Presiden Perempuan
Ini pertama kalinya saya bikin postingan yang bukan tulisan saya sendiri. Tadi saya sudah mendapat ijin langsung dari beliau.
Seluruh komen dan pertanyaan yang masuk akan saya teruskan ke Prof. Hamka Haq.
LIMA DALIL POKOK AJARAN ISLAM TENTANG KEPEMIMPINAN PEREMPUAN
Bismillahi Rahmani Rahim
1. Bahwa Nabi Muhammad SAW sangat menghargai kepemimpinan perempuan. Beliau bahkan pernah bergabung dalam sebuah managemen perusahaan di bawah pimpinan seorang perempuan konglomerat termasyhur di jazirah Arab, yakni Khadijah RA. Mustahil Nabi SAW melakukan hal ini sekiranya pemimpin perempuan itu haram, karena Mahasuci Allah SWT yang senantiasa melindungi Nabi-Nya dari perbuatan haram dan segala akhlak buruk, sejak lahir hingga wafatnya. Dalam buku Sirah Ibn Hisyam disebutkan bahwa Khadijah menjadi pemimpin karena dua hal yakni: (dzat syarfin wa malin) memiliki keunggulan SDM (martabat / kecerdasan) dan kekuatan ekonomi. Pada akhirnya Khadijah RA, yang dalam literatur sejarah disebut sebagai al-Sayyyidah (Tuan Perempuan) itu menjadi isteri Nabi Muhammad SAW.
2. Selain Khadijah RA, isteri Nabi yang lain bernama Aisyah RA juga pernah menjadi pemimpin, yakni menjadi Panglima Pasukan dalam suatu pergulatan politik awal pemerintahan Khalifah Ali RA. Beliau juga menjadi salah satu referensi paling utama dari hadits-hadits dan sunnah Rasulullah yang menjadi pegangan di kalangan kaum Sunni. Seandainya tindakan Aisyah RA menjadi Panglima Pasukan merupakan pelanggaran yang sifatnya haram, maka secara otomatis segenap hadits yang berasal dari dirinya harus ditolak, atas prinsip tidak boleh menerima riwayat dari orang yang terang-terangan melanggar ajaran Islam. Hal ini tentu berimplikasi tertolaknya sebahagian besar hadits / sunnah pegangan kaum Sunni. Maka satu-satunya jalan untuk tetap mengakui kesahihan dan keutuhan sunnah Nabi yang diriwayatkan oleh Aisyah RA ialah mengakui sahnya kepemimpinan beliau sebagai langkah yang dibenarkan ajaran Islam.
3. Keunggulan SDM dan kekuatan ekonomi adalah dua faktor utama yang mendukung tegaknya kepemimpinan, sebagaimana dibuktikan oleh Khadijah RA dan Aisyah RA. Itulah hikmahnya, sehingga Al-Qur’an menjadikan dua faktor tersebut sebagai syarat utama yang harus dimiliki oleh kaum laki-laki untuk dapat menjadi pemimpin. Simak dalam Q.S.Al-Nisa’ (4): 34.
?????????? ??????????? ????? ?????????? ????? ??????? ??????? ?????????? ????? ?????? ??????? ?????????? ???? ?????????????
(Kaum laki-laki itu adalah pemimpin atas kaum perempuan, dengan keunggulan SDM (martabat dan kecerdasan) yang diberikan Allah kepada sebahagian mereka atas sebahagian yang lainnya dan dengan kemampuan menafkahkan sebagian dari harta mereka)
Ayat ini benar-benar menekankan dua syarat utama pemimpin, yakni keunggulan SDM dan kekuatan ekonomi, dan tidak ada sama sekali lafal pada ayat itu yang menegaskan bahwa kepemimpinan hanya di tangan kaum laki-laki. Hal ini sejalan dengan fakta sejarah bahwa isteri Nabi juga pernah menjadi pemimpin. Karena itu, siapapun yang memiliki dua keunggulan tersebut, laki-laki atau perempuan semuanya berhak jadi pemimpin menurut ajaran Islam.
4. Kepemimpian perempuan yang dilarang oleh Rasulullah SAW hanyalah kepemimpinan monarki absolut seperti dalam sistem pemerintahan raja-raja atau kaisar-kaisar terdahulu. Itulah sebabnya, ketika Rasulullah SAW mendengar bahwa putri Kaisar Persia diangkat menjadi Kaisar di negeri itu, maka beliau menyatakan sebagai berikut:
??? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ?? ?? ??? ???? ?? ????? ????? ??? ???? ??? ?? ???? ??? ???? ????? ?????
Ketika sampai kepada Rasulullah SAW bahwa bangsa Persia telah mengangkat puteri Kaisar menjadi Kaisar mereka, maka beliau bersabda: tidaklah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan negaranya di bawah (Kaisar) perempuan. (Hadits riwayat Bukhary, Bab Kitab al-Nabi ila Kisra wa Qaishar)
Jadi, larangan dalam hadits ini tidak menyangkut kepemimpinan perempuan dalam sistem monarki konstitusional, lebih-lebih lagi tidak menyangkut sistem republik konstitusional, yang telah membagi kekuasaan menjadi tiga macam menurut teori trias politika, yakni eksekutif (pemerintahan), yudikatif (kehakiman) dan legislatif (parlemen). Dengan demikian Presiden Perempuan yang kewenangannya tidak absolut karena hanya sebatas pemimpin eksekutif, sama sekali tidaklah haram menurut syariat.
5. Bahwa Rasulullah SAW membolehkan perempuan jadi pemimpin dalam ibadah shalat, sebagaimana beliau perintahkan seorang perempuan bernama Ummu Waraqah untuk menjadi Imam (pemimpin) dalam shalat jamaah di lingkungannya, sebagai dalam riwayat berikut:
?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ???? ?? ??????? ??? ??? ??????? ??????? ???? ?? ????? ??? ????? ???? ??? ????? ?? ???????
Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Mari berangkat bersama kami ke rumah al-Syahidah (Ummu Waraqah) untuk menziarahinya”, dan beliaupun meminta seseorang untuk azan dan iqamat bagi nya, dan memerintahkan (Ummu Waraqah) menjadi imam bagi orang disekitarnya dalam shalat fardhu.
Lihat dalam Sunan al-Baihaqi al-Kubra, Juz III, h. 130, Shahih Ibnu Khuzaimah, Juz III, h. 89, ‘Awnu al-Ma`bud, Juz II, h.212 dan 225, Subul al-Salam, Juz II, h. 35, sebagaimana terhimpun dalam CD Room Al-Maktabat al-Alfiyah li al-Sunnat al-Nabawiyah). Dalam kitab Subulu al-Salam bahkan tegas disebutkan bahwa Nabi memerintahkan Ummu Waraqah menjadi Imam bagi mereka, walaupun terdapat laki-laki. Semua hal ini merupakan bukti-bukti konkret yang secara tegas menunjukkan bahwa syariat Islam membenarkan Pemimpin Perempuan.
Wallahu A’lam bi al-Shawab
BAITUL MUSLIMIN INDONESIA
Ketua Umum
Prof. DR.H. Hamka Haq
Penanggung Jawab Naskah
November 29th, 2007 at 8:35 am
wah semakin berat aja nih isi blog jeng ini!!!
yah silahkan,,,sah sah aja yang mampu jadi presiden…!!!
asal tetap berpegang pada agama, norma2, dan janji sewaktu kampanye!!
November 29th, 2007 at 10:23 am
Saya seeh terserah mo lanang kek, wadon kek, yang penting jujur, berakhlak baik, adil sama rakyat, ngg’ korupsi, dan dapat membuat negeri ini lebih maju dan lebih sejahtera.
November 29th, 2007 at 3:15 pm
by the way, dalam ramalan jayabaya akan datang ratu adil di tanah jawa, ratu adil lho… bukan raja adil
November 29th, 2007 at 3:16 pm
wedew.komen kita dikirim ke Prof. Hamka Haq .wah..harus setius nih komen nya..komen cempluk jangan diterusin y..:p
klo cempluk setuju aja pemimpin itu perempuan..
November 29th, 2007 at 4:30 pm
klo dari hati nurani yg paling dalam,
aLe ‘kurang’ setuju ama pemimpin perempuan.,
tp klo bener2 uda mendesak dan harus perempuan (karena gak ada laki2 yg memenuhi syarat) sudah lain ceritanya.
just my opini
November 29th, 2007 at 5:58 pm
kalo dinegara2 arab sini… buat mereka aneh sekali kalau ada pemimpin..apalagi sampai pemimpin negara seorang wanita..
dulu mertuaku sempet nanya…kok bisa sih indonesia, yg penduduk muslimnya terbesar didunia..pemimpinnya malah seorang wanita..emangnya gak ada laki2 yg mampu..emangnya..emangnya…
aku dulu yg bahsa arab juga clemotan bgt…cuma bisa geleng2 pala & ngangkat bahu… tanda aku gak tahu menahu
November 29th, 2007 at 7:04 pm
Kalau bisa calon presiden perempuan jangan hanya Mbak Mega saja dong, harus ada calon yang lain, misalnya saja : Isnuansa.
Kayak cocok lho jadi presiden…….presiden (blogger) Indonesia
November 30th, 2007 at 1:13 am
kalo mnrt saya sih bkn masalah perempuan lakinya yg mesti diributin, siapun orgnya yg jd pemimpin mesti bnr2 bertanggung jawab atas yg dipimpinnya, mesti pinter, jujur adil pokoknya akhlaknya bagus deh.. dan yg paling penting punya jiwa kepemimpinan.
November 30th, 2007 at 2:23 am
wah.. isinya makin berbobot.
is dukung siapa nih?/
milih capres perempuan ya???
November 30th, 2007 at 5:36 am
saya mah bebas aja, laki perempuan boleh jadi presiden dan siapa pun yg jadi presiden tetep dihormati, bukan dicacimaki kan…..
November 30th, 2007 at 6:55 am
opini saya gabungan antara ale dan ichal
November 30th, 2007 at 9:06 am
tdk menjadi soal laki2 atau perempuan…..yg penting “kerja nya bagus & ber-kompeten” he..he..
November 30th, 2007 at 11:16 am
mbaaakkk…
huhuhu… ga bisa isi di shoutbox, jadinya isi disini aja…
ya uda mbak, aku juga lagi baca2 nih, ntar aja kalo ada waktu baru baca… tapi jangan sambil guling2 ya bacanya…pokoknya jangan..
November 30th, 2007 at 12:45 pm
presiden perempuan…, why not..
asal jangan memimpin negara dengan terlalu memakai perasaan aja… (hihihi…).
tetapi alangkah lebih bagusnya jika pemimpin kita adalah seorang laki-laki (bukannya mendeskriminasikan perempuan lho mbak…), kan itu menurut agama lho..
November 30th, 2007 at 2:09 pm
Satu yang masih belum saya mengerti, apakah sudah sedemikian sulitnya mendapatkan presiden yang laki2 di Indonesia menurut Islam? Dan perlu juga mempertimbangkan pro kontra yang ada di masyarakat terutama organisasi Islam mengenai presiden perempuan, karena saya yakin banyak sekali yang belum bisa menerima hal yang satu ini.
November 30th, 2007 at 4:51 pm
mungkin kalau di indonesia maya ga apa kali tapi kalau di Indonesia nyata………???:(
December 1st, 2007 at 2:30 pm
tapi belum tentu juga presiden perempuan bakal bikin bagus negeri ini..
soalnya aku sebagai orang Aceh kecewa berat ketika Ibu Mega waktu itu janji ke orang Aceh katanya ngga akan meneteskan setitik darah pun, tapi akhirnya malah di gelar Operasi Militer.. akhirnya banyak nyawa yg “melayang”, padahal dia kan wanita.. harusnya kan pake cara kelembutan
sekedar beropini saja ^^
December 1st, 2007 at 5:36 pm
Perempuan atau laki-laki ya sama aja, yang penting sehat!
Lho… kok!
December 2nd, 2007 at 10:56 am
Waduh…berat nih isi blognya…
Kalo aku sih secara pribadi kurang setuju kalo pemimpin perempuan selama masih ada pemimpin laki-laki yang mampu. Kalo pemahaman saya seperti itu. Bukannya saya mendiskreditkan kemampuan perempuan loh…
Tapi ini kan Indonesia. Semua orang bebas dan berhak bicara. Seperti kutipan dari orang barat sono, “i disagree what you said, but i will defend until death your freedom to say it”.
Peace ya Is…
-iwan- yang lagi nunggu calon presiden perempuan dari partai lain.
December 2nd, 2007 at 11:23 am
beneran berat postingan kali ini, perempuan jadi president should be good :P, dulu itu Megawati bagus juga kan…
December 2nd, 2007 at 12:35 pm
dulu kan megawati ceweq udah sempet jadi presiden ^^
December 2nd, 2007 at 11:21 pm
Laki atau perempuan boleh aja jadi pemimpin, asal dia mampu.
December 3rd, 2007 at 1:43 am
Buatku sih nggak masalah punya presiden laki-laki atau perempuan, yang penting dia jujur, bisa memimpin dan mengatur negara ini.
December 3rd, 2007 at 4:15 am
Wah, saya beneran puas dengan postingan kali ini yang reaksinya jauh diluar dugaan saya.
Dari sekian banyak komentar, sesungguhnya belum ada satupun yang menyatakan keberatan terhadap Presiden Perempuan. Dulu banyak yang mengatakan bahwa Presiden Perempuan menyalahi syariat Islam. Sekarang bukti bahwa syariat Islam yang digembar-gemborkan untuk menghadang kepentingan politik seseorang itu terbantahkan sudah. Dan semoga pembaca yang sebelumnya mempercayai Dogma Agama begitu saja, tercerahkan dengan postingan saya kali ini.
Well, kalau anggapan selama masih ada laki laki kenapa harus perempuan, ini soal gender, bukan dalam konteks syariah lagi. Dan memang masih butuh waktu lagi untuk bisa menyamakan pandangan tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.
Diantara sekian orang yang memberikan komentar, saya sepakat sekali dengan komentar cerdas dari Fatah: tapi belum tentu juga presiden perempuan bakal bikin bagus negeri ini..
Memang, setelah tidak ada halangan dari sisi Syariatnya, giliran kita yang mempertimbangkan kualitas calon presiden tersebut. Pertanyaan yang tingkatannya sama: Jika presidennya laki-laki, tidak menjadi jaminan bahwa negeri ini lebih bagus kan?
Terimakasih atas semua komentarnya. Masih penasaran, karena ada beberapa teman yang biasanya memberikan komentar, belum tampak di postingan kali ini, jadi minta maaf saya belum akan memuat postingan baru lagi sambil menunggu komentar beberapa teman tersebut
December 4th, 2007 at 5:02 am
Semakin keren aja mbak postingannya!
Menjadi seorang pemimpin itu pusing (pengalaman pribadi), soalnya harus bisa mengayomi orang lain dan terkadang pun kita merelakan kepentingan kita hanya untuk mereka…:D
December 4th, 2007 at 5:44 am
mau perempuan kek…mau laki-laki kek yg memimpin…yang penting harus bisa membawa perubahan pada negara yg dipimpinnya…yang berperikemanuasian…perikeadilan..biar rakyatnya makmur sentosa…
sampai sekarang belum ada tuh pemimpin kita yg kaya gitu…yang kaya makin makmur yang miskin makin amblas…
heheheh..serius amat daku…
December 4th, 2007 at 6:58 am
Ardhi –> Pointnya mana? Setuju kan?
Mbak Heny –> Sip! Makasih ya.
December 4th, 2007 at 7:04 am
Kalau saya pribadi, nggak masalah mau presiden laki-laki apa perempuan (meski laki2 lebih saya prioritaskan).
Cuman, saya penasaran banget sama poin 5 mbak. Klo memang di hadits itu tertulis bahwa Nabi Muhammad SAW membolehkan perempuan menjadi imam shalat sementara jamaahnya ada yg laki2 (baligh), itu sangat perlu dipertanyakan (mungkin perlu diulas mulai dari urutan perawinya), tapi klo yg dimaksud dlm jamaah itu laki2 yg belum baligh, maka saya bisa memahami.
December 4th, 2007 at 9:14 am
Saya sih setuju pemimpin perempuan.
Tapi yang bener-bener kompeten,kredibel. Cuman siap nggak yang memilih itu melihat potensi perempuan tersebut. Bukan silau karena karisma atau kecantikan doang.
December 5th, 2007 at 3:53 am
hehehe mo belajar dulu ah lari……………………………………………………………………..berat euy menuai pro n kontra
takut sama kedua kata itu takut sama pro takut sama kontra
December 5th, 2007 at 5:28 am
yang penting jgn tinggalkan nurani….
December 5th, 2007 at 12:04 pm
Buat Manda, yang lagi tersenyum pada dunia, dan Senja. Makasih ya…
Mungkin sudah cukup saya menunggu komentar dari teman-teman Blogger dan waktunya kembali ke postingan sendiri.
December 8th, 2007 at 7:31 am
Kalau megawati berkiblat pada bapaknya, sukarno, akan saya dukung. Ini mah berkiblat pada suharto. Sang diktator, rezim and godfather yg membuat negara ini ancur
December 12th, 2007 at 7:49 am
siapa aja presidennya, oke aja, yang penting minum nya teh buotol sosoro, :p
December 12th, 2007 at 10:07 am
wah, aku ga mau berpolemik dalam masalah haram-melanggar syari’at/tidaknya pemimpin perempuan disini. (ingat, haram/tidak beda dengan boleh/tidak lho..-CMIIW)
pertanyaanku sederhana, siapa calon pemimpin perempuan itu? apakah syarat2 yang disampaikan dalam keterangan2 di dalil tersebut sudah terpenuhi? kalau sudah memimpin dan gagal? Aisyah, Khadijah pun akhirnya ‘mundur’ dalam risalah kepemimpinan mereka.
Ayoo,baca Sejarah Islam lagi. biar ga mudah terombang-ambing opini.
mungkin boleh, tapi sebaiknya tidak. beda kan paradigmanya?
*semua juga manusia, even Kyai
December 12th, 2007 at 4:43 pm
sayapun setuju bahwa islam membolehkan pemimpin perempuan (dengan segala syaratnya), saya juga sepakat dengan tulisan ini.
Tapi sayangnya yang sering terjadi di negeri ini bahkan di kolom komen blog ini adalah ketika ada pendapat bahwa “membolehkan” langsung ditanggapi seolah2 “menginginkan” atau bahkan dianggap “kampanye”. Hmmmm…
December 13th, 2007 at 3:12 am
mbak, pertanyaan saya ttg poin 5 udah dijawab belum yah sama bliaunya? soalnya menurutku itu hal yg krusial sekali, kan kita smua nggak pengen klo ada yang berniat ‘memaksakan dalil’ utk kepentingan kelompok..
December 13th, 2007 at 5:55 am
Jaclin –> Hush, ini bukan bicara soal dia, saya kan perlu pembenaran kalo mau nyalon presiden nanti, hihi
Puput –> Gyahahaha..
Trian –> Memang ada ya contoh yang tidak haram [halal], sekaligus benar, namun dilarang [tidak boleh]?
Siapa perempuan itu? pertanyaan yang sama dengan Jaclyn! Jawabannya Siapa Saja! Karena saya tidak sedang membicarakan nama seseorang. Soal mundur setelah tidak mampu, ini soal yang lain dan lebih ke soal politik jika dihubungkan dengan Indonesia.
Mungkin boleh, tapi sebaiknya tidak? Soal ini sudah saya jawab diatas… [Sudah ada yang berparadigma sama sebelumnya
]
Mas Sayur –> Betoooool! Belum ada yang menganggap informasi diatas sebagai ilmu saja!
Mbak Fa –> Waduh, maaf ya Mbak, saya nggak mungkin laporan via sms, apalagi banyak yang harus disampaikan. Lewat telpon juga kurang afdol. Nanti Minggu insya Allah saya ketemu dengan beliau, jadi nanti saya print dan sampaikan ke beliau. Mohon sabar ya :$
December 13th, 2007 at 6:36 am
Wadooow, huehehehe….
Aku sama kayak Fa. Jadi nunggu jawaban buat Fa dulu, Say…
December 17th, 2007 at 11:58 am
1. kayaknya belum pas yah pemimpin dalam hal dagang disamakan dengan pemimpin umat/khalifah
2. hi..hi..Aisyah mimpin perang dalam perang Jamal (apa shiffin yah) kan boleh dibilang pemberontakan pada Khalifah yang syah Ali bin Abi Thalib Ra…belum pas hujjahnya
3.yang pertama disebut adalah laki-lakinya(sebagai pemimpin atas kaum prempuan)yg kedua SDM..jadi yg diutamakan ttp laki2
4. kayaknya hadist tsb udah jelas penafsirannya soalnya gak ada tambahanya mis. kecuali bagi mereka yag adil.
5. kok jadi ragu, kayaknya belum ada laki2 makmum sama wanita