Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #3

Kopdar Dengan Abu Ghalib di Makassar

Kalau dihitung berdasarkan urutan waktu, tulisan ini meloncat jauh. Tapi nggak papa, karena berbeda dari tujuan saya jalan-jalan, ya saya duluin aja deh…

Jadi sebenernya saya sudah 3 hari berada di Makassar ketika itu. Memang saya sengaja nggak pernah apdet status facebook, bukannya nggak bisa, BB saya online sepanjang hari, tapi saya punya banyak alasan untuk nggak narsis di status Facebook. Salah satunya adalah menghindari Bos tahu posisi saya. Saya kan melarikan diri tanpa ijin. 😆 Alasan yang lain jangan ditanya ya apa. :mrgreen:

Hari Sabtu, saya sudah bebas, nggak mungkin dicari-cari lagi untuk urusan kerjaan. Saya pasang status bahwa posisi sedang di Trans Studio. Rupanya ada yang baca. Ada juga yang menawarkan diri menemani. Tapi saya punya jurus ngeles yang ampuh hingga akhirnya jalan sendiri. :p

Salah satu blogger yang sudah saya kenal meski baru dikit doang sih, mengirimi saya pesan. Minta ketemuan malam nanti. Saya iyakan. Jam 8 ya, jawab saya. Sudah saya sms beberapa kali, tak ada jawaban. Akhirnya saya memutuskan ‘memanggil‘ teman saya yang lain untuk menemani makan malam. Padahal rencana di benak saya, saya bakalan kopdar sambil makan malam.

Eh, pas jam 8 malam, baru sms balasan datang. Saya sudah terlanjur janji dengan yang lain. Saya bilang, ada dua alternatif, tetep ketemu malam ini, tapi pasti tengah malam, atau besok pagi saja karena saya akan mampir di rumah teman yang kebetulan dekat rumahnya. Rupanya pagi-pagi dia ada acara, ya sudah, kopdarnya dilakukan tengah malam, sepulang saya makan malam bersama teman.

Datanglah Mas Abu Ghalib ini ke penginapan saya sekitar jam 23.00an, ketika teman makan malam saya sudah pulang. Silahkan baca sekilas sanjungan beliau ke saya di sini. 😆 Ebuset, saya nggak segitu hebatnya kaleee

Ditemani secangkir kopi susu *halah bahasanya* kami ngobrol ngalor-ngidul soal banyak hal. Meski hanya berdua, seru deh kopdarnya, lebih intim fokus. 😆 Sampai-sampai hari sudah berganti ke Minggu. Jam 01.00anlah Bapaknya Ghalib pamitan.

Sebelumnya, sempat beberapa kali ambil foto, tapi lucu deh. Kirain hanya cewek doang yang rewel kalo difoto, harus begini harus begitu, cari posisi yang bagus dan pose andalan, ternyata eh ternyata, sesi pemotretan malam itu juga sempat berulangkali take, hingga akhirnya dicapai kesepakatan foto mana yang akan tayang. 😆

Yang kakinya jangan diambil lah, yang ngambilnya harus sambil jongkoklah supaya hidungnya terlihat lebih mancung, lebih ruepot deh dibanding saya yang cewek, hahaha, sori Mas, nggak tahan buat nutupin rahasia… 👿

Senangnya bisa ketemu blogger di Makassar, padahal tanpa rencana. Oiya, sekalian saya minta maaf pada ketua AngingMammiri (komunitas Blogger Makassar) Daeng Gassing, yang jauh sebelumnya malah sudah rencana mau ketemuan, eh malah nggak jadi. Waktu saya yang susah diaturnya. :p

Jauh-jauh hari sudah sms-an sama Pak Ketua AM minta kopdar, sayanya yang nggak konsekuen. Hehehe…

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

28 thoughts on “Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #3”

  1. wow..makassar..jadi pengen ke sana lagi neh..
    .-= sahabat blogger selesai posting Makna dibalik SMS =-.

    1. Iya, maaf, Mas. 4 hari rasanya kurang banget nih buat ngelakuin semua jadwal saya di Makassar, nggak mungkin kan kita kopdaran tengah malam juga? 😉

  2. saya tunggu artikel terbaru
    .-= Haryanto selesai posting Executive Summary: The Most Important Part of Business Plan =-.

  3. Waduh saya ketinggalan, baru baca.
    Jadi ketahuan sy rewel di depan kamera, hehe, maklum pernah jadi fotografer amatir jadi gatal rasanya lihat org motret dg posisi semaunya 😀
    Trims kopdar dan kosusnya, saat ini saya lagi di kendari, tunggu cerita versi saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge