Ketika Kita Bernyanyi

Aku hanya bisa tertunduk ketika gitar itu mulai kau petik.

Seandainya aku masih bisa memilih.
Akan ku pilih engkau sebagai kekasih sejatiku…

Memang tidak semerdu Andi Fadly menyanyikannya untukku. Tapi sudah cukup membuat buluku berdiri sesaat. Aku tahu lagu itu untukku.

Kau pasti dengan sengaja menyanyikannya. Kau tau aku sangat sensitif dan selalu menghayati setiap lagu yang kudengar.

Kau pernah memergoki aku meneteskan air mata kala seorang pengamen di bus kota menyanyikan lagu sedih. Padahal kau tau aku sedang tidur.

Maka kau gunakan kelemahanku itu untuk merayuku. Ya! Aku merasa sekarang engkau sedang meluncurkan rayuanmu.

Tetapi bukan aku namanya jika tidak mudah menguasai keadaan. Dengan cepat kuputuskan untuk ikut bernyanyi walaupun aku tak bisa menjadi suara dua seperti yang biasanya kau lakukan ketika aku yang bernyanyi.

Semoga pipiku kali ini tidak bersemu merah menandakan kegeeran yang terlihat orang lain. Semoga sinyal-sinyal dan medan magnet di udara tidak mengirimkan tanda telah terjadi debaran di dada ini.

Aku nggak bisa terima.

Jangan sampai kebodohanku yang sama terulang kembali.

Cukup.

Tak perlu menyakiti hati sesama lagi.

Maaf, ya!

———————————————————————

No related post.

7 thoughts on “Ketika Kita Bernyanyi

  1. wah…lagi melow ya.. 😥 jgn kwtr kadang ketegasan hati memang menyakitkan tetapi dilain sisi kita butuh itu… 😉 sekarang tersenyumlah…
    salam kenalku
    .-= haciiiiiiiiiii´s selesai [nulis] ..CPNS Pekerjaan Umum (cpns PU) 2009 =-.

    Salam kenal juga… 😀

  2. Ya sudah aku maapkan dirimu mbaq,,,, :mrgreen:

    Maap lahir bathin ya… Selamat menikmati perjalanan mudik, semoga selamat sampai Klaten sana…
    .-= casrudi´s selesai [nulis] ..Panduan Mudik Asyik 2009 =-.

    Hihihi, sudah dimaafkeun ya? ❓ 😳

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge