Ketika saya mampir di rumah teman, Mamanya bertanya: “Mau ke mana sebentar?”
Saya jawab, “Owh, mau ke makam Raja-Raja Tallo, Tante…”
Dia langsung mengerutkan kening, “Di mana itu? Saya sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di sini belum pernah sampai ke sana.”
Hahahaha, nggak heran deh. Saya aja yang penasaran dan kurang kerjaan, jalan-jalan kok ke makam!
Saya lupa, hari ke berapa berada di Makassar saat jalan-jalan ke Tallo. Yang pasti siang itu panas banget. Sesampainya di kompleks makam, teman yang memang pada dasarnya penakut, wanti-wanti: “Pokoknya nggak ada acara foto-foto narsis di depan makam ya. Gw cuma mau fotoin makamnya aja, nggak ada alasan buat foto orangnya!”
Saya lantas minta ijin kepada penjaga makam untuk foto-foto makam yang ada. Makam sangat sepi, tak ada satupun pengunjung di sana, selain saya dan teman. Sungguh sunyi. Meski sunyi, makam ini sama sekali nggak serem. Tempatnya bersih dan terpelihara dengan baik.
Ada beberapa pertanyaan yang diajukan, antara lain: kenapa saya ingin foto-foto makam? Mati deh! Saya pun tak memiliki jawaban yang masuk akal kenapa jauh-jauh datang dari Jakarta hanya untuk melihat makam! Hahahaha. ![]()
Yang pasti, saya puas dengan jalan-jalan saya ke Makam Raja-Raja Tallo di Makassar. Banyak foto-foto yang saya peroleh. Kalo soal sejarahnya, sudah terlebih dahulu saya baca dari berbagai sumber.
Makam tersebut antara lain terdiri dari Sultan Mudhafar (Raja Tallo VII), Karaeng Sinrinjala, Syaifuddin (Raja Tallo XI), Siti Saleha (Raja Tallo XII), La Oddang Riu Daeng Mangeppe (Sultan XVI) dan I Malingkaang Daeng Manyonri (Raja Tallo pertama yang memeluk agama Islam), Raja Daeng Manyori yang mendapat julukan Macan Putih dari Talo dan Karaeng Tuammalianga ri Tomoro (Raja yang berpulang di Timur).
Bentuk makam yang ada terdiri dari beberapa tipe, yang seperti kubah bahkan dicat putih bersih. Yang seperti cungkup, terbuat dari batu-batu mirip candi, dibiarkan sesuai dengan warna batu dan agak-agak berlumut tapi eksotis. *halah*
Berlangganan via email yuk! Agar bisa menerima artikel terbaru dari blog isnuansa.com
Nb: Buka email anda & klik link konfirmasi berlangganannya.



makam khas zaman megalitikum yah mba?..
hehehe..bener gak ya..
bentuknya berupa punden berundak..perlambang mencapai puncak kahyangan…
.-= muamdisini selesai posting Wisata Kota Bontang (part 2) – Pulau Beras Basah =-.
Ada beberapa macam sih, ada yang kayak punden berundak, tapi ada juga yang pendek kok.
Ada yang mirip cungkup juga. Makamnya ada di dalamnya.
ga serem tah Mba ? hehehehe
.-= Debby selesai posting This Time For Africa =-.
Nggak sih Deb. Malah seneng, bisa jalan-jalan ke tempat yang sepi, yang orang belom banyak datangi ketika berkunjung ke suatu daerah…
….Aku sangat senang.., ternyata orang luar lebih sangat peduli dgn sejarah kampungku dibanding dgn orang dalam yg sdh sehrsnya lbh peduli… Skedar tambahan.., klo kerajaan Tallo itu adalah kerajaan kembar dari Kerajaan Gowa. Pd umumnya raja tallo jg menjabat sebagai mangkubumi kerajaan Gowa, tp ada jg sih raja Tallo yg jg menjadi Raja Gowa. Mereka tuh adalah Satu turunan. Disalah satu makam i2 yg anda sebutkan ada raja yg pernah menaklukan timor dan skitarnya (antara timur2…..sampe marege australia). Untuk teman2ku yg blum mengetahui ttg kerajaan makassar(Gowa-Tallo), mgkn dgn Raja Gowa Sultan Hasanuddin setidaknya (sy brharap) anda bs mengetahui…..ttg kerajaan Gowa-tallo.Btw…….@mbak nunik….knp g skalian ke- makam Raja-raja Gowa….! but anyway ty very much…..atas perhatiannya.