Bis sekolah yang kutunggu, kutunggu
Tiada yang datang
Ku telah lelah berdiri, berdiri
Menanti-nanti…
Penggalan lagu Bis Sekolah itu cocok juga saya senandungkan tadi pagi ketika menunggu angkutan umum yang biasa membawa saya ke tempat kerja.
Mata saya menyapu ke segala sudut, meyakinkan diri sendiri, bahwa pemandangan yang saya dapati pagi ini masih sama dengan pagi-pagi kemarin. Pagi ketika harga BBM belum dinaikkan. Pagi ketika di bawah lampu lalu lintas yang diacuhkan semua pengendara, teronggok gerobak butut untuk gelaran koran pedagang asongan. Diatasnya berkibar-kibar spanduk yang mulai memudar bertuliskan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah memilih sang Gubernur.
Di salah satu sisi arah jalan, masih terjadi kemacetan bodoh, yang disengaja. Sengaja oleh para pedagang yang lebih suka menggelar barang dagangannya di pinggir jalan dari pada mengisi kios-kios di dalam pasar yang kosong melompong pasca renovasi. Sengaja oleh tukang angkot yang lebih suka ngetem, berharap dengan cara menunggu di keramaian, mobilnya akan segera terisi penuh. Sengaja oleh calo-calo yang mengharapkan upah mereka atas jasa mencarikan penumpang. Dan sisanya, deretan mobil yang terpaksa menunggu antrian untuk melewati jalan, dan terpaksa menyenandungkan kata yang sama setiap harinya: macet, enjoy aja!
Di depan toko minyak wangi yang baunya menyengat, terdapat segerombolan anak-anak yang semestinya mengenakan seragam merah putih, duduk manis mendengarkan petuah dari gurunya, pada jam-jam seperti sekarang ini. Wajahnya lusuh, tetapi sama sekali tidak nampak kesedihan mereka. Sesekali justru terdengar tawa tergelak-gelak, entah oleh lelucon apa yang dilontarkan kawannya. Yang lainnya, memilih berkolaborasi memainkan alat musiknya. Ada gitar kecil dengan tiga senar. Ada botol bekas minuman larutan penyegar yang diisi dengan butiran beras. Ada kumpulan tutup botol minuman bersoda yang dipipihkan buatan sendiri.
Saya agak kaget ketika salah satu dari kumpulan pengamen tersebut mengeluarkan 6600. beberapa dari mereka lantas dengan sedikit malu-malu takut terlihat orang banyak, mengeluarkan miliknya juga. Kontes dimulai.
Saya beringsut menuju gerobak tempat penjual rokok dan minuman dingin berada. Syndrom orang kota juga sudah mulai menyerangku. Makin lama tubuh ini makin manja, makin mendambakan kenyamanan saja. Sinar matahari bisa bikin kulit makin hitam, batinku. Lumayan, bersembunyi di balik gerobak, mungkin bisa memperlambat proses gosongnya kulit tersebut.
Suara lagu iwan fals terdengar jelas ditelinga. Saya menoleh. Rupanya ada pengamen yang juga takut kepanasan. Mata kami beradu pandang. Ada kenyamanan terjalin, sehingga banyak informasi yang bisa saya dapat darinya. Lelaki yang lulus dari SMA di Kota Bengkulu itu, mengaku terpaksa mengamen karena sulit mencari kerja dengan ijazahnya. Meski malu, dia jalani juga karena penghasilan dari ngamen lumayan. Sedikitnya Rp. 70.000,- bisa dia dapat dalam sehari.
”Kalau 100 (ribu sehari) jarang, Mbak, kadang-kadang saja. 50 (ribu) juga jarang. Yah, rata-rata 70an (ribu) lah”
Waduh, dengan penghasilan jauh diatas UMR tersebut, pantas saja banyak yang merasa “terpaksa” jadi pengamen, tapi “menikmatinya”.
Itulah mungkin alasan mengapa anak-anak banyak dipekerjakan oleh orang tua mereka untuk mengamen. Tidak diperlukan keahlian khusus, karena botol bekas minuman larutan penyegar diisi pasirpun sudah bisa dijadikan modal. Berbekal memanfaatkan simpati orang, rupiah mudah didapatkan. Mental peminta-minta akan makin sulit dihilangkan di negeri ini.