Menyusuri Pasir Putih Pantai Slili Yang Sepi

Libur Lebaran kali ini, saya tidak begitu ngoyo untuk bisa banyak jalan-jalan ke tempat wisata. Sadar diri karena hamil usia 5 bulan, jadi mengikuti kemampuan badan saja. Meskipun di trimester kedua ini kondisi badan sudah lebih nyaman dibandingkan trimester sebelumnya, tapi ya nggak bisa terlalu diforsir juga, bukan?

Nah, incaran tempat wisata yang akan didatangi masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya: ke pantai yang ada di Gunungkidul. Bedanya, tahun ini memang sudah rencana akan menginap, supaya lebih tenang jalan-jalannya, tidak diburu waktu harus segera kembali ke Klaten.

Dari beberapa penginapan low budget yang saya baca reviewnya, saya memutuskan untuk menginap di dekat Pantai Sundak. Oke, Pantai Sundak memang belum pernah kami kunjungi, jadi paslah.

Mendekati hari H, suami malah usul menginap di Radika Paradise Villa & Cottage. Saya juga sempat baca review teman yang pernah menginap di sini sih, tapi setahu saya pembayaran per orang. Suami bilang enggak, ada kok yang per kamar, bisa dilihat di Traveloka. Sip, akhirnya setuju saja, lagipula point saya sudah bisa ditukar lagi meskipun bulan lalu sudah dipakai buat nginep di Artotel Sabang. Terima kasih Pak Bos yang tiap minggu bolak-balik ke luar kota terus, sehingga point saya cepet kekumpul banyak.

Hotel ini sekitar dua atau 3 tahun lalu saat saya ke Pantai Indrayanti masih dalam pembangunan. Nggak nyangka tahun ini bisa nginep di sini. Review hotelnya nanti di tulisan terpisah ya.

Dari penginapan, banyak pantai yang bisa didatangi. Yang paling dekat sih Pantai Indrayanti ya tentu saja. Karena sudah pernah, saya melipir ke Pantai Sundak. Tapi akhirnya batal juga mantai di Sundak. Bablas lagi cari pantai lainnya. Ketemulah dengan Pantai Slili yang sepi.

Sepi bener-bener sepi ya. Sampai semua pedagang aja tutup lho di pantai ini. Saya sampai memang sudah agak sore sih, hampir jam 16.00 di hari kerja di bulan puasa, sekitar seminggu menjelang Lebaran.

Deretan gazebo yang ada di pinggir pantai menjadi tak bertuan, bisa dipilih mana saja yang mau dipakai tanpa harus menyewa ataupun membeli makan dan minum pada pemilik warungnya.

Tapi ya kami tidak duduk-duduk di gazebo juga, langsung turun ke pantai buat bermain air. Diana sih sudah pasti tidak bisa dihalang-halangi buat nyebur basah-basahan. Berdua dengan bapaknya, mulai menggali pasir membentuk sebuah cekungan besar lalu masuk ke dalamnya. Diselingi juga dengan mencari rumah kerang dan batu-batuan pantai serta terumbu karang yang sudah mati.

Garis Pantai Slili yang panjang, menjadikan suasana semakin sepi. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan pasir putih dan tebing karang di sebelah barat dan timur. Ikon baru Pantai Krakal nampak di kejauhan di arah barat. Sedangkan di arah timur entah pantai apa saya tidak tahu pasti. Terlihat juga karang dengan watu bolong di sebelah timur.

Ada sedikit drama, saat di pantai, saya cari kamera di dalam tas sampai semua barang dikeluarkan, nggak ada juga. Waduh! Ini kamera lumayan harganya dan baru beberapa kali dipakai, jangan sampai hilanglah! (Lupa saya tadi dimasukin ke tas atau masih di meja kamar hotel.) Jadi terpaksa semua foto hanya diabadikan dengan kamera ponsel biasa. Hadeh, jauh-jauh jalan-jalan, nggak bisa foto banyak-banyak dan dengan kualitas maksimal. Huh!

Bagian yang paling sulit dari main ke pantai adalah mengajak Diana pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 17.15 saat saya berhasil membawa Diana pergi dari Pantai Slili. Waduh, terlambat ini untuk memesan menu berbuka puasa. Meluncurlah kami ke Pantai Indrayanti dan berbuka puasa di sana. Ceritanya nanti di post terpisah saja ya.

Senang bisa jalan-jalan ke Pantai Slili. Liburan dengan budget minimal, hasil maksimal! Yeay!

7 thoughts on “Menyusuri Pasir Putih Pantai Slili Yang Sepi

  1. Selamat Lebaran , mInal Aidin wal Faidzin.. dan Selamat untuk kehamilannya.

    Foto-fotonya menarik dan mengundang untuk ikut berwisata kesana…Cuma sayang jaraknya jauh banget dari Bogor.

    Anyway nama pantainya aneh juga Sundak..Emang artinya apa mbak?

    1. Hai Mas Anton, terima kasih sudah mampir di blog saya. Maaf lahir batin juga ya..

      Pantai Sundak kalau dari sejarahnya, merupakan singkatan ASU dan LANDAK, Mas. Karena waktu itu ada perkelahian antara seekor anjing dan landak di dalam gua yang ada di dekat pantai itu.

      Kalau Pantai Slili sendiri saya malah belom tahu sejarahnya..

    1. Wah, kalau pas musim liburan, sudah bisa dipastikan sangat penuh Mas. Saya kembali datang ke pantai di Gunungkidul juga setelah Lebaran, wuidiiih, penuh banget!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge