Naik Kereta Api Ekonomi Pilihan Sendiri

Ada komentar di postingan saya: Saya nggak percaya orang sekelas Isnuansa naik kereta api ekonomi, shocked. Saya yakin teman tersebut tidak sendirian. Banyak di antara Anda, pembaca blog ini yang berpikiran sama.

Hehehe. Saya sendiri juga setengah nggak percaya bisa melakukannya. Sudah sepuluh tahun yang lalu mungkin saya melakukannya. Dan kemarin itu, murni pilihan sendiri. Saya nggak sadar kalau pilihan saya sempat juga dipolitisir di tempat konggres. Rupanya, banyak yang memperhatikan status facebook saya, sehingga banyak yang tahu jika saya naik ketera api.

Jadilah muncul tudingan: Masa anak buah Mr.X (maaf Pak Susno, pinjam istilahnya ya) ke Bali naik kereta api. Dem! Saya nggak kepikiran sampe ke sana. Karena saya bangga melakukan perjalanan dengan kereta api itu, saya apdet status terus di Facebook. Rupanya banyak yang salah tafsir.

Beberapa hari sebelum berangkat, saya ijin khusus. Teman-teman lain yang beli tiket ngajakpun saya nggak mau. Bahkan papa dan adik saya juga berangkat sendiri, saya nggak mau diajak bareng sama semua. Pilih jalan sendiri.

Politik (memang terkadang) parah! Masa’ backpacking jadi ikut dipolitisir juga.

Naik kereta api ekonomi kemarin, merupakan pengalaman yang jauh berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Kereta api jauh lebih baik. Jendela tertutup semua dengan kaca. Posisi kaca tidak ada yang miring atau terlepas sehingga orang-orang tak lagi bisa masuk dengan melalui jendela. Kursi juga rapi semua. Meski pedagang dan pengamen masih lalu lalang, tapi karena kereta nggak penuh, jadi nyaman-nyaman aja tuh.

Semalam saya baca blognya Trinity the naked traveler, ada juga guest bloggernya yang menceritakan betapa seringnya dia naik kereta api ekonomi, sebagai penumpang gelap, lagi!

Salah satu yang mendasari saya memilih naik kereta api adalah banyaknya tulisan yang mengatakan untuk menjadi seorang backpacker, hanya dibutuhkan ongkos tak lebih dari Rp. 100.000,- untuk bisa sampai ke Bali. Dan memang terbukti.

Naik kereta api gaya baru malam selatan Rp. 35.000,- naik kereta api sri tanjung Rp. 20.000,- nyebrang ferry Rp. 6.000,- bis ke ubung Rp. 20.000,- angkot ke sanur dua kali @Rp. 5.000,- total Rp. 91.000,- di luar biaya makan dan lainnya lho ya…

Saya nggak sepenuhnya backpacker, karena makan dan minum nggak ngirit. Nasi tiga kali (saya selalu makan nasi setiap waktu), vitamin dan suplemen full, beli roti di Holland Bakery, minumnya juga yang mengandung isotonik. 😛 Jadi, nggak ngirit banget juga…

Pilihan untuk naik kereta api juga muncul setelah baca cerita salah satu teman yang mampir di surabaya sebelum terbang ke lombok. Saya juga pengen keliling kota Surabaya terlebih dahulu sebelum sampai Bali. Toh, waktunya masih ada, jumat sabtu minggu yang lalu kan libur.

Dihitung-hitung, total pengeluaran sih hampir sama dengan beli tiket pesawat. Tetapi kan pengalamannya lain, pesawat hanya 1jam 40 menit langsung sampai, saya bisa keliling Surabaya dulu dan ngerasain naik kereta api ekonomi.

Pulangnya, karena sudah capek, naik pesawat. Di tulisan selanjutnya saya akan cerita selama di Surabaya dan Bali.

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

10 thoughts on “Naik Kereta Api Ekonomi Pilihan Sendiri”

  1. Mba Nunik, nothing to lose menurut saya. Saya justru salut dengan perjalanan yg mba Nunik tempuh. Dapet banyak pengalaman, benar-benar seperti Jejak Petualang 😀 Dan… pengalaman adalah guru yang terbaik.
    .-= budiastawa selesai posting Posting Twitter Lewat Address Bar Firefox =-.

  2. Hidup Kereta api…
    Saya juga pernah Semarang Surabaya naik kereta api.
    Ada keasyikan tersendiri.
    Bisa melihat pemandangan, meski tak selalu indah tapi minimal ganti suasana.
    Dihati juga lebih mantep, lebih aman secara tehnis, meskipun dari segi sosiologis nggak terlalu aman juga.
    Kalau ingat pesawat presiden polandia aja bisa jatuh…
    .-= marsudiyanto selesai posting Choosing the Right Food for Your Pet =-.

  3. naik kendaraan umum itu asik kok, sama kaya saya yang “seneng numpak bis” hehehe ada kenikmatan tersendiri..
    ———–
    btw 4 postingan terakhir kok cerita pribadi semua mbak…
    jangan bilang blognya mau pindah alairan???
    ngga masalah sih asal bukan “aliran eden” 😆

  4. emang seru backpacker-an, dua tahun lalu saya ke semarang juga naek kreta ekonomi dari jakarta sampe simpang lima cuma 42ribu , tahun lalu saya ke sumenep naik kreta ekonomi ke SBY trus naek bis ke sumenep cuma habis 63ribu (jkt-sumenep), emang sih jajannya yang ngga nahan… tapi seru banget n banyak yang diliat… hidup kreta ekonomi!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge