Berburu Sorabi Hijau Rengasdengklok Hingga Kelenteng

Akhir pekan lalu saya pengen banget makan sorabi hijau rengasdengklok yang terkenal itu. Jauh sebelum para artis seperti Tukul yang juga pernah berkunjung ke sana, lebih sepuluh tahun lalu saya sudah sering membeli. Melewati Kali Citarum, saya dan teman menyeberang dengan menggunakan eretan, perahu kayu yang ditarik dengan tenaga orang. Sekali lewat, membayar Rp. 1.000,- untuk sepeda motor, dan Rp. 5.000,-

Sesampainya di seberang sungai Citarum, sudah masuk wilayah Rengasdengklok, dan langsung ambil gambar Tugu Rengasdengklok, atau yang bernama resmi Monumen Kebulatan Tekad. Sebagai penanda, bahwa di tempat itulah Bung Karno dan kawan-kawan diungsikan dan menulis teks naskah proklamasi. (CMIIW, lupa-lupa ingat pelajaran Sejarah, hehe..) Tak jauh dari Tugu Rengasdengklok itulah tukang sorabi hijau yang terkenal itu berada.

Sesampainya di warung sorabi hijau H. Kasim di Rengasdengklok (kira-kira 75 km dari Jakarta), ternyata sudah sangat ramai dengan pembeli. Maklum, hari itu hari Minggu, banyak mobil plat B yang datang membeli sorabi. Warung ini memang tidak buka cabang di manapun, jadi ya kebayang ramainya. Dan saya diminta menunggu dua jam kalau mau beli sorabi hijau itu!

*&%#$* Kesel, tapi mau gimana lagi? Udah jauh-jauh ke Rengasdengklok, kalo nggak jadi beli dan pulang lagi kan lucu. Ya sudah, kami pun memesan sorabi dan memutuskan jalan-jalan dulu tanpa tujuan di Rengasdengklok. Menyusuri jalan Irigasi menuju ke Kecamatan Batujaya, kami membaca plang adanya sebuah Candi sekitar 5 kilometer. Tapi kata orang, setengah jam berkendara motor, saya jadi meragukan bacaan 5 kilometer, hehe…

Akhirnya kami berputar menuju pasar Rengasdengklok saja. Tak tahunya, di sebelah kanan jalan, kami menemukan sebuah Kelenteng yang kelihatannya bagus dari pinggir jalan. Memberanikan diri meminta ijin penjaganya untuk foto-foto masuk ke dalam Vihara, dan diperbolehkan. Asyik!

Vihara Buddha Sasana Rengasdengklok, yang dibangun pada tahun 1950, setiap akhir pekannya ramai dikunjungi oleh warga Tionghoa yang akan berdoa. β€œBarusaja tadi 6 bis dari Jakarta pergi. Tadi ramai sekali di sini. Dan nanti tanggal 10 April 2011 akan ada perayaan besar di sini, perwakilan Vihara dari berbagai daerah akan hadir,” kata penjaga Vihara.

Selama satu jam kami foto-foto dan istirahat di Kelenteng tersebut. Pas balik lagi ke warung sorabi hijau, sorabinya sudah matang. Satu kardus berisi 10 buah sorabi berharga Rp. 15.000,- Pesanan saya 3 kardus sudah dimasukkan ke dalam tas. Satu untuk Bulik, satu untuk Sepupu saya, dan satu dibawa pulang ke rumah. Makan sorabi hijau!

[Semua hasil foto diambil dengan Nokia N8]

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

17 thoughts on “Berburu Sorabi Hijau Rengasdengklok Hingga Kelenteng”

  1. Pagi, Mba. Wah, Rengasdengklok, ingat pelajaran sejarah dulu, hehehe
    Gambar dari ponselnya bagus2. Bila tak keberatan, minta bantuan buat tutorialnya upload foto dari ponsel ke blog Mba. Sudah beberapa kali dicoba tapi tak pernah sukses.
    Lewat picasa juga gagal.
    Terimakasih sebelumnya.

    1. Waduh, rikuesnya ini yang agak susah dibikinnya. Saya sendiri selama ini minim pengalaman dengan upload gambar dari ponsel ke blog. Kenapa? Nggak sabar nunggunya. Saya pengen foto yang diunggah dalam kualitas prima (berukuran besar), jadi dengan koneksi handphone yang terbatas, akan sulit mengunggahnya.

      Entahlah dengan handphone saya yang baru ini (Nokia N8) harusnya sudah bisa mengunggah gambar ukuran besar, tapi saya belum pernah nyoba juga. πŸ™‚

  2. Wah… kekeuh juga pedagang serabinya, gak mau buka cabang di tempat lain… πŸ˜€
    Sepertinya perjuangannya sebanding dengan rasanya ya, Mbak πŸ™‚
    Foto lentera di langit2 klenteng itu keren banget, Mbak. πŸ™‚
    Kakaakin selesai posting Kejutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge