Maraknya pendirian partai baru, membuat ada banyak lowongan pekerjaan pengurus partai baik tingkat Kabupaten maupun Kecamatan. Persyaratan Undang-Undang mengharuskan partai baru mempunyai jajaran kepengurusan di lebih dari 50% Kabupaten dimana di Propinsi tersebut terdapat pengurus partainya. Hal itu membuat beberapa petinggi partai baru bergerilya melawan penjajah Belanda mencari kandidat pengurus untuk ditempatkan pada posisi yang masih kosong.
Teman saya berceritera bahwa dirinya dikejar-kejar oknum aparat beberapa orang yang memintanya bergabung dan dijanjikan akan dijadikan Ketua DPC [Pimpinan partai tingkat Kabupaten] PPR*. Namun iming-iming itu ditolaknya, meskipun di partai kami dia tidak mempunyai jabatan.
Saya sendiri, sampai sekarang belom ada yang berani mendekati dan menawarkan jabatan yang lebih tinggi lagi. Dan kalopun ada, jawabannya akan selalu sama: tidak.
Pilihan saya sudah bulat. Di saat negeri ini masih belum banyak yang berani berteriak menyatakan perbedaan pendapat, saya sudah menentukan pilihan. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di saat semua masih mengibarkan bendera dengan warna yang sama, saya membela pilihan saya.
Masih tergambar dengan amat jelas, saya, mama dan tiga orang adik sedang berada di rumah. Papa kerja. Jadwalnya kampanye partai penguasa. Bendera lain berkibar di depan rumah. Arak-arakan lewat. Mungkin jumlahnya ribuan. Salah satu truk berhenti. Turun semua isinya. Ada yang membawa kayu panjang. Ada juga senjata tajam. Ada yang mengibar-ngibarkan benderanya.
Saya suruh mama dan adik-adik lari menyelamatkan diri meninggalkan rumah. Sendirian, saya berjaga di depan pintu. Menyaksikan bendera saya disobek, diinjak-injak. Bersiap diri menghadapai kemungkinan terburuk. Massa semakin mengganas. Teriakan-teriakan provokatif terdengar sahut menyahut. Saya tak bergeming. Akhirnya mereka pergi. Ada yang menghalau barisan mereka sendiri.
Alhamdulillah, yang di atas masih melindungi kami.
Pada akhirnya, pesta demokrasi memang menyatakan kami harus kalah lagi. Tetapi tak lama kemudian rakyat sadar bahwa pilihannya salah. Dan diantara yang dulunya mendukung mati-matian, sekarang kalo berteriak paling keras seolah-olah pahlawan negeri ini berputar haluan.
Dalam politik, berputar haluan banyak sekali dilakukan oleh politikus kutu loncat. Kalo nggak meloncat dari partai satu ke partai lainnya, ya mendirikan partai baru lagi wong syarat-syaratnya gampang urusan ada yang milih atau tidak urusan belakangan.
Pengalaman pribadi saya, saat berpidato di sebuah acara -saya MC- MSP mengatakan:
Saya bangga pada anak-anak muda [yang sudah mulai terjun ke politik, red] -sambil menengok dan melihat ke arah saya, GR mode: On- asal jangan kayak orang-orang yang nggak tahu diri itu.
Yang dimaksudkan tentu saja politikus yang dulunya merupakan tangan kanan MSP, bahkan ada yang dikasih jabatan Menteri segala, tetapi sekarang mendirikan partai baru yang entah sudah lolos verifikasi atau belom. Kita lihat saja hasilnya nanti di Pemilu.
Yah, namanya juga demokrasi, berbeda pendapat itu sah-sah saja kan? Tentunya, tetap harus santun dan menghindari cara-cara kekerasan. Setuju?
Catatan:
Maaf, tidak ada lowongan.
[di partai kami, red]