Lebaran?
Carilah ilmu sampai ke Negeri China.
Mengapa harus ke China? Sekarang, nggak perlu repot-repot terbang ke sana, toh warga keturunan Thionghoa sudah buanyak menetap di Indonesia.
Saya bukan mau cerita tentang hadist Nabi Muhammad tersebut, tetapi mau membahas soal Lebaran tahun 2007 yang sampai saat ini [oleh pemerintah] belom jelas akan jatuh tanggal berapa.
Muhammadiyah telah menetapkan Lebaran tanggal 12 Oktober 2007. Pemerintah dan NU masih menunggu isbat tanggal 11 Oktober 2007 nanti. Beberapa tahun belakangan ini, umat kebingungan karena ada dua hari Lebaran yang berbeda versi.
Sudah saatnya bagi kita untuk mengingat kembali nasehat Rasululloh sekitar 1400 tahun yang lalu: Carilah ilmu sampai ke Negeri China.
Dengan penduduk yang berjumlah 1,6 Milyar orang, ditambah dengan keturunan Thionghoa yang tersebar di seluruh dunia, baik di benua Amerika, Eropa, Australia, Asia [termasuk Indonesia] dan mungkin sedikit di benua Afrika, bisa jadi hampir ada 2 MilyarA] orang China yang setiap tahunnya merayakan Imlek.
Pada mulanya imlek adalah hari untuk memperingati pergantian musim bagi petani di China. Sampai tahun ini, sudah tahun ke 2558 (Cia Gwee). Tapi belom pernah orang China berbeda pendapat soal kapan imlek ini harus dirayakan. 2 Milyar orang akan merayakannya pada saat yang bersamaan.
Kembali lagi kepada Lebaran. Tahun ini adalah Lebaran ke 1428 H. Sepertinya bibit perbedaan perayaannya masih mungkin terjadi di Indonesia. Padahal penduduk Republik ini hanya berjumlah 220 Juta orang. Sesulit itukah menentukan hari Lebaran?
Saya pernah membacaB] bahwa Nabi dulu menentukan kapan waktunya berpuasa hanya berdasarkan dari seorang [ya, satu orang] ahli yang memberitakan kepada Beliau bahwa bulan sudah terlihat, sudah waktunya untuk mulai berpuasa. Dan Nabi pun memerintahkan kepada umatnya untuk berpuasa. Begitu pula ketika Lebaran.
Sekarang, rupanya sudah tidak ada seorangpun yang bisa sama-sama dipercayai oleh bangsa Indonesia untuk menentukan kapan kita sudah boleh Lebaran.
Pada akhirnya, ketika terjadi lagi khilafiah [perbedaan akibat interpestasi dalil dalam kerangka syariah], kita harus menerapkan “Perbedaan Adalah Rahmat”. Dan sebagai umat, kita harus mampu saling menghormati dan menghargai perbedaan.
Taqobbalallohu minna wa minkum, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Selamat merayakan hari kemenangan sesuai dengan keyakinan Anda.
A] Hitungan ini berdasarkan perkiraan sendiri dari hasil membaca.
B] Sayangnya, saya lupa sumber bacaan saya.
October 4th, 2007 at 12:52 pm
Isnuansa ada TAG dari pitshu di kerjain yah darling ^^
Ditunggu postingannya ^^
http://ornitier.blogspot.com/2007/10/pr-jeung-susi-masa-kecilku.html
Thanx,
October 4th, 2007 at 1:42 pm
bingung ya mbak mau ngikutin yg mana?
ikut pemerintah aja…
October 4th, 2007 at 2:08 pm
bener juga ya orang Tionghoa bermilyar-milyar merayakan imlek dalam waktu yang bersamaan? saya baru kepikiran sekarang. Well gak bisa disamakan juga sih secara mereka tidak menetapkan tanggal secara rukyat
October 4th, 2007 at 4:07 pm
wah..wah kalo saya sih ikutan yang tanggal 1 syawal aja
October 4th, 2007 at 5:46 pm
idem saya juga ikutan tgl 1 syawal..hehhehehe
btw, blognya sdh sy linkback yaa..tQ
October 4th, 2007 at 6:57 pm
setauku sih penentu lebaran ato bukan itu tergantung keadaan bulan diatas sana..jd bisa aja tiap negara beda2 … mungkin di indo terjadi perbedaan karena itu, yg satunya ngikutin lebaran di saudi arabia, yg satu lagi melihat dr keadaan bulan…
October 4th, 2007 at 8:38 pm
saya teh..ikut yang umum aja atuh ngga mau puyeg-puyeng..lah….
October 5th, 2007 at 1:50 am
iya nih….tidak seharusnya ada 2 perbedaan tanggal hari raya…
orang Indonesia emang paling hobi buat rakyat mumet :P, padahal kalau di makkah, waktu wukuf juga bisa berbarengan…
October 5th, 2007 at 1:06 pm
orang luar sudah pada mendaratkan kaki ke bulan, kita masih sibuk “ngintip” bulan…
October 5th, 2007 at 1:41 pm
saya mah kebetulan ga lebaran. tapi ikut2an bingung juga sama tanggal lebarannya yg beda2. jadi kalao mau sms selamat lebaran ke handai taulan rada bingung. kalo di kalender mah tanggal 13 ya?
October 6th, 2007 at 2:35 am
kalo menurut saya, imam nya kan pemerintah jadi semua elemen ntah nu muhammadiyan yah nurutin pemerintah. pemerintah kan punya alat jauh lebih canggih, jadi percaya aja pada imam nya sehingga umat muslim khusus nya di indonesia gak bingung n fokus..
October 6th, 2007 at 3:58 am
emang bingungin kalo belum juga dikasih ketentuan. tapi biasanya yang bikin seneng karena hari liburnya jadi dobel-dobel.
mohon maaf lahir dan batin ya.
October 6th, 2007 at 6:06 am
22nya bener, yg pake rukyat ato hisab BENER semuanya… semua ada dasar haditsnya.
gak perlu dipermasalahkan, gak perlu bingung, tinggal kita bebas pilih yg mana.
“Perbedaan Adalah Rahmat”
October 6th, 2007 at 1:31 pm
Kapanpun hari rayanya, yang penting adalah puasa yang bener. Karena sesungguhnya hari raya itu adalah hari kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa (dengan benar).
Malem… lama nggak berkunjung. Makin banyak aja hit-nya! Hehehe…
Salam Perubahan!!
October 6th, 2007 at 5:20 pm
iya ya.. beberapa tahun belakangan memang selalu terjadi perbedaan pendapat ttg 1 Syawal. mudah2an aja perbedaan itu timbul bener2 karena landasan syar’i, bukan hanya karena (maaf) egoisme kelompok. kalo udah seperti itu sih kita kembalikan saja ke orangnya masing2 mau pilih yg mana, yg penting jangan sampai perbedaan itu malah menimbulkan perpecahan.
kalo aku karena kebetulan akan mudik, jadi kemungkinan akan ikut orang2 di kampung yg kebetulan lebarannya selalu kompak, dan biasanya sih selalu mengikuti penetapan lebaran oleh pemerintah.
selamat idul fitri juga ya Mba..
taqobbalallahu minna wa minkum.. taqobbal yaa kariim..
October 6th, 2007 at 7:08 pm
wah, aq msh bingung nih, mo lebaran kapan..taun lalu aq trpaksa buka siang2 di hr trakhir puasa gara2 ditelpon sodara dr Jawa yg ktnya udah liat bulan..
taun ini ntahlah…liat2 ntar di Semarang,soalx aq mo ke Semarang (kampungnya istri)..
sebenarnya sih kalo ada yg lebaran tgl 10 jga aq mau tuh…hehehe
October 7th, 2007 at 2:16 am
perbedaan hari raya sih klo menurut aku nggak perlu disikapi dg ‘bingung’ atau ‘heran’, apalagi diperbandingkan dg perayaan imlek. karena pada dasarnya penetapannya memang jauuuuhh sekali berbeda dg imlek, klo imlek murni berdasarkan hitungan kalender, 1 syawal bisa ditentukan dg dua jalan. yg pertama adl dg rukyat atau melihat bulan permulaan (yg penampakan bulan itu harus memenuhi syarat2 tertentu) dan yg kedua berdasarkan hitungan kalender (hisab). dua2nya tentu sama2 punya dasar kuat.
Dan sebenarnya, perbedaan hari raya bukan karena begitu sulitnya menentukan hari raya itu juga bukan karena egoisme kelompok kok, semua ada ilmunya, ada dasar hukumnya.
yg jelas sih, kita nggak perlu pusing pengen nyamain imlek, hadits Nabi SAW itu juga bukan berarti kita mesti sedikit2 berkaca atau mengukurkan sesuatu pada China
Mohon Maaf Lahir dan Bathin juga… *piiisss*
October 7th, 2007 at 9:34 am
ikutin yg rame aja, alias mayoritas!
lagian mendingan bersihin hati supaya kembali suci daripada mikirin perbedaan!!!
October 7th, 2007 at 12:28 pm
Kyknya emng pasti berbeda deh mba’ soal ketetapan awal dan akhir Ramadhan itu mengikuti datangnya bulan, bukan mengikuti ketetapan tanggal, tidak seperti hari2 besar agama lain seperti Natal dan sebagainya yang Tanggalnya sudah ditetapkan, masalahnya bulan itu bergerak mengelilingi bumi, jadi untuk tepat di suatu negara pasti waktunya berbeda…itu aja mba’…(maaf ya mba’nyambung ngg’ seeh mba’ komentar saya)
October 7th, 2007 at 4:50 pm
seandainya tidak ada perbedaan dalam lebaran, kekompakan kita akan terasa sangat indah ya, yah tapi mo gimana lagi, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. asal tidak fanatik dan menghargai pendapat lain aja kita bisa terus berjalan bersama. semoga perbedaan pendapat benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukannya malah memicu konflik ya
October 8th, 2007 at 4:04 am
Berbeda dengan Natal yang sudah pasti tanggal 25 Desember, sedekat yang saya tahu, imlek juga dihitung berdasarkan perhitungan “bulan”. Makanya tanggal perayaannya juga tidak pernah sama dari tahun ke tahun. Tetapi mereka selalu kompak. Inti postingan saya, yang perlu dipelajari dari mereka bukan cara menetapkan tanggal hari rayanya [karena kita sudah punya pedoman rukyat dan hisab]. Mohon koreksinya jika saya salah.
October 8th, 2007 at 4:26 am
dulu, karena selalu pemerintah yg menentukan tanggalnya jadi sama. sekarang, yg saya yakin krn pengaruh politis dan segala egonya, tiap lembaga yg berkaitan meras perlu mengeluarkan pernyataan sendiri, merasa paling benar dan gak mau lagi ngikuti pemerintah. sejak jaman reformasi tho?
Kita ikut pemerintah aja…
October 8th, 2007 at 7:43 am
bener, ngapain ke china..,apalg di samarinda..wuiih banyak bener..
October 8th, 2007 at 9:47 am
kalau saya selalu mengikuti apa yg telah ditetapkan oleh pmerintah saja. jadi gak usah pusing hehehe… BTW selamat Idul Fitri ya Mbak… Mohon maaf lahir dan batin.
October 9th, 2007 at 8:26 am
kata KH Hasyim Muzadi,..” orang barat sudah berlomba lomba menginjak bulan, kenapa kita masih ribut ribut masalah ngintip bulan ..”
October 16th, 2007 at 8:23 am
bener banget
hahaha makin sering aja perbedaan dan sekte2 baru bermunculan
October 22nd, 2007 at 11:41 am
Ya…., aku ikut pemerintah aja. Selamat merayakan Lebaran 1 Syawal 1428, Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon Maaf lahir dan Bathin. Salam Kenal