Kunjungan Ke Lampung
Kali ini saya mau cerita nih, soal perjalanan 3 hari ke Lampung.
Berangkat 3 jam setelah selesai Seminar. Bisa membayangkan gimana capeknya saya waktu itu? Setelah marathon menyiapkan acara, dan sukses digelar tanggal 31 Januari 2008, seminar selesai jam 5 sore. Langsung beres-beres, bawa pulang kompie dan segala peralatan yang dipake di Century ke kantor. Untung kantor deket banget dari Century…
Berdua dengan teman, kami segera cari taksi dan meluncur ke Kebon Jeruk, tempat yang disepakati untuk kumpul dengan teman-teman lainnya. RC** Pak, begitu saya mengorder ke sopir taksi. Kondisi badan yang lelah membuat kami langsung sukses tidur. Dan terbangun ketika terjadi keributan karena adanya bentakan-bentakan amat kasar:
”Mau kemana?”
”Ketemu siapa”
Saya lantas berpikir, ngapain saya ditanya-tanya?
”Mau ketemu Pak A***”
”Siapa itu? Karyawan bukan? Udah, turun sini aja kamu!”
”Turun, turun!”, temannya menimpali.
Saya dan teman nurut saja, turun. Dengan baju kucel dan bersendal selop Hotel Century, ransel di punggung.
“Kamu tunggu di sana saja!”
Diikuti omelan-omelan yang nggak begitu jelas lagi, karena saya dan teman sudah mulai beranjak dari situ.
Hati ini ingin berteriak. Begitukah penghormatan kita terhadap orang lain yang hanya diukur dari segi penampilan kita? Saya tahu, kalo di Televisi itu, penampilan adalah segala-galanya. Makanya hanya yang mulus dan bisa diajak tidur bos kinyis-kinyis yang bisa melewati gerbang itu.
Saya bilang ke teman, kalo saya pengen kembali ke penjaga palang pintu tadi dan menunjukkan kartu identitas tempat saya bekerja, agar dia bisa sedikit menghormati orang. Teman saya melarang, sudahlah, nggak ada gunanya itu. Kalo setiap kali kamu berurusan dengan orang lain harus memanfaatkan selembar kertas itu, kamu juga hanya akan dihormati orang karena itu saja. Adem lagi pikiran saya. Ternyata, “direndahkan dan dianggap bukan siapa-siapa” rasanya enak juga.
Nunggu di pinggir jalan raya sekitar 10 menit, teman lainnya datang. Kami berenam dengan satu kendaraan meluncur ke Lampung. Sepanjang perjalanan ujan amat deras mengguyur. Kami hanya berenti satu kali untuk isi bensin dan ke kamar kecil.
Sampai di Lampung Tengah, kota tujuan kami jam 4 subuh. Saya mencoba sms teman blogger, tetapi rupanya dia di Kota Bandar Lampung. Jauh. Saya di Terbanggi Besar, Lampung Tengah dan menginap di Hotel Lee.
Istirahat tidur sebentar, jam 8 pagi sudah harus bangun dan meluncur ke Desa Onoharjo, tempat akan dilangsungkannya acara Mega Menyapa Rakyat.
Panitia lokal ternyata top banget, nggak banyak masukan yang perlu kami sampaikan untuk perbaikan. Susunan acara memang belum 100% fiks, yang difokuskan persiapan fisik dulu. Hanya saja karena hujan nggak berhenti mengguyur, membuat lapangan sedikit becek, perlu untuk membeli pasir atau sekam, agar tidak licin.
Kami lalu mampir ke rumah Pak Surono yang sudah pernah saya ceritakan di sini. Rumah dengan sejuta jendela, begitu beliau menyebutnya. Karena terbuat dari bilik bambu. Bukan karena beliau miskin, tetapi karena filosofinya. Tawaran jabatan sebagai Kepala Badan Pertahanan Pangan Provinsi Lampung saja ditolaknya langsung. Pak Surono inilah breader benih padi unggul lokal MSP yang kapasitas produksinya bisa mencapai 11 sampai 14 ton per hektar. Melampaui hasil padi hibrida import.
Jam 1 siang, saatnya untuk makan. Dari awal menginjakkan kaki di Lampung Tengah, seorang kawan sudah ”terpikat” dengan spanduk yang terbentang bertuliskan ”Sate Sapi Kiloan”. Jadilah kami meluncur ke Warung Jakarta, di sebelah Masjid Istiqlal (ini di Lampung Tengah, lho..). Menu yang kami pesan, sate dan sop sapi.
Setelah makan, kembali lagi ke Hotel untuk istirahat, soalnya nanti malam harus mengecek sekali lagi persiapan panitia, baik panggung maupun susunan acara yang sudah fiks.
Makan malamnya, kami sepakat mencari warung tenda pinggir jalan. Ditambah satu orang Lampung, bertujuh kami makan nasi uduk dengan bebek goreng dan teh manis. Hanya menghabiskan 100 ribu perak!
Kami di lapangan sampai jam 1 pagi, karena ada sedikit acara yang tidak disetujui oleh Tim Mega, yang saat itu sedang di Palembang mengikuti acara puncak HUT PDI Perjuangan. Komunikasi Lampung_Palembang lumayan alot. Deal dicapai jam 1 pagi.
Balik lagi ke Hotel Lee, dan menghabiskan sisa hari di balik selimut. Enak banget, kali ini jam 10 pagi baru bangun. Mandi dan makan lagi. Warung tongseng jadi tujuan kami. Selesai makan jam 1, balik lagi dan ngobrol-ngobrol di Hotel. Begitu ada kabar dari tim bahwa rombongan Mega sudah dekat, baru kami meluncur ke lokasi.
Mega mampir ke rumah Pak Surono sebagai penghormatan kepada beliau yang menyerahkan padi temuannya dan diberi nama MSP. Bukan singkatan Megawati Sukarno Putri, tetapi Mari Sejahterakan Petani. Saya sempat agak keki dengan Paspampres karena kamera saya ditutup dengan tangannya.
“Jangan difoto dulu, Mbak”
“Kenapa?”, saya langsung nyolot.
”Ibu lagi makan”, bisiknya. ”Nanti sebentar lagi ya…”
”Nah, sekarang boleh”
Klik. Klik. Klik. Fotonya kapan-kapan.
Pelajaran penting yang patut diingat, untuk acara-acara outdoor seperti itu, nggak perlu pake high heels, tapi berhubung cuma bawa satu sepatu, ya musti dipake. Masak pake sendal selop Hotel century, jangan-jangan nanti diusir lagi sama kaya waktu di RC**.
Kamu ngapain deket-deket Mega, tampangmu gembel gitu! Hahahaha…
March 3rd, 2008 at 5:22 am
Eh, jadi itu di lampung ada juga masjid yg namanya Istiqlal???
Wahaha… Jadi yg bsa ketemu orang penting ya orang yg “penting” juga ya…
Klo rakyat jelata “penting” gak yah?? Hmm…
March 3rd, 2008 at 5:44 am
wew.. itu termasuk murah or mahal neh mba?? btw kenapa bukan gajah goreng yah?
March 3rd, 2008 at 7:36 am
wah…ke Lampung yak? kayaknya waktu itu aku di Lampung gak ya?
March 3rd, 2008 at 7:38 am
*ngakak baca comment ridu*
March 3rd, 2008 at 9:28 am
Gak bener banged itu. Belum tentu dia lbh baik hanya gara2 bajunya lebih rapi…
Klo misalnya kita lawan, apa akan makin dipersulit ya…?
March 3rd, 2008 at 11:09 am
waduh sayang ya gak bisa kodpar ma temen2 blogger lampung…oiya, saya prihatin atas kekurangajaran sopir taksi yg kurang care..
March 3rd, 2008 at 11:23 am
kekna haihilsna bakal lebih sering istirahat, kalo emg frekuensi ketemu “wong cilikna” makin tinggi.
senang nemu blog punya seorang wanita yang - merujuk pada halaman perkenalan - galak, sensitif, mandiri, cinta kampung halaman tp malah keasyikan ‘ngelayap’, bisa sehat ‘hanya’ dengan menulis… dan yg terpenting: masih sendiri.
March 3rd, 2008 at 1:36 pm
wah, dapat pelajaran berharga bagaimana kita mesti bersikap ketiks direndahkan orang hanyakarena tampilan fisik. tapi sungguh loh, mbak. kalo saya ndak sabaran. dia orang udah saya ajak main debat. *halah kayak calon bupati* hiks. okelah, mbak, kayaknya pihak manajemen hotel juga perlu tuh ditatar bagaimana cara menghormati tamu.
March 3rd, 2008 at 3:42 pm
saya nunggu fotonya aja deh! hehehe…
March 3rd, 2008 at 4:31 pm
ck..ck..ck..
cape baget ya mba..
top dah..!
March 3rd, 2008 at 11:51 pm
besok2 jangan lupa nyiapin sepatu trepes ( pantopel yg datar alasnya ) buat aneka kegiatan…..dijamin lebih fleksibel drpd sandal…..
March 4th, 2008 at 12:49 am
Oleh2 nya mana???
March 4th, 2008 at 3:38 am
jeng, sampeyan itu wartawan kepresidenan ya?
wah enak dong bisa liat para penjabat terus :-”
March 4th, 2008 at 3:49 am
ya begitulah mba.. pepatah ‘don’t judge the book by it’s cover’ belum banyak yg bisa praktekin, masih menilai orang berdasarkan penampilan fisik..
wuih, kebayang capeknya mba.. tapi asyik juga lah bisa jalan2.. ketemu orang2 hebat pula..
di sana ada istiqlal juga toh? bentuknya jangan2 mirip istiqlal yg di jkt, hehe..
ditunggu foto2 MSP-nya
March 4th, 2008 at 3:59 am
kapan yah, org bs dihargai ga krn kedudukannya semata?
March 4th, 2008 at 6:51 am
Aslkm…ini ceritana ketika ibu mega masih jadi presiden ya mbak? ada paspamres segala….udah lama juga ya, baru di postingan sekarang….tp nggak pa2 lah…oiya foto2nya mana ya?
- $ -
Bukan. Ini masih bulan Februari 2008 kok. Baru kemaren. Semua mantan presiden tetap punya paspampres, Pak. Nanti kalo ditembak seperti Gandhi gimana?
March 4th, 2008 at 6:54 am
##Diikuti omelan-omelan yang nggak begitu jelas lagi, karena saya dan teman sudah mulai beranjak dari situ. ==Begitukah penghormatan kita terhadap orang lain yang hanya diukur dari segi penampilan kita? ##
Kalo Bob Sadino yang kesana ketemu Satpamnya apa dia juga ngomel-ngomel gitu ya?
- $ -
Ada dua kemungkinan: Kalo dia naik taksi [sama kayak saya] sepertinya nasip Pak Bob mirip juga dengan yang saya alami. Tetapi kalo naik Mercy atau Limo, ya kayaknya langsung bisa masuk tanpa diperiksa… hahaha
March 4th, 2008 at 7:43 am
aku ndak pernah ke lampung tuh
empunya blog: sapa sih lo?
March 4th, 2008 at 1:28 pm
Hmmmm….
Saat ini penampilan memang masih sangat menjadi sorotan. Orang masih suka menilai seseorang dari penampilannya. Menyedihkan ya..
March 5th, 2008 at 5:09 am
Koq bisa pas yach?
March 5th, 2008 at 7:57 am
SAYA BANGGA DENGAN PAK SURONO, KALAU BISA BUAT BENIH UNGGUL SENDIRI NGAPAIN IMPORT?
March 5th, 2008 at 7:58 am
rUMAH bARU yA..iS? UENAK YAH…
iSI BLOGNYA KHAS……
- $ -
Nggak baru-baru amat sih, udah mulai Januari.
March 5th, 2008 at 8:46 am
waduh…comment apa yak? dah..mata ketemu mata aja dah. hopefully for having ‘tuturan’ from u…
May 26th, 2008 at 11:40 pm
wah kenapa nggak mampir ke bandarlampung?blogger siap menyambut padahal he he he