Capung Di Atas Rumahku

Langit tak cerah. Ada sesuatu yang ingin dicurahkannya ke bumi, tapi tak sanggup.

Capung itu, mungkin kebingungan juga apa yang harus dikerjakan.

Berputar-putar saja, menunggu tetesan pertama yang akan memaksanya berteduh.

Sementara, sepasang mata menatap hampa sampai ujung yang mampu diraihnya.

22 thoughts on “Capung Di Atas Rumahku

  1. Terus terang .. Hati saya lebih tersentuh dengan kata kata

    ” … Sementara, sepasang mata menatap hampa sampai ujung yang mampu diraihnya”

    Mungkin karena penulis menumpahkan semua ‘perasaannya’ di kata kata itu!

    Hiks .. πŸ˜‰

  2. Pagi Mbak!!!!

    Datang membawa semangat pagi ni πŸ™‚

    Sudah lama tak pernah melihat capung, eh begitu melihat ternyata mereka sedang kebingungan (karena dilihatin mbak Is yang canti, he he he he)

    semoga harikita senantiasa indah dan penuh makna,

    Salam πŸ™‚
    pendarbintang selesai posting Menyapamu yang angkuh

  3. Mbak Nunik, apa kabar?
    semoga selalu sehat ya ,amin
    kayaknya dah seabad setengah bunda gak kesini πŸ™

    capung…. inget waktu kecil, suka menangkap capung pakai lidi yg ujungnya dikasih permen karet bekas πŸ™‚
    salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge