngasuh anak umur 4 tahun yang sekarang sudah ceriwis sekali, bukan cuma kepo nanyain melulu, tapi udah mulai bisa menolak dan kasih alasan kebundanya.. tfs yah mbak

    sampai kapan nih mbak ditunggu tulisanya…
    mayarumi selesai posting Risol isi Chicken Stick SOGOOD

  3. seru.. Dan saya suka dengan kalimat ini “Mengasuh dengan penuh hormat tanpa ultimatum. Saya seringkali cepat hilang akal di bagian ini.”

    Sama persis seperti yang saya alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge