pengamen
Sambil tengak-tengok dan melihat dengan cermat nomer-nomer bus kota yang melintasi bundaran Senayan, gw disibukkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan temen gw semasa kuliah yang tiba-tiba telpon dari Bangka, mengabarkan besok akan ke Jakarta. Kondisi seperti ini sering kali mengakibatkan gw ketinggalan bus terakhir yang menuju Cikarang, bus nomer 121 dari Terminal Blok M. Jam menunjukkan 20.35 WIB, sudah makin tipis harapan bus itu akan lewat.
Tepat beberapa detik setelah gw tutup telepon, gw liat bus 121 melintas. Thank God. Gw buru-buru naik. Tapi nggak seperti biasanya, kali ini ada bau tak sedap yang dengan jelas tercium. Kursi di deretan depan sudah ditempati. Satu orang ibu di kursi yang dua baris dan seorang ibu dengan dua orang anaknya di kursi yang tiga baris.
Setelah gw teliti, sumber bau itu memang berasal dari barisan depan tersebut. Baunya khas banget. Keringat orang yang bekerja seharian dan mungkin nggak pake deodoran di pagi hari. Waduh, minta ampun deh.
Nggak begitu lama, muncul pengamen anak-anak dan membagikan amplop sebelum mulai bernyanyi, dengan harapan akan diisi uang yang nominalnya lebih besar bila dibandingkan dengan menyiapkan bekas bungkus permen dan diedarkan setelah selesai ngamen.
Nekat juga pikir gw pengamen ini, sudah tahu isinya bis hanya sekitar enam orang. Berapalah yang bisa dia dapat kalo dia sengaja mengincar bus ini untuk mencari uang. Ah sudahlah, bukan urusan gw, gw pikir. Lagipula gw ngantuk berat, sambil membayangkan masih panjang perjalanan gw dan bisa-bisa jam 22.30 WIB baru sampai rumah, lebih baik memanfaatkan sedikit waktu buat tidur.
Gw dibangunkan paksa oleh kondektur karena bis ternyata nggak sampai terminal Cikarang dan terpaksa gw dioper setelah keluar pintu tol Cibitung. Turun dari bis, gw lihat ibu yang duduk di bangku terdepan (yang tadi anaknya 2 orang) berjalan sambil becanda-canda dengan 4 orang anak. Dari mana yang dua lagi? Ternyata yang ngamen tadi itu anaknya juga!
Otak gw langsung bekerja keras meskipun baru terbangun dari tidur. Sedikit demi sedikit terjawab sudah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepala gw.
Hampir setiap pagi ketika gw berangkat bekerja, gw naik bersamaan dengan serombongan ibu-ibu yang semuanya membawa anak kecil. Baunya agak-agak aneh dan pakaiannyapun nggak bersih seperti layaknya orang yang akan bepergian di pagi hari yang pada umumnya rapi-rapi. Ibu-ibu ini selalu mengambil tempat duduk di bangku paling belakang.
Gw sempat bertanya-tanya dalam hati. Mereka mau kemana ya? Kerjaannya apa ya di Jakarta? Karena gw turun di Komdak dan mereka belum turun di situ, gw mencoba menjawab sendiri pertanyaan gw, oh mungkin mereka ke Blok M. Soal pekerjaan, mungkin mereka buruh harian lepas, jadi tiap hari pulang pergi Jakarta-Cikarang.
Sisi lain otak gw mengatakan, dengan jarak tempuh yang sama dengan gw, berarti transport mereka nggak jauh beda dengan gw. Rp. 27.000,- pulang pergi. Belum makan siangnya, bersama anak-anak mereka. Apa bener ya jawaban gw tentang pekerjaan mereka? Kalau salah, lantas apa dong jawaban yang benarnya?
Malam tadi gw temukan jawabannya.
June 14th, 2007 at 10:29 am
Semoga mbak cepet punya motor n sy cepet punya rumah….(^^*(%#%&^*)
June 14th, 2007 at 10:43 am
Wahhhh aku dulu juga sering mengalami masa-masa pahit berusuan dengan BUS KOTA tapi sekarang dahh ngga lagi dong… setelah pindah ke Aceh, ngga ada lagi tuh yg kayak gituan ^_^;;
June 14th, 2007 at 12:33 pm
Lagi2 dihadapkan sama masalah bangsa. Tugas aktivis partai tuc buat menyadarkan konstituennya! Hehehe… Kebanyakan aktivis yang sudah berasa di kalangan elit, jadi ogah ngeliat permasalahan yang di hadapi di grassroot. Ya salah satunya bau yang nggak sedap tadi. Hehehe… Tertantang khan untuk buat perubahan!!!
with smile,
wayangwong
June 14th, 2007 at 6:57 pm
dari dulu gua ga pernah betah naik bus
June 15th, 2007 at 3:07 pm
wah mbak ini suka mengamati sesuatu juga kalo lagi di jalan..
aku dulu juga gitu waktu masih harus bolak balik Cempaka putih - Grogol..
mengamati sesuatu itu memang menyenangkan
June 17th, 2007 at 12:30 pm
*mencoba berhitung : Rp. 27.000, x 20 hari kerja = Rp. 540.000,-
wah, untuk transport aja udah habis segitu banyak. belum makan siang dll. padahal itu perhitungan paling minimal (20 hari). wew, harus orang yg bergaji besar yg bisa ngelakonin kerjaan spt Mbak Is ini
ttg pengamen itu ya emang salah satu masalah bangsa kita tercinta ini. sulit untuk menghentikannya, malah jumlahnya semakin hari semakin bertambah
June 18th, 2007 at 4:27 am
wah jauh nya ke cikarang. Dulu saya sering ke Cikarang, karena kantor cabang ada disitu. Jauh banget ya mbak.. ck ck ck..
Salam kenal ..