Microhydro Untuk Mengatasi Kesenjangan Akses Listrik Di Indonesia

Saat kecil dulu saya tinggal di desa. Desa banget sampai-sampai listrik itu masuk di desa saya saat saya sudah SD. Entah kelas berapa saya lupa, tapi sejak kecil saya akrab dengan senthir dan dian. Juga petromaks. Juga aki untuk menyalakan televisi yang setiap beberapa minggu sekali harus disetrumin (istilah di kampung saya untuk mengisi ulang aki). Begitu ada listrik, senengnya minta ampun.

Persediaan listrik di Indonesia memang masih belum terdistribusi secara merata sampai ke seluruh pelosok. Kesenjangan akses listrik itu nyata. Di perkotaan, sudah 94% bisa merasakan aliran listrik, tetapi di pedesaan, angkanya masih 32% saja. Trus apa yang bisa kita lakukan?

Gamma Abdurrahman Thohir tak tinggal diam melihat kesenjangan ini. Dia menjawab tantangan tugas dari sekolahnya untuk mengembangkan proyek pribadi dengan membangun microhydro sebagai salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia terutama di pedesaan. Microhydro itu apa? Hihihi, saya juga baru denger dari penjelasan Gamma kemaren saat presentasi di @america.

Microhydro
Microhydro (sumber gambar)

Kalau PLTA tahu, kan? Pembangkit listrik tenaga air. Yap, microhydro ini juga memakai tenaga air, tetapi berbeda dengan PLTA yang harus membuat waduk yang besar, microhydro system merupakan teknologi pembangkit listrik tenaga air yang berskala kecil karena pembangkit tenaga listrik ini memanfaatkan aliran sungai atau aliran irigasi sebagai sumber tenaga untuk menggerakan turbin dan memutar generator. Jadi pada prinsipnya dimana ada air mengalir dengan ketinggian minimal 2,5 meter dengan debit 250 liter/detik, maka di situ ada energi listrik.

Microhydro Gamma Ciptagelar

Project microhydro for Indonesia ini Gamma lakukan di Kasepuhan Ciptagelar, di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Halimun. Akses listrik di sana sangatlah tidak memadai. Tetapi ada aliran Sungai Cicemet di desa tersebut dengan debit air yang cukup untuk melakukan proyek microhydro. Setelah proyek microhydro berjalan, akses penduduk terhadap listrik di Kasepuhan Ciptagelar menjadi semakin banyak. Ekonomi desa menjadi meningkat.

Inisiatif Gamma ini didukung penuh oleh pihak sekolah (Global Jaya) dan didampingi oleh Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN). Yayasan Adaro Bangun Negeri sendiri telah beberapa kali memberikan pendampingan kepada beberapa program pengembangan masyarakat, yang salah satu fokus programnya pada pengembangan generasi muda.

Proyeknya Gamma ini luar biasa ya, karena ide ini dilakukan oleh seorang anak yang baru berusia 15 tahun. Target Gamma nggak tanggung-tanggung, lho. Dia pengen di Juli 2016 nanti, proyek microhydro for Indonesia bisa menghasilkan listrik berkapasitas sekitar 30-40 MW. Saat ini Gamma sedang menyempurnakan proyek tersebut dan sedang melakukan crowdfunding serta butuh support supaya project ini berjalan dengan lancar.

Dukungan buat microhydro for Indonesia bisa diberikan juga lho melalui akun media sosial di #microhydroID dengan follow twitter @microhydro_id instagram @microhydro_id dan facebook fanpage Microhydro for Indonesia.

Seneng bisa hadir di @america sore kemaren! Semoga mimpi Gamma bisa memberikan kemudahan akses listrik semakin merata sampai ke desa segera terwujud ya! *standing ovation buat Gamma*

14 thoughts on “Microhydro Untuk Mengatasi Kesenjangan Akses Listrik Di Indonesia

  1. Dulu waktu saya di Kupang, wacana pengembangan mikrohidro ini sudah ada lho mbak. Planning-nya ada, bahkan kita sudah survey ke banyak lokasi yang bisa diusulkan sebagai tempat penginstalannya. Tapi ngga tau sekarang. Kayaknya belum tergarap maksimal..
    Ya mudah-mudahan apa yang dicanangkan oleh Pak Gamma di atas bisa didukung oleh semua pihak, karena kita ngga mau terus-terusan byar pet terus.

    1. Iya, Mas. Microhydro udah banyak yang menerapkan. Ini bukan penemuan baru, kok. Hanya saja usia Gamma baru 15 tahun, udah mikirin mau ngerjain energi alternatif buat suatu daerah, itu yang hebat. 😉

  2. Mikrohydro semakin gemilang sekarang ya, tapi bikin pembangkit skala kecil gitu apa ngga besar ya biayanya. Terus nanti dari mana sumber dananya? Salam Kenal 😀

  3. Dulu di Dago Bandung ada Mikrohydro skala sedang, apa masih ada ya?
    Kita perlu perbanyak nih Mikrohydro skala kecil di Indonesia agar makin banyak daerah teraliri listrik dan berproduksi……..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge