Jadi Kita Pindah Ke Gas Alam Aja, Nih?

Sebulan belakangan ini, apa yang jadi perbincangan hangat di kalangan ibu-ibu rumah tangga seperti saya? Yak, betul. Kenaikan harga gas elpiji. Bikin pusying kepala kan ya? Yang biasanya cukup bayar 80an ribu satu tabung 12 kilogram, sempet melonjak hingga 140an ribu. Meskipun sekarang secara resmi harganya sudah diturunin lagi, tapi fakta di lapangan tetep saja harganya masih jauh di atas harga resmi. Alasan pedagang klasik, harga belinya waktu harga sudah naik, jadi ngabisin stok dulu. Ada juga yang beralasan pasokan gas langka, jadi tetep saja, konsumen yang mau nggak mau jadi korbannya.

Mama saya, biasanya paling tabah kalau soal kenaikan harga. ‘Emangnya kita bisa apa kalau harganya musti naik?’ begitu selalu kata Mama saat harga BBM naik, yang otomatis juga berimbas kepada seluruh harga, seperti sembako yang setiap hari dibelinya. Tetapi kenapa kemarin dia seperti menggumam ya, ‘Apa nggak ada alternatif, sih, selain masak pakai elpiji?’ tanyanya.

Mau saya becandain kok rasanya nggak tega juga ya. Padahal udah ada tuh di ujung mulut kalimat ‘Bisa sih, Ma, pakai kompor minyak aja, lagi.’

Jadinya kepikiran juga. Selama ini kok ya kayak cinta monyet aja kita ini sama elpiji. Dibutain perasaan kita, sehingga selalu bergantung terus. Hahahahaha…

Pas selo, saya coba cari tahu, apa alternatif yang bisa digunain buat mengganti bahan bakar untuk memasak di rumah, selain elpiji. Pertama, ketemulah kompor listrik. Tetapi begitu tahu ukurannya besar (rata-rata di atas 500 watt), langsung pingsan. Padahal belum ngitung secara matematis, tetapi 500 watt, dikali berapa puluh menit sehari (waktu yang dibutuhkan untuk memasak), dikali satu bulan itu pasti ketemunya angka yang sangat besar. Apalagi tarif dasar listrik bakalan semakin naik karena subsidinya juga semakin diperkecil sama pemerintah. Ah, nggak jadi deh.

Gas alam?

Oke, saya lalu cari tahu nilai keekonomisannya. Ketemulah tulisan bahwa perbandingan antara 1 kilogram gas elpiji, itu setara dengan 1,3 meter kubik gas alam. Waahh, dengan harga elpiji yang Rp. 7.000,- per kilogram dan gas alam Rp. 3.200,- per kubik untuk rumah tangga menengah, hasilnya jauuuhhh lebih ekonomis! Kaget banget lho saya, hasil itu kan scientific, bukan katanya-katanya lagi. Trus, kalau rumah kita di rusunawa, berdasarkan daftar harga gas alam dari BPH Migas, kita cuma bayar Rp. 2.600,- saja per kubiknya sodara-sadara! Hayo pada dipencet masing-masing kalkulatornya. Saya aja nggak percaya ini, sambil masih pencat-pencet kalkulator nulisnya.

Trus, belinya ke mana? Nah ini nih! Gas alam ini disalurkan ke rumah-rumah melalui instalasi jaringan pipa gas bumi bumi oleh PGN (Perusahaan Gas Negara) di dalam tanah. Nggak kelihatan gitu… Jadi, kalau mau tahu daerah rumah kita sudah dilewati dan terpasang oleh jalur pipa gas PGN, bisa telpon ke contact center 500645. Saking ambisius pengen pasang di rumah saya dan pengen pasangin juga di rumah orang tua di Bekasi, saya langsung telpon tuh. Dijawab sama Mbak Lita, saya diarahin untuk telpon kantor penjualan PGN area Bekasi di Jalan Boulevard Selatan Blok A 11-12 Ruko Sinpasa Sumarecon Bekasi (021) 295 72216. Dan untuk kantor penjualan PGN area Jakarta di Jalan Anyer No. 11 Jakarta Pusat (021) 3924910.

Setelah saya telpon, saya bisa dapat informasi bahwa tempat terdekat dari rumah saya yang sudah terpasang jalur pipa gas PGN itu adalah di HOTEL MULIA! Jreeennng!!! Itupun masih jauh bener, sodara! Beberapa kilometer lagi. *nasib rumah di pinggiran* *cuma bisa nunggu kebaikan hati pemerintah biar segera dipasang sampai daerah pinggiran*

Balik lagi ke video di atas. Lihat testimoni pemakai di rusunawa Bidaracina kok ya jadi ngiler. Praktis gitu. Saat orang-orang harus kebingungan cari gas elpiji yang terkadang langka, mereka tinggal jekrekin kompor setiap saat, tanpa harus mikir kekurangan gas. Kalau gas elpiji langka kan susah juga, ngiter-ngiter ke beberapa toko, kalau kosong kan lumayan keringetan nenteng tabung gasnya. :mrgreen: Soal praktis ini juga termasuk kepraktisan pembayaran ya. Dilihat dari tayangan video tadi bayarnya di ATM, jadi tinggal masukin kartu doang, udah deh sekalian bayar tagihan listrik dan air (PALYJA).

Soal keamanan, testimoni penghuni rusunawa Bidaracina juga bilang aman-aman saja. Saya kan nggak langsung percaya ya, namanya juga gas. Cari tahu dulu dong ya, masak cuma gara-gara nggak perlu bongkar pasang tabung gas trus dibilang aman? Ya memang sih, regulator gas itu yang paling ngeselin, karena saya pernah ngisi gas malam hari, besoknya udah tinggal dikit doang (saya pasang yang bisa ketahuan isi tabungnya itu). Ternyata ngeses, bocor. Trus, gimana tuh kalau gas alam bocor? Tenang, gas alam pun dikasih odorant (atau zat pembau) saat didistribusikan, sehingga saat terjadi kebocoran juga gampang terdeteksi. Dan dari yang saya baca, justru yang paling bikin tenang akan keamanan gas alam ini adalah karena tekanannya kecil. Perbandingan tekanan gas alam dan elpiji adalah 1 dibanding 600. Tak heran, kita sering mendengar berita ledakan tabung gas (elpiji). Sedangkan jika ada kebocoran pipa gas alam, gas akan menguap, dan pastinya sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan, kita bisa lapor ke petugasnya.

Ah, senengnya ya, yang jadi warga rusunawa Bidaracina. Dan warga-warga rusunawa lainnya yang sudah dialiri gas alam di rumahnya. Kenapa? Karena mereka bebas dari rasa was-was akan kenaikan harga. Harga yang mereka bayar sekarang ini kan sudah harga tanpa subsidi, artinya tidak akan ada lagi kenaikan harga yang signifikan. Sedangkan kita? Harga elpiji yang kita pakai sehari-hari ini kan sebagian masih menjadi tanggungan pemerintah. Masih disubsidi. Subsidinya dikurangin dikit aja, kita udah menjerit, kalau subsidinya dicabut, gimana?

Mbok pemerintah mewajibkan saja itu penduduknya yang sudah mampu supaya semua pakai gas alam aja. Kayak Jokowi yang dengan tegas mulai mengurangi polusi dan nekat membeli armada TransJakarta yang berbahan bakar BBG meskipun menuai banyak kecaman, gitu lho… Saya sih berharapnya Jokowi serius ya mewujudkan Jakarta Kota Gas, biar nggak cuma rusunawa aja yang dialiri gas alam. Rumah-rumah penduduk non rusunawa juga kebagian aliran gas. *berdoa*

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

41 thoughts on “Jadi Kita Pindah Ke Gas Alam Aja, Nih?”

  1. Gas alam di bekasi sudah beberapa ruas jalan terpasang. Namun tidak semua perumahan dilewati jalur pipa. Bagi yang sudah dilalui akan mudah proses ndaftarnya, bagi yang belum dilalui, naaah nunggu dengan kesabaran tingkat dewa

  2. Itu, LNG sama dengan menggunakan gas metan gak ya? Kayanya ada satu alternatif lagi, yaitu gas metan. Gas metan sbenernya lebih mudah dan everlasting, karena selalu kita hasilkan setiap paginya :mrgreen:

    Jadi konon, dari septiktank kita bisa dimodif menjadi sumber energi loh… Cm tekniknya gimana saya juga belum tau persis. Seandainya bisa, wah bener2 green energi tuh, “sisa” kita pun masih bisa dimanfaatkan… :mrgreen:
    Tatang Tox selesai posting Semarak Panggung Gembira KBRI Singapura 2013

  3. Mungkin kita perlu pemimpin dan investor yang punya visi jauh ke depan. Soalnya investasi awal untuk pemasangan jaringan pipa gas alam agar sampai ke rumah-rumah pasti tidak sedikit. Jika targetnya jangka pendek, ya rugi investor. Tapi kalo targetnya jangka panjang, masyarakat bisa lebih optimis untuk dipasang. Apalagi katanya cadangan gas alam negara kita termasuk yang terbanyak di dunia … Jika tidak bisa dimanfaatkan, sayang amat ….
    slamet selesai posting Tips Memilih Pisau Dapur Set Yang Bagus

  4. Saya kok suka takut kalo pake elpiji.. Takut mbledos.. kayaknya lebih enak pake kompor minyak.. Masih ada seni-nya waktu nyalain sumbu apinya. hehe

    oh ya, itu kompor listrik yg butuh daya diatas 500 watt beneran ada??? kok ugal-ugalan gitu 😀

  5. Nganjuk jarene wis dilewati gas alam sih, cuman belum disosialisaikan mungkin ya, atau diriku ae sing kuper. Haha.. Ndik omahku jik nggawe elpiji sih.

    Eh memang indonesia ini perlu pemimpin yg sedikit nekat dan sedikit maksa, gak klemar klemer gak tegas kayak yg itu.. Yamasa rapat tentang gunung Kelud, ngomongnya satu jam per kalimat. Klemaar klemeeer.. Duuuh..
    ndop selesai posting Jangan Takut Sebut Merek

  6. seandainya memang diadakan konversi ke gas alam.Sebaiknya pemerintah bebar2 siap dalam memanage semuanya.Supa tidak terjadi tumpang tindah yang lagi lagi membuat masyarakat merasa di rugikan..
    Rahasia Cantik dan Ganteng Orang Asia selesai posting Nitric Oxide Produk Glutera

  7. Pakai gas alam aman kok. Keluarga saya sudah lama pajak gas alam. Pertama kali waktu tinggal di cirebon tahun 90-an terus sekarang di bogor pun sudah hampir 20 tahun. Aman dan lancar, hampir nggak pernah ada gangguan.

  8. wah smakin maju aja yaa,,tp mslhnya saya di kota Malang JAtim msh belum mendengar tentang kapan mulai pemasangannya,,hehehe,,masih lama mngkn,.,,berharap segera aja deh,,krn jujur,,aq suka was was sendiri kalo liet kompor gas skrg,,kalo masak suka takut2 sendiri,,suka horor,,secara byk kejadian kompor gas meledak

  9. Saya senyam senyum aja melihat komentar om, tante, ibu dan bapak2 di sini. Perkenalkan saya adalah kontraktor yg bekerja di PGN, terus terang rumah keluarga saya di perumnas 3 bekasi timur sudah di pasangi gas sejak tahun 2001 silam, aman2 aja tuh, justru konsumen yg membeli elipjii yg sangat berbahaya, kenapa? karena konsumen sama saja membawa “bom waktu” ke rumah sendiri. Alangkah baik nya kita terus mendukung peran aktif pemerintah agar seluruh rakyat indonesia dapat menikmati gas alam di negeri sendiri, toh kita dulang dan kita2 juga yg menikmati sendiri bukan negara lain. Sekian dan terima kasih, mohon maaf bila ada salah kata dalam komentar saya ini

  10. Punyaku kok ngeses ya dari awal pasang.. masih baru loh.. tapi gak ada bau…
    Suka gak mau nyala juga, jadi harus berkali-kali cetekin kompor sampe bener-bener nyala..
    apa memang gitu kalau gas alam ya?

  11. Saya jualan elpiji, dulu waktu pertama konversi dari mitan kita juga andil dalam sosialisasi, sekarang setelah masyarakat sudah terbiasa pake elpiji sekarang mau diarahkan pake jargas, lha pangsa pasar elpiji tabung tentu saja mau tidak mau bakal kena dampaknya, apa nggak dipikirkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge