Pengalaman Camping Bawa Anak Di Pantai Sedahan

AKHIRNYAAAA CAMPING!

Udah bisa nyoret satu wishlist tahun ini. Yeay!

Camping di Pantai Sedahan ini merupakan pengalaman terbaik saya dan keluarga sejauh ini.

Pengennya tepat satu tahun lalu, pas libur Lebaran juga seperti tahun ini, saya dan keluarga jalan-jalan ke Pantai Jungwok dan lihat ada yang nenda.

Langsung dong pengen bisa camping seperti mereka yang saya lihat. Taupi realistis sajalah, nggak mungkin saat itu juga, jadi targetnya liburan selanjutnya.

Persiapan biar bisa camping ini juga panjang. Awalnya ngerencanain nenda di Kepulauan Seribu pas long weekend, tapi batal karena cuaca nggak mendukung saat itu.

Lalu saya kepikiran, biar lebih serius persiapannya, sebaiknya saya beli sendiri peralatannya, biar ada tekanan, sudah keluar uang kan nggak mungkin barangnya nggak jadi dipakai.

Trus saya mulai cari di instagram alat-alat perkempingan yang utama. Saran teman sih pakai merek lokal saja yang harganya terjangkau, tapi saya pengen yang Naturehike, biar awet.

Saya bilang sama suami, gimana kalau hasil freelance project yang satu itu kita pakai khusus buat persiapan alat camping. Tapi ternyata belum rejeki, duitnya belum cair juga padahal udah hampir setahun berlalu. Ya sudah, pakai duit pribadi saja. Untung nemu Decathlon yang baru buka dengan produk yang murah meriah berkualitas.

Belom lengkap sih peralatannya, tapi lumayanlah udah punya tenda sendiri, matras, dua buah sleeping bag dewasa, handuk mikrofiber (karena camping-nya di pantai ya, bukan naik gunung, jadi handuk penting) dan lampu gantung tenda serta senter. Nesting dkknya belom punya, karena masih pilih jajan aja, hahahaha.

Pulang kampung tahun ini, barang bawaan jadi berlipat, selain bawa baju dan oleh-oleh, bawa segala macam alat di atas itu. Tapi tahun ini Diana sudah mampu bawa backpack kecil dan tas tenteng sendiri (duh, lupa ambil foto barbuk Diana bawa backpack mudik). Beban sudah bisa dibagi ke anak wedhok.

Sesampainya di kampung, suami dan Diana nunggu saya yang bisa mudiknya belakangan. Pas saya sudah di rumah, barulah misi dilaksanakan: mari kita kempiinggg…

Tujuannya mana? Nggak tahu.

Saya pernah googling sebelumnya, pantai-pantai di Gunung Kidul yang bisa dijadikan lokasi camping antara lain: Greweng, Nglambor, Ngrumput, Wohkudu, Wediombo, Kesirat, Sedahan dan Puncak Kosakora.

Kelemahan saya, saya nggak baca detailnya pantai-pantai di atas. Yang saya tahu, cuma bisa dipakai buat camping. Kan tinggal googling lokasinya, trus dateng pikir saya waktu itu. Yang penting kan sudah betebaran foto-foto orang mendirikan tenda di pantai tersebut, jadi sudah terbukti bisa dipakai camping, pikir saya.

Ya sudah, dari sekian pantai yang ada di daftar tersebut, kami akhirnya pilih Pantai Sedahan buat lokasi camping.

Salah satu pertimbangan terkuat adalah lokasinya yang berdekatan dengan Pantai Jungwok, pantai yang kami kunjungi tahun lalu. Jadi ibarat kata, sambil merem aja nggak mungkin nyasar. Begitu sombongnya pikiran awal kami.

Akhirnya kami sampai di parkiran Pantai Jungwok. Bapak penjaga parkirnya keheranan, karena kami bawa anak kecil dan jam sudah menunjukkan lebih dari jam lima sore.

Ya sudah segera jalan saja Mbak, takut kesorean, kata bapak parkir. Jalurnya lewat sebelah ya, nanti ikuti saja sudah ada plang petunjuk jalannya.

Pas lewat kebun singkong warga dan kandang sapi, kami masih bisa becandaan ketawa-ketiwi. Tapi makin ke dalam medan makin berat. Bukit terjal berbatu menanjak dan terjal, benar-benar bikin napas satu dua dibuatnya.

Hutan semakin gelap. Langkah kaki harus semakin hati-hati. Belum lagi kami harus lakukan sambil memegangi Diana. Suami bawa carrier, sedang saya bawa 2 tas perbekalan yang ampun dah beratnya.

Jam setengah enam, waktunya berbuka puasa, kami masih di atas bukit batu di tengah hutan antah berantah. Membatalkan puasa dengan minum air putih saja, lantas kami mulai menyalakan senter dan kembali berjalan. Ketemu beberapa kandang sapi lagi milik warga.

Ini video saya bikin pas pulangnya ya, pas berangkat udah kesorean, gelap. Sengaja videonya portrait biar bisa di-Instastori-in.

Udah deg-degan takut nyasar sih, walaupun yakin juga kalau tempat ini masih dijamah manusia karena ada kandang sapinya. Tapi benarkah arah Pantai Sedahan seperti yang kami pilih ini?

Penyelamat datang di penghujung kebingungan. Dari depan terlihat seorang bapak memanggul dua buah kardus minuman di pundaknya. Saya bertanya arah ke Pantai Sedahan.

“Njih, leres, Mbak. Lurus terus, mangke protelon njenengan milih sing lurus mawon.”

Matur nuwun Pak. Kamipun melanjutkan perjalanan. Tapi sesampainya di ujung jalan, kami bengong. Kok ada warung guede, trus banyak motor terparkir di depannya?

WTF! Jadi buat apa kami harus trekking sejam naik turun bukit berbatu nan curam, kalau tempatnya ternyata bisa diakses dengan motor?

Tapi ya nggak nyesel banget juga deng, soalnya jadi punya pengalaman trekking yang seru banget. Menurut aplikasi yang ada di iPhone saya sih, jaraknya 2,8 km dengan total langkah 5.772 dan ketinggian 55 lantai! (Adik saya bilang trekking Prau aja cuma sekitar 40an lantai.)

Kenapa ya belum ada blogger yang menuliskan detailnya cara menuju Pantai Sedahan dengan motor? Apa semua blogger ya sama kayak saya trekking naik turun bukit semua? Artikelnya tentang Pantai Sedahan kebanyakan masih yang kopasan dari berbagai sumber, hahahaha. Ampas.

Tapi ya nggak kepikiran buat tanya ke pemilik warung saat itu juga tentang jalur sepeda motor. Wong sudah malam. Belum lagi harus mendirikan tenda.

Camping Pantai Sedahan
Disclaimer ya: itu sampah buanyak udah ada sejak saya datang. Huh, joroknya yang camping sebelum saya.

Tenda ini udah sering kami praktekin didirikan di dalam rumah. Tapi kenyataannya, mendirikan di dalam rumah sama di pinggir pantai itu jauh. Beneran jauh.

Di rumah 10 menit juga berdiri. Di pasir pantai dengan tiupan angin yang amat sangat kencang, ya coba aja deh. Hahahaha.

Tenda kami jadi tenda ke sembilan yang berdiri malam itu. Pantai Sedahan penuh dengan teman-teman yang camping dan memancing. Total ada sepuluh tenda, sekitar jam 8 malam, ada yang datang dan mendirikan tenda tepat di samping tenda kami. Saking kencangnya angin malam itu, yang datang jam 8 nggak sanggup diriin sendiri tendanya, jadi harus dibantuin 2 orang lagi.

Di Pantai Sedahan tidak ada sinyal Telkomsel. Bener-bener mati total. Yang lain kami nggak tahu, tapi sepertinya sama saja. Jadi ya bener-bener menyatu dengan alam saat camping kemarin.

Saya dan Diana seneng bisa melihat ribuan bintang di langit, meskipun malam itu mendung dan suara geludug terdengar lumayan lama menemani kami. Sudah ketar-ketir takut hujan badai, dan di dalam tenda pun suara gemuruh angin terasa dan terdengar kencang.

Rasa kantuk akhirnya mengalahkan segalanya. Saya tertidur juga meski sempat deg-degan juga karena bunyi angin kencang menimbilkan suara gesekan daun-daun yang bikin hati kebat-kebit. Belum lagi di punggung terasa dicolak-colek oleh banyaknya anak kepiting yang berusaha keluar dari dalam tanah. Yap, saya dan diana tidur hanya beralaskan lantai tenda tanpa tambahan matras, karena matras dipakai suami tidur di luar.

Tengah malam kami terbangun. Angin sudah mulai reda dan ketika kami melihat ke atas, wow, milky way terlihat sangat indah. Spektakuler pokoknya. Sayang kami nggak punya gadget untuk mengabadikannya. Ya sudah, kami nikmati sendiri saja malam itu. Ini pengalaman terbaik kami pokoknya.

Awalnya, saya pikir Diana bakal rewel pas diajak camping. Soalnya sounding-nya aja perlu waktu lama. Nggak mau diajak pergi. Padahal tenda udah dibeli lama, sering dibuka di rumah buat main tenda-tendaan, tapi nggak mau camping di luar rumah. Maunya camping di rumah, kata Diana.

Sampai saya hilang akal dan keluar ancaman, pilih ikut camping atau pilih di rumah sama simbah. Mama dan Bapak tetep akan pergi camping walaupun Diana nggak ikut, kata saya.

Nyatanya, pas sudah dijalanin, Diana justru yang nangis-nangis minta nambah.

Nggak usah pulang, Ma. Nana mau nginep di sini terus, Ma. Enak, Ma, camping itu, Nana sukaaa…

Hahahaha. Ketagihan camping di tepi pantai rupanya Diana.

Sayapun begitu. Pengalaman camping ini adalah pengalaman yang paling TOP dan menyenangkan selama kami pernah jalan-jalan. Pasti kami bakalan camping lagi setelah ini.

Jadi, gimana akhirnya, apakah misteri motor sampai depan Pantai Sedahan sudah terpecahkan?

Belom juga. Menurut ibu penjual di warung sih, akses jalannya dari Pantai Wediombo, begitu masuk dari pintu setelah ada masjid di kanan jalan (arah dari datang). Bisa juga dari sebelum pintu tiket di gerbang, ada belokan di dekat SMPN 2 Girisubo, tapi saya longak-longok pas jalan sambil pulang, nggak lihat juga plang penunjuk arah ke Pantai Sedahan yang bisa diakses lewat sepeda motor.

Silahkan blogger lain yang punya pengalaman bawa motor sampai pinggir Pantai Sedahan menuliskan pengalamannya. Kalau yang selama ini beredar sih yang saya temuin cuma rute kasar aja, detailnya belum ada, disuruh lewat Pantai Wediombo atau Jungwok, ya nanti ujungnya seperti saya trekking lewat bukit dan lembah, kurang disarankan buat ajak balita.

Kalau mau nenda yang asyik dan asoy, di Pantai Ngrumput aja, kayak pengalaman kami camping yang kedua di Gunung Kidul. Nantikan cerita lengkapnya setelah tulisan ini yaaaa~

5 thoughts on “Pengalaman Camping Bawa Anak Di Pantai Sedahan

  1. Ternyata seru ya camping sama anak. Jadi pengen nyoba juga ajak Al.
    Kebayang indahnya langit di malam hari di tepi laut begitu. Ga kayak di rumah yang udah ga keliatan apa-apa lagi karena polusi cahaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge