Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #5

Objek wisata yang paling pertama saya kunjungi saat jalan-jalan ke Makassar adalah Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam. Terletak tak jauh dari tempat saya menginap, saya berjalan kaki seorang diri ke sana.

Hujan masih baru saja berhenti. Sudah saya tungu sejak pagi, ketika masih gerimis saya nekat jalan. Dan benteng masih dalam keadaan sangat sepi. Maklum, bukan hari libur. Hanya ada segelintir orang di sana. Lebih banyak pegawai museum daripada tamu yang ada.

Pendaftaran di pos satpam, tidak ada tarif yang pasti. Saat mengisi buku tamu, kita diberi kebebasan berapa saja uang ‘sekedarnya’. Justru sekedarnya itulah yang bikin bingung, mau ngasih sedikit nggak enak, mau ngasih gede, wong objek wisata lain aja tiketnya juga murah. 😛

Sesampainya di dalam, saya membeli tiket masuk ke Musium Lagaligo. Murah, kok. Hanya Rp. 3.000,- bisa buat masuk dua areal museum La Galigo. Nah, kalo jelas tarifnya gitu kan enak…

Sayang saya cuma jalan sendirian, jadi foto-foto murni cuma objek wisatanya aja yang saya dapet. Tak ada orang yang bisa dimintain tolong buat narsis-narsisan. Hahaha…

Isi museum lumayan lengkap, mulai dari kapal, pakaian adat, mata uang, alat-alat pertanian masa lampau, peninggalan sejarah, sampai pelaminan suku-suku yang ada di Sulawesi Selatan.

Bener-bener puas saya keliling museum, justru karena sendirian dan nggak ada temannya, saya bisa memperhatikan dengan tenang dan nyaman. Kalo orang lain mungkin udah ngeri juga ya, berada di lingkungan musium yang serem gitu sendirian. Hehehehe…

Satu hal yang saya dapat di museum Lagaligo Fort Rotterdam ini adalah: bisa mengambil gambar tempat ruang tahanan Pangeran Diponegoro!

Saya nggak tahu sama sekali jika ruangan itu tak boleh difoto. Saya sadarnya juga setelah kembali ke penginapan. Kebetulan teman saya mampir dan melihat-lihat gambar yang ada di kamera.

Lhoh, ini kok bisa ambil gambar ruangan Pangeran Diponegoro?” tanyanya.

Iya, tadi gw masuk ke sana. Emang kenapa?” jawab saya enteng.

Kan nggak boleh ambil gambar khusus di ruangan itu!” teman saya langsung teriak.

Yeee, bukan salah gw dong. Ruangannya nggak ada yang nunggu. Kosong. Gw masuk nggak ada yang ngelarang, nggak ada penjelasan di depan pintu, ya gw foto-foto aja tuh ruangan!” saya menjawab tak kalah sengit.

Hahaha, ternyata ruangan yang saya abadikan gambarnya tersebut biasanya dilarang dipotret. Tapi ya akhirnya saya simpen aja, nggak saya aplot baik di facebook maupun di blog. Biarin di komputer saya aja.

~~~

Seperti biasa, jika ingin melihat foto lengkap saya saat jalan-jalan ke Makassar, add facebook saya. Tapi sekarang saya lebih banyak nongkrong di Twitter, follow saya ya @isnuansa, dan jadi teman saya di Foursquare. Terimakasih.

Cerita sebelumnya:

Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #1
Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #2
Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #3
Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #4

15 thoughts on “Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #5

  1. namanya kok mirip benteng yang ada di jogja ya…. (ya iya lah, sama2 bikinan belanda)
    .-= Ariyanti selesai posting Penampangan Sauskecap.com di Majalah Chic =-.

    1. Kalo makamnya Pangeran Diponegoro boleh di foto. sayang saya ke sana pas tutup.

      yang ini ruang tahanannya Bunda yang nggak boleh difoto…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge