egois?
Apa yang akan anda lakukan ketika ada sebuah keharusan untuk meninggalkan HP [seperti mandi atau beribadah] dan menjumpai adanya panggilan tak terjawab di ponsel anda? Secara etika pastilah anda akan menelepon balik orang yang telah menelpon anda, tetapi tidak sempat untuk diangkat tersebut. Namun bisa saja untuk case tertentu, anda memilih untuk membiarkannya saja. Seperti dulu saya pernah membuat “kesepakatan” dengan pasangan, jika missed calls 2 kali artinya X dan jika 3 kali artinya Y, dan seterusnya. Jadi tidak perlu untuk menelepon balik.*sekarang, kalo dipikir-pikir, lucu juga kesepakatan model ini*
Saya pernah suatu ketika melihat MS [Bos] amat sangat marah kepada staf Komisinya tatkala beberapa kali teleponnya tidak diangkat oleh sang Staf. “Maaf Pak, saya tadi sedang keluar dan HP ketinggalan di kantor”, begitu kira-kira yang dikatakan oleh sang Staf menjelaskan alasannya ketika akhirnya telepon MS diangkatnya. “Kenapa kau tidak segera menelepon saya begitu kembali lagi ke kantor? Etika bertelepon itu seperti itu. Lain kali kau segera telepon balik ke saya kalau tidak sempat angkat telepon saya. Ada dua hal penting yang hendak saya sampaikan. Bla bla bla ”
Piss Pak! Saya yang ketika itu ada disampingnya mendadak ikutan memerah kupingnya mendengar dia bicara seperti itu. Sedikit tersindir, karena sayapun sudah beberapa kali tidak menelepon balik ketika mendapati di layar ponsel tertera nama MS meninggalkan panggilan tak terjawab.
Yang kumau, hanya dirimu
Tapi tak begini keadaannya
Yang kumau slalu denganmu
Jika Tuhan mau begini
Robahlah semua jadi yang kumau
Karna ku mau semua begini
Seperti yang kumau
[Yang Kumau, Kris Dayanti]
Rupanya yang bisa menjadi marah gara-gara telepon tidak diangkat tidak hanya MS saja. Saya yang sudah belajar menerapkan ilmu sabar dan ilmu ikhlas-pun tak luput dari kejadian menjengkelkan seperti ini. Diawali dengan kejadian sepele, bisa mendatangkan pertengkaran serius.
Sore hari ketika saya telepon [sekitar jam 19.00], dia *ini sebagai kata ganti untuk siapa ya* bilang sedang di Gramedia cari buku, telponnya nanti malam saja. Malamnya, saya baru sampai di rumah jam 22.00, dan telpon sekitar jam 22.30. Karena tidak diangkat, saya menduga dia sudah tertidur dan akhirnya meninggalkan sms berisi sebuah pertanyaan. Dengan harapan ketika terbangun keesokan paginya, dia akan segera membalas sms tersebut, karena memang ada sebuah pertanyaan di sms itu.
Sampai siang dan sore hari, sms yang saya tunggu-tunggu tidak datang juga. Kejadian yang hampir mirip seperti ini sudah kesekian kali terjadi, membuat kesabaran saya makin terbatas. Meskipun saya sudah menerangkan tentang ilmu etika seperti yang pernah MS terangkan kepada stafnya, yang secara umum diakui oleh masyarakat itu, nggak mempan juga. Sehingga pada akhirnya keluar juga kalimat yang membuatnya marah. Saya bilang: “Memang, buat lo telpon dan sms gw nggak pernah penting!” Serangan baliknya ditujukan ke saya: “Dari dulu lo nggak pernah berubah, selalu egois. Nggak pernah bisa ngertiin gw!”
As I close my eyes sit back while reminiscing
Of when we used to fuse and fight but end up kissing
There may be sad and painful times along the way
But in my heart you’ll always be everything and more to me
For I know this love between us is going stronger
You can call me whenever, from where ever just remember that
Now I’ll be there thru all the stormy weather
Us break up never, no, we’ll be together forever
You don’t miss your water till the well runs dry
But I believe so strongly in you and I
Can somebody answer me the question why
You don’t miss your water till the well runs dry
[You don’t miss your water – Craig David]
September 17th, 2007 at 7:56 am
Waduh, saya sering banget gitu. Sering gak bales SMS maksudnya. Sering gak sensitip terutama untuk SMS yang tidak memerlukan jawaban seperti: selamat bekerja! selamat santap sahur! [bales apa coba?], atau generic question seperti: lagi kerja ya om [ya iyalah, secara dikirim pada jam kerja], udah mau tidur ya om [ya iyalah, dikirim jam 12 malem].
Eniwei, tetep jelek ya kebiasaan saya itu
wah, enggak lagi deh
September 17th, 2007 at 12:59 pm
emang masalah SMS bales ato gak di bales rada rumit, mendingan sih gak usah pake komi-komit segala, daripada ntar malah melanggar komit, hehehe!!!
kl gw sih cari jalan keluarnya dengan ngerti aja deh n sabar dari segala makian apa lagi si boss!!! (eh untung sekarang dah gak punya bos lagi hehehe, alias nganggur booo)!!!
September 17th, 2007 at 2:04 pm
ck..ck..
tak ubahnya seperti peratutan.
komitmen dibuat untuk dilanggar.
salam kenal ya.
September 17th, 2007 at 3:58 pm
hehehe… lucu juga, cobalah untuk saling mengerti saja, kalau ga dibales ya cuek, nanti juga sms-an lagi…
kalau saya memang males sms, cape ketiknya, biasanya kalau ada sms dari pasangan dibales telepon saja pake cdma kan murah tuh, sama aja sms tarifnya…
Kalau yang sms orang lain?… hahaha ya kalau ga penting ga dibales, kalau penting jawab ok, yes, no, . saja :p
>>>
“Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant & Motivational Blogger”
September 17th, 2007 at 4:02 pm
kesepakatan yang sama dengan pasangan saya tentang miskol… hehehe.. kok bisa janjian ya?
September 18th, 2007 at 9:25 am
hehehe… postingannya bageeuusss… *jadi teringat masa lalu..* Halah!
September 18th, 2007 at 10:15 pm
kring…kring…kring…*cempluk telepon mbak isnuansa*..
September 19th, 2007 at 12:41 am
dilihat kebiasaan orang per orang aja mbak perlakuannya…treatmentnya yg dibedakan….
sstt….MS itu Mang…Si….ya? heheeh
September 19th, 2007 at 2:57 am
kalau ke orang lain *palagi atasan/org kantor* memang seharusnya begitu, kalau ada miss call, kita sebaiknya telpon balik atau sms…tapi kalau ama pacar beda lagi, tgt kesepakatan bersama
btw, mbak postingan kok disusupi lirik lagu maksutnya gimana ya?
September 19th, 2007 at 3:02 am
Holeee bisa masukkkk *setelah ngebongkar gemboknya blogger.xixixix. kalo semisal ‘N yang miskol…. mba is mo ngankat ga? *sambil nodong piso :D. btw word verifikasinya di off dong… susyaah soale…
September 19th, 2007 at 4:04 am
Sttt… sabar sabar bulan puasa ga boleh marah2 hehehe
September 19th, 2007 at 5:15 am
Coba tekepon or sms pakai nomer lain….pasti deh diangkat !!!
*based on true story
September 19th, 2007 at 1:20 pm
hehehehehe, saya juga, g pernah bisa lepas dari hp. tidur pun ahrus di sebelah hp. soalnya takut ketinggalan kabar…
September 19th, 2007 at 1:32 pm
egois? subyektif sih.. si A bisa bilang bhw si B egois, padahal buat si B bisa aja justru si A lah yg egois..
btw ttg miskol emang sih etikanya kita telfon balik, kecuali untuk orang2 yg memang suka miskol doang, alias panggilan iseng

tapi aku juga sering sih gak balas sms dengan sengaja
September 19th, 2007 at 2:50 pm
Kalu yang nelpon tempat kerja atau boss mestinya penting kali. Siapa tahu, itu boss mau bagi2 amplop he… he…
September 19th, 2007 at 3:53 pm
Aku suka marah (kecil²an marahnya) kalo gak dijawab. Kadang malah suka mikir yg bukan² lagi.
September 20th, 2007 at 1:58 pm
gw boleh miskol gak?
direspon ga?