Main Ke Perpustakaan Nasional

Hari Sabtu lalu (14 Oktober 2017) kami sekeluarga pergi ke Perpustakaan Nasional yang baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi. Begitu masuk di lobby, Diana langsung minta foto bareng Jokowi.

Jokowi Perpusnas

Di situ juga dipasang semua foto presiden Indonesia, jadi Diana sekalian belajar. Yang sudah kenal banget sih cuma dua, Jokowi dan Ibu Mega, secara fotonya pasti lihat terus di kantor mama. Yang agak kenal dua lagi, papanya Ibu Mega (masih lupa-lupa namanya kalau diminta sebut Sukarno) dan presiden yang bisa buat pesawat terbang, Habibie (lihat di film Sopo Jarwo). Yang lain ntar aja diajarinnya. Hehehe.

Naik ke lantai dua, tempat buat pendaftaran keanggotaan. Penuh, nuh, di hari libur. Saya sudah daftar secara online, pas nyoba komputernya kok kayak nggak ada pilihan masukkan nomer pendaftaran gitu, adanya form buat daftar doang. Saya menuju bagian informasi, disarankan balik di hari kerja kalau mau cetak kartu anggota. Antrian sudah di atas nomer 500, sampai jam Perpustakaan Nasional tutup jam 16.00 dia nggak yakin saya akan bisa dilayani.

Ya sudah, langsung meluncur ke lantai 7 aja sesuai rencana awal, toh memang belum niat mau pinjam buku di Perpustakaan Nasional ini. Ibu di bagian informasi juga bilang, kalau sekedar baca dan main di lantai 7 gratis dan tidak perlu mendaftar terlebih dahulu kok.

Okeee, baiklah.

Di lantai 7 sepatu harus dilepas, tapi tempatnya belum ada. Jadi sendal dan sepatu ngampar begitu aja di depan pintu.

Sampai dalem, sudah penuh dengan ibu, bapak dan anak yang tersebar di setiap sudut. Diana langsung keliling, diikuti emaknya tentu saja, sedang bapaknya ambil beberapa foto, trus asyik berbincang dengan penjaga keamanan Perpustakaan Nasional ini.

Baca Buku di Perpustakaan Nasional

Koleksi bukunya sih menurut saya sudah cukup banyak, tetapi disiplin pengunjung yang baca sangat-sangat kurang. Buku bertebaran di lantai, di mana saja, dalam jumlah yang banyak. Sepertinya nggak ada kesadaran blas untuk mengembalikan apa yang sudah diambilnya ke tempat semula.

Begitu juga dengan mainan anak. Wow. Pating slebar di mana aja. Bubar sudah ajaran ke anak kalau begini. Mau minta anak buat beresin mainannya, pasti dijawab, bukan Nana yang ambil ke sini. Hayah.

Dan penyakit di tempat bermain umum yang paling banyak saya temui adalah, anak nggak mau gantian main. Wow. Dan orang tuanya yang nemenin anaknya diam seribu bahasa, padahal lihat mata anak lainnya berbinar-binar kemecer pengen nyoba mainan yang dipakai anaknya itu.

Dear bapak, ibu. Kalau mainan itu kamu beli sendiri, mau anak kamu kekepin 7 turunan juga nggak jadi masalah. Tapi kalau di tempat umum, mbok plis mulutmu itu coba dibuka, “Dik, gantian mainnya sama temennya!” Bisa, kan? Gemes banget kayak pengen nyakar mukamu yang lempeng itu, lho. Padahal anaknya udah megang mainan lebih dari setengah jam. HUH.

Perpustakaan Nasional

Gimana nggak bersungut-sungut ya. Kalau di jalan umum banyak yang main serobot gitu mungkin hati ini masih bisa maklum. Ini yang masuk Perpustakaan Nasional hampir semuanya terlihat berkelas dan terpelajar semua gitu, lho. Sekali lagi: berkelas dan terpelajar. Tapi kelakuan kok nggak sebanding. Dih.

Untung Diana diajak mainan mindah-mindahin balon aja udah seneng, meski matanya melirik terus pengen mainan rumah-rumahan itu.

Dan tumben, baru di sini di perpustakaan nasional ini, Diana nggak mau diajak main bricks. Hihihi, ya jelaslah, ternyata yang dipakai yang KW. OH PLIS PAK JOKOWI, MINTA TOLONGLAH GANTIIN DENGAN LEGO DAN DUPLO YANG ASLI. Di RPTRA di deket rumah saya aja yang di gang, LEGOnya nggak KW lho. Di Perpustakaan Nasional yang pengunjungnya membludak di akhir pekan gitu, bricks-nya langsung pada patah, Pak, diinjekin. Sedih.

Perpustakaan Nasional

Nggak begitu lama, di panggung di dalam perpustakaan, ada ibu pegawai yang mendongeng. Beberapa anak lalu duduk melingkar mendengarkan ceritanya. Sebagian ada yang kabur di tengah cerita, tapi ada juga yang menyusul masuk ikut mendengarkan. Di tengah cerita, ibu pustakawati memberikan hadiah kepada anak yang bisa menjawab pertanyaannya. Lumayan seru..

Kamipun segera mengakhiri kunjungan ke Perpustakaan Nasional, karena mau naik bis tingkat (lagi dan lagi).

7 thoughts on “Main Ke Perpustakaan Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge