Piknik Akhir Tahun Ke Pantai Watulawang Gunung Kidul

Rencana awal kami pagi itu akan jalan-jalan ke Solo, setelah seharian kemarin menghabiskan waktu di Pantai Jungwok.

Sejak pagi cuaca sudah mendung. Sebenarnya agak ragu juga buat berangkat, takut hujan di tengah jalan, bisa berantakan rencana jalan-jalannya.

Benar saja, berantakan rencana semula, karena suami kembali usul: kita jalan ke pantai lagi saja yuk, katanya. Diana pasti lebih suka ke pantai dibandingkan ke keraton, lanjutnya.

Iya, sudah pastilah. Ke pantai itu udah paling bener buat Diana.

Nggak pakai pikir panjang, jadilah kami kembali menempuh jarak sekitar 140 km pp ke Gunungkidul. Belum punya pantai tujuan, hanya satu yang jadi patokan, pilih pantai yang belum pernah kami datangi.

Rutenya, kami pilih agak mirip dengan ke Pantai Jungwok kemarin, tetapi pas di pertigaan yang kalau lurus ke Wediombo, kami ambil kanan ke arah Tepus. Mau pilih pantai yang di sekitaran Pantai Pok Tunggal.

Pantai Watulawang Indrayanti Gunung Kidul

Dulu waktu Diana berumur setahun, saya sudah ajak ke Pok Tunggal. Jadi sambil membonceng di belakang, saya browsing pantai mana yang belum pernah kami datangi. Ketemulah nama Pantai Watulawang yang masih lumayan asing di telinga. Ya sudah, mari ke sana.

Sekarang sudah ada pos tiket sewaktu mau masuk ke Pok Tunggal, Indrayanti dan sekitarnya. Harga tiketnya per orang 10.000 (dua kali lipat dari harga tiket pos masuk Wediombo, Jungwok dan sekitarnya).

Untuk menuju Pantai Watulawang, pintu masuknya dari parkiran Pantai Indrayanti, ke arah kiri menyusuri pinggir pantai. Mobil pribadi bisa masuk, tetapi kalau bis pariwisata sepertinya masih sulit karena jalannya kecil dan berbatu (belum beraspal, 27 Desember 2017).

Pantai Watulawang masih jauh lebih sepi dibandingkan Indrayanti yang penuh wisatawan di liburan akhir tahun.

Pantai Watulawang dekat Indrayanti Gunung Kidul

Pintu masuk ke pantainya harus menuruni beberapa undakan batu, dan pasir putihnya terlihat sempit. Tetapi pantai ini ternyata memiliki dua sisi pantai yang bisa dimasuki melalui celah batu.

Kami memilih ke hamparan pasir yang berada di sebelah timur dengan melewati pintu celah batu. Di sana saya langsung menyewa gazebo seharga 20.000 karena tidak berencana membeli makanan di pinggir pantai. Kami sudah sempat jajan dan beli makan siang di jalan tadi sebelum ke pantai.

Diana lalu kegirangan bermain air sepuasnya. Tinggal emaknya saja yang terus deg-degan karena terkadang anaknya suka lupa semakin ke tengah.

Di pantai ada beberapa gerombol anak-anak muda (yang kalau dilihat dari tampangnya sih masih anak baru masuk SMP). Yang bikin naik darah lihat anak-anak ini, benar-benar nggak tahu sopan santun.

Gazebo awalnya selalu kami jaga bergantian. Kalau suami jagain Diana di pantai, saya duduk di payung itu. Kalau saya jaga Diana, suami gantian di gazebo, karena memang lumayan banyak barang berharga, mulai dari beberapa hp, GoPro dan juga SLR.

Nah, saya kan pengen juga ambil foto dapetin moment saat Diana lagi bermain bersama suami. Saya beranjak menyusul ke tepi pantai, baru semenit ditinggal, gazebo saya sudah penuh dengan anak-anak alay yang berfoto-foto.

Kalau tadi mereka minta izin saat saya ada, itu namanya sopan dan pasti nggak bikin naik darah ya. Toh saya tahu, tujuannya buat foto biar kelihatan lebih elit dikit, sewa gazebo di pinggir pantai. Tapi ini dateng nglimpekke gitu lho, saat yang punya nggak ada.

Pas saya tegur, Dik, ini sudah saya sewa lho. Bukannya minta ijin atau minta maaf, malah jawab, cuma sebentar kok foto-foto doang katanya. Sebentarnya mereka tuh, pose gonta-ganti ulang-ulang beda angel, trus antri ganti-gantian sampai mungkin (rencananya) serombongan kefoto semua. Dan mereka ada lebih 20 orang.

HELL O!

Kerjaan gw bukan momong nungguin kalian selesai foto-foto di tempat yang udah gw sewa ya!

Saya kesel udah muncak, tapi nggak tahu harus ngapain. Sampai kemudian terpikir buat ambil foto-foto mereka. Dan ternyata ampuh. Mereka ngacir kabur begitu sadar saya ambil foto mereka. Sokor!

Jangan harap orang lain akan menghargai kalian, kalau kalian tak punya sopan santun sedikitpun, anak muda!

Setelah itu, mereka nggak berani langsung duduk lagi di gazebo kami. Masih foto-foto dekat situ, tapi sambil berdiri doang, tidak lagi menguasai gazebo.

Baru kali ini sih pengalaman nggak ngenakin di pantai seperti ini.

Main ke Pantai Watu Lawang Jogja

Selebihnya, Diana seneng. Emak bapaknya juga seneng, bisa piknik dengan biaya murah meriah.

Pantainya sendiri gimana? Indah. Pasirnya putih dengan butiran agak kasar, tetapi tidak sekasar butiran Pantai Jungwok.

Ombaknya lumayan kenceng, tapi garis pantainya tidak terlalu panjang. Kalau banyak pengunjung, ya lumayan terasa sesak juga.

Fasilitas masih lumayan standar ya. Beberapa penjual makanan ada, tetapi tidak jualan menu seafood seperti di Indrayanti (CMIIW). Toilet bersih juga tersedia, tempat sholat ada, beberapa lahan parkir juga ada, meski masih terbatas untuk sepeda motor. Kapasitar parkir mobil masih sedikit.

Lingkungan sekitar Pantai Indrayanti sih sudah mulai banyak penginapan. Di Pantai Watulawang ada, tapi sepertinya sepi ya. Ada saya lihat di atas bukit dan bisa glamping juga kalau dilihat dari beberapa tenda warna-warni, mungkin bisa digoogling jika ada yang tertarik menginap di sekitaran Indrayanti. Pinggir jalan dekat Pantai Indrayanti juga sedang dibangun penginapan kualitas bagus saya lihat.

Cuma ya balik lagi, di mana-mana masalah klasik tempat wisata kayak gini hampir sama: sampah. Wisatawannya yang saya lihat masih minim kesadarannya. Sepertinya masih berpikir bahwa saya bayar, sampah biar diurus sama pengelola tempat wisata. Hadeh. Ini nggak generalisasi lho. Nggak semua tentunya.

Selfi dulu ya di Pantai Watulawang

Setelah seharian main di Pantai Watulawang, apa nanti mau balik lagi? Mungkin iya, tapi pengen nyobain pantai-pantai baru yang belum pernah didatengin dulu. Pengen nyobain nenda di pinggir pantai juga bareng Diana. Ini kayak jadi wishlist saya. Suami sih belom komentar sewaktu saya nyeletuk soal ini.

Watulawang, 27 Desember 2017

  • Bensin 30.000
  • Makan siang 48.000
  • Jajan 24.000
  • Tiket masuk 20.000
  • Mandi 8.000
  • Sewa saung 20.000
  • Parkir 3.000

6 thoughts on “Piknik Akhir Tahun Ke Pantai Watulawang Gunung Kidul

  1. Jalan-jalan di dunia maya, gak sengaja ketemu blog ini. Senang baca-baca postingannya. Apalagi tentang topik jalan-jalan.
    Semoga next bisa jadi Guest Blogger disini 🙂

    Salam kenal mba Nunik (“,)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge