Judul bukunya Taufiq Kiemas di Mata Tokoh Islam. Saya terima bukunya tadi malem, jam 18.00 WIB. Langsung SKS. Sama seperti judulnya, buku ini menampilkan sosok TK di mata beberapa tokoh Islam dari kalangan Muhammadiyah, NU, penceramah populis, akademisi, pengamat politik, politisi, unsur pemuda dan perempuan.
Ilmu baru: meski sudah baca buku tentang TK yang lain, masih lupa juga kalo nama kecilnya Tastafvian Kiemas. Satu hal yang patut diacungi dua jempol dari TK adalah ingatannya yang sangat kuat akan nama seseorang. Pernah di suatu acara dimana TK membuka secara resmi dan saya sebagai MC, dia bilang “ Nunik, jangan lupa Indonesia Raya”. Gubraks, sejak kapan dia tau nama saya? MS kali yang ngenalin nama saya ke dia. Dan dia akan ingat itu ketika ketemu lagi, padahal kan ngingat orang penting aja susah, ngapain ngingat orang biasa.
Sekilas tentang buku:
Editor: Helmi Hidayat dan Zainun Ahmadi
Tebal: 165 halaman
Penerbit: Baitul Muslimin Press
Sekapur Sirih: Prof. Dr. H. Hamka Haq, MA
Kata Pengantar: Ir. Pramono Anung Wibowo, MM
Ringkasan:
1. Buya Syafii Maarif (Membantu Tanpa Pamrih)
Persahabatanya dengan TK tidak dihalangi oleh dinding-dinding politik. Karena semua dinding itu bersifat artificial belaka ketika diletakkan di bawah payung “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.
TK membantu seperenam dari kebutuhan pembangunan gedung Madrasah Mu’allimin pasca gempa 27 Mei 2006 yang totalnya mencapai 6M.
OOT: Saya juga tahu TK membantu sebuah ponpes modern buesar di Jawa Timar sebesar 2M, meski di Pemilu dari ribuan santrinya, hanya pululan yang memilih MSP.
2. Hasyim Muzadi (Sosok Pemikir Sekaligus Pejuang)
Menyatakan berbeda pendapat dengan TK dalam menggunakan sebutan Pluralisme dan Pluralitas.
3. Aisyah Amini (Alam Menjadi Gurunya)
Tastafvian, nama Islami yang artinya orang yang suka bertanya dengan harapan menjadi anak yang berpengetahuan dan berwawasan luas.
4. Akbar Tanjung (The Man Behind The Scene)
Mengenal TK sebagai sosok yang bersahaja, pemberani dan kritis-rasional dalam mendiskusikan banyak hal.
TK bukan hanya suami, tetapi juga dikenal sebagai the man behind the scene dalam sikap dan karir politik MSP.
5. Abu Bakar Baasyir (Mewarisi Islam Kultural)
Secara kultural, mayoritas orang Sumatera beragama Islam. Abu Bakar menyatakan tidak mengenal TK secara pribadi, hanya tahu TK suami mantan presiden MSP.
6. Amidhan, sekarang Ketua MUI (Sangat Welcome Kepada Siapa Saja)
Kedekatannya dengan TK diawali ketika MSP menjadi presiden, menyapa ”Pak, saya mohon ketemu Bapak”. Dijawab TK, ”Oh, enggak, enggak. Nanti saya yang datang ke Pak Kyai”
7. Azyumardi Azra (The Man With Political Influence on MSP)
Merasa banyak kesamaan pemikiran dengan TK: Keislaman dengan Nasionalitas keindonesiaan tidak harus dipertentangkan, dan itu adalah suatu yang terpadu.
8. Bachtiar Chamsyah (Pemain Belakang Layar)
Anggapan bahwa TK menguasai Partai, sesungguhnya karena TK mempunyai banyak gagasan dan ide yang diakomodir Partai. Tetapi dia merasa tidak perlu tampil di depan.
9. Barlianta Harahap (Merakyat di Warung Pinggir Jalan)
Sikapnya sederhana, sering menikmati makanan yang dijual di warung-warung di sekitar Gatot Subroto.
OOT lagi: di dalam setiap acara Partai, dia akan marah jika “dibedakan” dengan yang lain. Maunya, kursinya sama, minumnya sama, makannya sama. Nggak perlu buah-buahan mahal dan import di depan meja. Yang paling susah kalo “rakyat” duduk di korsi plastic, korsi buat TK didobel, takut langsung patah ketika diduduki, hehe…
10. Din Syamsudin (Penuh Perhatian Pada Ormas Islam)
TK memikirkan bagaimana mencairkan dikotomi antara agamis dan nasionalis. TK banyak membantu Muhammadiyah.
11. Hadimulyo, ketua ICMI (Lentur Dalam Berpolitik)
Peran TK sungguh cerdas dalam membentuk sayap partai Baitul Muslimin Indonesia. TK tipe unik, suka menyiapkan panggung namun berada di balik layar. Tapi tetap bisa menjadi pemain panggung sebagaimana terlihat saat bersilaturrahim dengan Surya Paloh.
12. Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (Menentukan Jagat Politik Nasional)
TK dan MSP memimpin partai yang besar, yang menentukan konstelasi politik di negeri ini. Semua harapan tertumpu jika kelak memimpin kembali pemerintahan, penggusuran tidak boleh terjadi dan harga BBM harus terkendali.
13. Jimly Asshiddiqie (Human Approach)
TK memiliki Human Approach yang baik yang dilatarbelakangi oleh rasa tanggungjawab dan sikap empati.
14. Khofifah Indar Parawansa (Tokoh Nasional yang Sangat Friendly)
Khofifah mengagumi sikap TK yang mengambilkan bungkus kuenya yang terjatuh dan mobilnya yang pada awalnya dilarang Paspampres parkir di dekat Teuku Umar 33, malah disuruh dimasukkan ke dalam.
15. Lukman Hakin Saefudin, Ketua DPP PPP (Titipan PPP di PDI Perjuangan)
Terpilihnya HH mendampingi MSP, itu karena TK ingin membuktikan bahwa Islam dan Nasionalis dapat disinergikan.
16. Amin Rais (Saya Sangat Berharap Besar Padanya)
Masih banyak ajaran politik BK yang belum sepenuhnya diterapkan TK pada masa kekuasaan MSP, diharapkan TK bisa ”balik kanan” dan sepenuhnya menerapkan ajaran BK.
Kelemahan buku ini, sama seperti buku-buku sejenis, seringkali hanya menampilkan sisi baiknya saja. Jarang banget ada yang “berani” menyebutkan kejelekannya. Secara etis dan politis mungkin belum ada yang berani melakukannya. Satu yang berani menyebut, itupun bukan dari orang yang mengenalnya secara langsung, yaitu Abu Bakar Baasyir. Lalu apakah bisa serta merta itu sepenuhnya dianggap “benar” kelemahannya, jika yang mengatakannya pun hanya melihat dari kaca mata luarnya saja.