Padang Dengan Cinta

Peringatan: Tulisan ini berisi banyak foto (15 buah \m/). πŸ™‚

Akhirnya, punya kesempatan buat cerita perjalanan saya lima hari di Padang minggu yang lalu. Bukan murni jalan-jalan sih sebenarnya, karena waktu saya banyak dihabiskan dengan di rumah saja dan mengunjungi beberapa keluarga.

Ini kali kedua saya ke Sumatera Barat. Pertama kali tahun 2001 saat masih mahasiswa ( 😳 ketauan umurnya deh :D) saya naik kapal Pelni dari Tanjung Priok dan berlabuh menuju Teluk Bayur. Saat itu jalan-jalannya ke Bukittinggi, Danau Maninjau dan entah pantai apa saya lupa namanya. Di kunjungan kedua ini malah nggak sempat ke Bukittinggi, Danau Maninjau dan pantai-pantai di Sumatera Barat. Tapi beberapa ratus kilometer perjalanan darat saya tempuh, berkeliling Kab. Tanah Datar, Kab. Lima Puluh Kota, Kab. Solok, Kab. Sawahlunto, Kab. Sijunjung dan beberapa objek wisata yang sempat dikunjungi. Sampai-sampai kulit melegam beberapa tingkat, tapi disitulah asyiknya jalan-jalan versi saya. πŸ˜€

Menuju Lembah Harau

Yang pertama kali didatangi adalah Lembah Harau. Dua jam perjalanan dari Lintau Buo, tempat saya menginap. Lintau sendiri 4 jam perjalanan dengan travel dari kota Padang, menembus bukit dan jurang-jurang terjal selama perjalanan. Sayang sekali karena saya berangkat sudah siang, jam 14.00, jadi dalam satu hari ya hanya satu objek ini yang bisa saya kunjungi. Di Lembah Harau ini ada banyak air terjun yang indah. Saat saya datang, debit airnya tak begitu besar, sehingga hanya rintik air saja ketika sampai di bawah. Yang menarik buat saya justru perjalananya menempuh puluhan (ratusan jika PP) kilometer menuju Lembah Haraunya. Saya juga melihat pelangi di Air Terjun Lembah Harau. (Secara spesifk per objek wisata akan saya tulis di blog JalanJalanYuk, tapi entah kapan sesempatnya)

Lembah Harau

Lembah Harau

Saya tertarik dengan kantor Bupati dan DPRD baru yang dibangun dengan megah di atas bukit. Keren. Konsep di luar kota dan terpisah dari keriuhan kota. Kabupaten Bekasi, kabupaten saya, juga begitu. Jauh dari mall dan malah di tengah hunian mewah.

Kantor Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota

Kantor DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota

Malam hari saat pulang dari Harau, terjebak hujan dan saya habiskan dengan nongkrong di Pasar Payakumbuh, makan sambil nyoba online. Maklum, di Lintau IM2 tak kebagian sinyal. Saya nyobain kue bika, dan minum sekoteng jahe. Kalau makannya ya biasa, warung nasi padang yang asli di Padang. Nggak sempat nyoba sate di Pasar Payakumbuh, kemarin sudah coba Sate Ajo di Lapangan Taman Kota Imam Bonjol, Padang.

Tebing Ngalau Indah

Ngalau Indah

Objek wisata yang lain adalah Ngalau Indah. Kalau yang ini tinggal ngesot aja dari Lintau Buo. Mandi di sumber mata air hangat dan menjelajah hutan sampai ke dalam Ngalau sejauh 1 kilometeran. Ada tawon-tawon yang diternak di dinding gua terjal dan sangat tinggi. Saya nggak bisa ngebayangin gimana cara panennya. Dan yang pasti suasana alamnya sangat menenangkan. Hilang semua stres selama ini. Di dalam hutan yang sunyi dikelilingi gua dan tebing yang tinggi. Perfect!

Ikan Bilih Danau Singkarak

Saat ke Kab. Solok menempuh ratusan (lagi) kilometer pulang pergi, ternyata saudara yang hendak didatangi malah pergi. Memang agak bodoh, karena maen dateng aja tanpa memberi kabar mau ke sana. Lanjutlah ke Danau Singkarak yang panjang dan luasnya nggak kebayang. Beli oleh-oleh ikan bilih, yang hanya ada di danau tersebut. Rp.40.000,- setengah kilo, kemahalan nggak ya? Soalnya nggak nawar sama sekali. πŸ˜€

Istana Pagaruyung

Trus belum lengkap rasanya jika belum ke Istana Pagaruyung. Istana ini sempat terbakar dan sampai sekarang belum dibuka untuk umum masuk ke dalam istananya. Jadi ya cuma bisa foto-foto di luarnya saja. Pagaruyung ini satu Kabupaten dengan Lintau, yaitu Kabupaten Tanah Datar.

Dan bukan saya kalau hanya dateng ke objek-objek wisata yang didatengin wisatawan pada umumnya. Selalu ada tempat yang saya cari, yang orang lain nggak biasa datang ke lokasi itu.

Benteng Van Der Capellen

Benteng Van Der Capellen

Ada namanya Benteng Van Der Capellen. Nggak sebagus Rotterdam yang ada Museum La Galigonya, benteng ini nggak banyak isi di dalamnya, meski memang dibangun dengan konsep museum seperti Rotterdam, namun mini museum. :p

Saat masuk ke Benteng itupun, tak ada seorangpun yang ada di sana. Saya mblusuk saja ke dalam, foto-foto, dan akhirnya pergi lagi. Jika tak salah ingat, tahun 1804 pembuatannya.

Situs Cagar Budaya Ustano Rajo Alam

Situs Cagar Budaya Ustano Rajo Alam

Selain Benteng, ada lagi makam tua: Situs Cagar Budaya Ustano Rajo Alam. Bentuk batu nisannya sangat berbeda dengan Makam Raja Raja Tallo di Sulawesi Selatan yang pernah saya datangi. Bukan nisan sih sebenernya, karena hanya ada batu yang bentuknya mirip Kujang, senjata khas Jawa Barat. Di bagian depan makam, ada makam yang dibungkus dengan kain kuning. Pacar bilang sih, itu makam orang dengan jabatan tertinggi di situ, Rajanya mungkin, tapi saya belum sempat googling buat mengetahui detail objek wisata situs makam tersebut.

Di sebelah makam, ada pohon beringin yang amat besar, dengan segerombolan monyet bermain di bawahnya. Waktu saya yang sangat terbatas, membuat saya tak sempat mencoba mendatangi gerombolan monyet tersebut, apakah jinak atau tidak.

Puncak Pato

Puncak Pato

Dan terakhir, objek wisata yang saya kunjungi adalah Puncak Pato. Saya nggak bisa lama-lama di situ karena hawa dinginnya sama dengan di puncak, nggak kuku deh dingin bener. Setelah dari Puncak Pato, saya dikenalin sama sahabat-sahabat semasa SMA si pacar yang kebetulan ada reuni kecil-kecilan secara mendadak. Seneng, bisa jalan-jalan ke Padang (lagi) dan berharap tahun-tahun mendatang kembali lagi dan berbagi cerita di blog ini tentang objek wisata yang berbeda. πŸ™‚

57 thoughts on “Padang Dengan Cinta

  1. ihiiiyy…… jalan2 sambil pacaran :))
    sumbar indah kan nu? aku aja kepengen pulang terus πŸ™‚
    oiya, kalo belum ke padang panjang sebenanya belum lengkap deh, berarti kulinerannya belum sempurna… Jadi ya memang mesti datang lagi πŸ™‚
    icit selesai posting Selamat Jalan wahai Maestro

  2. Ah gak berat-berat amat buka posting ini.. *sombong kaya benwit* eh kok yang di surabaya gak di posting mbak is? πŸ˜€ gitu ya ndak mau ketemu aku.. *eh*

    Kantor Bupatinya keren mbak is… mau kesana…

    1. Lho, ya belom, thooo… Nanti, giliran. Tungguin bentar lagi pasti nongol.

      Bukan nggak mau ketemu, waktunya yang terbatas. Nanti kalo aku minta kamu ke Bandara yo ndak sopan tho, kalo si Rusa kan udah biasa. πŸ˜€

    1. Huh, malas kali kau! πŸ˜†

      Padahal bagus-bagus Rian di Sumatera Barat itu alamnya beda jauh sama daerah-daerah di Pulau Jawa pada umumnya.

      Nanti kalau ke Padang lagi, kita kopdar ya. πŸ˜€

  3. Whaaaa…. akhirnya yang ditunggu2 diposting jugaaa.. πŸ˜†
    mantap… sebagiannya belum saya kunjungi malah…
    – udah mencoba ikan bilih berarti ya…? kalo ikan rinuak sudah dicoba belum…? Ini adalah ikan termahal di dunia… pengen tau kenapa…?
    – meskipun putra daerah, sampai saat ini saya belum pernah masuk ke ngalau indah, cuma lewat2 aja..
    – kredit kameranya apa nih mbak is..?
    – besok kalo ke padang lagi kasih kabar ya… :mrgreen:

    1. Ada juga ya ikan Rinuak? Belom pernah coba nih. Adanya di Singkarak juga atau di tempat lain?

      Hehehe, Ngalau Indah itu kan deket banget dari rumah dia, jadi ya sudah pasti masuk ke sana.

      Kameranya pakai Handphone N8, Uda Yori.

    1. Saya masih punya keinginan yang belum tercapai, Bli.

      5 kali jalan-jalan ke Bali, tapi belum ngerasain backpackeran keliling Bali naik sepeda motor.

      Sewa sepeda motor kan murah ya per hari paling Rp. 35.000,- sampai Rp. 50.000,- kalo bisa nawarnya. Saya pengen seminggu keliling Bali, ke objek wisata kecil-kecil yang belum banyak terekspos sama media. :mrgreen:

  4. wah..wah..ke sawahlunto juga mbak??aku khan disana..tau gitu bisa kopdar..

    bagus khan lembah haraunya??airnya kecil karena ga musim hujan mbak,,kok ga nyobain sate danguang-danguang waktu itu mbak?khan itu yg terkenal di payakumbuh..my beloved city.. πŸ˜€
    fitrimelinda selesai posting Buku Bagus –

    1. Iya, nggak nyobain sate danguang-danguang, saya malah makan di sebelahnya. Sate Padang udah makan di Kota Padang, jadi ya masak setiap hari saya makan sate. πŸ™‚

      Nanti ya kalau saya ke Padang lagi, kita kopdar sambil makan sate danguang-danguang di Pasar Payakumbuh.

    1. Dan salah satu yang menarik dari Puncak Pato buat saya adalah: bisa pulang sampai di rumah tanpa menyalakan kendaraan. Tinggal dinaiki, dan kendaraan akan meluncur sendiri sampai di rumah. \m/

      Bayangin. Irit bensin. πŸ˜†

  5. Menarik sekali mbak, banyak situs peninggalan yang perlu dilestarikan dan dijaga agar jangan sampai punah sehingga kita dapat mengambil pelajaran dari sisa peninggalan masa lalu.

  6. Senang sekali rasanya bisa melihat keindahan bagian bagian daerah dari negeri tercinta ini. Indahnya Padang, indahnya Indonesia. Selamat ! Wilujeng ! GBU..

  7. sebelum membaca semua artikelnya, baca peringatan aja saya sudah tertarik untuk membaca semuanya ( hhiihihi )

    Keliatan sepi ya fotonya, coba kalau foto bareng wiiihh rame keliatan seru deh,

    Ngiler liat padang,, jadi pinin kesan .. -_-
    Sanjaya Yasin selesai posting Logika Matematika

  8. di tempat gersang aja klo sm pacar pasti indah,
    apalagi tempatnya indah begitu ya semakin indah aja dunia ini
    masih bagus mau pulang πŸ˜€
    coba klo mau terus di sana?
    padahal susah sinyal kan?
    bisa2 ga ngeblog lagi nanti πŸ˜›

    *koneksi lancar jaya jadi sukses memandangi foto2 yang cantik2 itu (tanpa model maksudnya) hahahaha*
    niQue selesai posting On Line Shop

  9. Hayuuukkk uni ke Sumbar lagi, lagian itu baru cuma nyampe di lembah harau aja padahal kalau melipir lagi kearah mudik atau suliki nanti bisa banyak dapet cerita tugu PDRI dan rumah Tan Malaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge