Film Adaptasi Blog, Mungkin Jadi Tren Baru

Tulisan ini adalah hasil karya suami. Sudah punya blog sendiri sih di sebelah, tapi ya boleh saja kan kalo sesekali membantu istrinya? Ada yang mau juga nulis di sini? Baca caranya di sini yaa

~~~

Blogger yang suka nulis tentang film sudah biasa. Blogger sering diundang nonton premier film juga sudah biasa. Yang luar biasa adalah blogger yang menginspirasi seorang sutradara untuk mengadaptasi postingan-postingannya ke sebuah film. Dwitasari tak menyangka lima postingannya yang bertagar #CintaTapiBeda akhirnya difilmkan sutradara yang kerap membuat film adaptasi novel, Hanung Bramantyo. Lima postingan yang di-publish dalam rentang waktu 7 September 2012 hingga 22 Oktober 2012 itu tak perlu waktu lama untuk diadaptasi ke dalam sebuah film. Tanggal 12 November 2012 produksi film “Cinta Tapi Beda” sudah selesai dan Hanung Bramantyo mengumumkan film tersebut akan tayang perdana di bioskop pada 27 Desember 2012.

“Saya masih sulit bernapas,” begitu reaksi Dwitasari setelah mengetahui postingan curhatannya difilmkan dalam waktu secepat itu. Sebagai seorang blogger, film ini adalah kejutan kedua setelah buku pertamanya “Raksasa dari Jogja” diterbitkan pada bulan Oktober 2012 lalu. Selidik punya selidik, ternyata ide pembuatan film adaptasi blog ini berawal dari ketertarikan Hestu Saputra, asisten sutradara Hanung Bramantyo, pada tulisan-tulisan di blognya. Selain tertarik dengan tulisan-tulisan Dwitasari, Hestu Saputra juga pernah mengalami kisah cinta beda agama seperti yang diceritakan Dwitasari di blognya. Pengalaman pribadi seorang asisten sutradara digabungkan dengan postingan-postingan seorang blogger disajikan dengan apik menjadi sebuah film berjudul “Cinta Tapi Beda”.

Sebenarnya tema cinta beda agama bukan hal baru di dunia film. Bahkan, film “Cinta Tapi Beda” ini merupakan film kedua Hanung Bramantyo yang bertemakan perbedaan agama setelah film ? (Tanda Tanya). Tapi sepertinya faktor Dwitasari yang seorang blogger (dan juga seorang selebtweet) ini akan membuat film ini menarik. Apalagi kisah dalam film ini diangkat dari kisah nyata dari sahabat Dwitasari, seperti yang dikisahkan dalam postingan-postingannya. Sebagai seorang blogger, saya lebih tertarik untuk menikmati kisah #CintaTapiBeda ini melalui postingan-postingannya Dwitasari dibandingkan dari trailer dan sinopsis filmnya. Jika dulu ada orang membaca novel sebelum nonton film, sekarang orang bisa membaca blog dulu sebelum nonton film.

Kisah bermula dari postingan Dwitasari pada tanggal 7 September 2012 yang berjudul “Mereka yang Berjuang Walau Kesakitan”. Dwitasari memulai postingan dengan sebuah kalimat yang disadur dari Alkitab, “Sesuatu yang dipersatukan Tuhan tak dapat dipisahkan manusia”. Begitu menyentuh, pantas saja kalimat pertama itu dijadikan subtitle film tersebut. Dwitasari ingin menjabarkan bagaimana orang menemukan jodohnya dengan berbagai cara, dari yang paling mudah sampai yang paling rumit. Perbedaan agama menjadi masalah ketika dua insan merasa sudah menemukan jodohnya. Hidup ini tidak adil, “Ketika yang lain sibuk mencumbu tanpa pernah mengerti arti cinta yang sesungguhnya, mereka sibuk mengeja dan merapal doa yang sama; meskipun diucapkan dengan bahasa yang berbeda,” begitu tulisnya.

Dalam postingan berjudul “Cintaku, Cintamu, Beda!” tanggal 11 September 2012, Dwitasari menceritakan tentang temannya yang mengalami kisah #CintaTapiBeda itu, meskipun belum berani menyebutkan namanya. Dwitasari mengisahkan temannya itu adalah seorang wanita yang memiliki wajah bagaikan pahatan sempurna jemari Tuhan. Anak ketiga dari empat bersaudara ini meninggalkan kota Padang untuk kuliah di jurusan seni tari di Jakarta. Ketika berusaha meredam demam panggunnya tak sengaja matanya bertatapan dengan seorang pria. Wanita beragama Katolik ini akhirnya jatuh cinta pada pria beragama Islam yang seorang juru masak ini. Coba dengar obrolan mereka. “Kamu harus bisa masakin keluargaku babi rica. Enak lho! Kamu harus mencoba,” ucap sang wanita. Sang pria menjawab, “Kalau kamu makan babi rica aku akan temani, tapi nggak akan aku memakan makanan itu”.

Lewat postingan berjudul “Salahkah jika Melipat Tangan dan Menengadahkan Tangan Bersatu?” tanggal 10 Oktober 2012, Dwitasari menceritakan pertemuannya dengan sang wanita di Margocity, Depok, Jawa Barat. Dwitasari bercerita tentang pengalamannya sebagai mahasiswa baru, sementara sang wanita masih bercerita tentang karir menarinya yang cukup mengagumkan. Namun wajah sang wanita tiba-tiba berubah ketika menceritakan kisah #CintaTapiBeda yang sedang dialaminya. Semua kepedihan itu berawal dari kesulitan untuk menyatukan dua orang yang beribadah di tempat yang berbeda. Dwitasari tak menawarkan solusi apa-apa, dia hanya menyediakan waktu untuk mendengar curhatan temannya. Dwitasari cukup paham apa yang dirasakan temannya itu karena dia sendiri pernah mengalami kisah yang hampir sama.

Seminggu kemudian Dwitasari bercerita tentang pertemuannya (lagi) dengan temannya itu di sebuah kafe di bilangan Depok dalam postingan berjudul “Beda Cinta, Setipis Keyakinan” tanggal 16 Oktober 2012. Temannya itu bercerita sambil menitikkan air mata dan tersirat bahwa beban yang dipikulnya semakin berat. Dalam lingkungan yang serba tidak mengenakkan, mereka berusaha saling melindungi dan saling menguatkan satu sama lain. Bahkan, Dwitasari menyesal dulu dia tak sekuat dan setegar temannya itu. Dwitasari mungkin “gagal” di masa lalu tapi bukan untuk saat ini. Dia ingin temannya berjuang karena cinta yang tidak bisa dimengerti banyak orang.

Dwitasari bercerita bahwa ia dibolehkan menyebutkan nama temannya itu dalam postingan “Perbedaan dan Air Mata” tanggal 22 Oktober 2012. Namanya Diana. Setelah melihat respon dari puluhan ribu pembaca blog Dwitasari, Diana memberanikan diri untuk membuka identitasnya. Melihat banyaknya simpati dan dukungan yang ada di kolom komentar, sepertinya Diana semakin kuat untuk menjalani kisah #CintaTapiBeda ini. Awalnya mungkin Diana marah atau malu ketika kisahnya di-publish di blog, namun sekarang dia merasa senang karena banyak sahabat yang menemaninya. Bahkan, banyak komentator di blog Dwitasari yang mengalami kisah yang serupa. Banyak pembaca yang belajar menghargai perbedaan itu dan mendoakan semoga Diana dan Cahyo kuat menjalani ini semua.

Kalau sudah membaca lima postingan bertagar #CintaTapiBeda, kamu sudah siap nonton film “Cinta Tapi Beda” di bioskop mulai 27 Desember 2012. Mungkin banyak orang kecewa dengan beberapa film adaptasi novel, kali ini mari kita lihat bagaimana reaksi orang setelah nonton film adaptasi blog.

33 thoughts on “Film Adaptasi Blog, Mungkin Jadi Tren Baru

  1. wah keren banget.

    tapi saya jadi curiga, ini bener-bener blog yang dijadikan film, atau sengaja sebagai strategi pemasaran aja?

    kalo bener-bener blog yang dijadikan film kayaknya kok terlalu cepat prosesnya mulai blog itu ditulis september dan oktober, lalu november sudah selesai produksinya.

    tapi kalo ini betulan, wow cepet banget..
    Budiono selesai posting Bikin Akta Kelahiran di Surabaya

    1. Saya sepaham ma komentar mas. Kalau emang bener ini diambil dari kisah di blog, berarti jago banget Mas Hanung bikin filmnya. Terlepas dari soal itu, cinta memang menjadi kisah yang selalu menarik untuk diceritakan.

  2. Bener juga kata mas budiono itu. siapa tahu Hanung sebelumnya udab ‘janjian’ utk membuat postingan seperti itu untuk kemudian jadiin film. tapi gak tahu juga seh..

    Mudah2an aja ada diantara kita yg ceritanya dijadiin film juga 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge