Pulau Tidung Masih Harus Berbenah

Pulau Tidung

Hari Sabtu yang lalu 13 Maret 2010, secara tidak sengaja saya melihat tayangan di salah satu televisi swasta, acara jalan-jalan yang dipandu oleh Ngesti Utomo, ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu.

Wah, jadi berasa pengen jalan-jalan kembali menyusuri Pantai yang airnya bening itu. Terlihat di televisi sih bening, tetapi kenyataannya pada saat saya ke Pulau Tidung, airnya sedang butek, mungkin karena hujan sehari sebelumnya, dan sampah juga ada banyak menggenang di beberapa tempat.

Saya jadi berpikir, ketika sebuah acara jalan-jalan di televisi sudah menampilkan Keindahan Pulau Tidung di Kepulauan Seribu, ada dua kemungkinan, yang pertama memang murni dibiayai oleh pihak televisi yang bersangkutan, tetapi ada juga kemungkinan kedua, jalan-jalan itu adalah iklan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk memajukan pariwisata di tempat tersebut.

Pulau Tidung dalam hal ini masuk ke dalam wilayah administrative Kepulauan Seribu, setingkat dengan Jakarta Selatan, Utara, Barat dan Pusat yang masuk ke dalam wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Dalam acara jalan-jalan yang dipandu oleh Ngesti Utomo yang lumayan manis tersebut, suasana Pulau Tidung memang digambarkan agak berbeda dengan apa yang pernah saya tulis. Ngesti lebih banyak melakukan kegiatan yang bisa dilakukan sendirian, tidak seperti saya yang mengikuti jadwal acara yang telah ditentukan oleh penyelengara Tour dan Travel.

Jika acara tersebut disponsori oleh pihak pemda DKI Jakarta, saya menyarankan agar sebelum diiklankan secara gencar sebagai daerah tujuan wisata, Pulau Tidung mustinya harus lebih banyak berbenah terlebih dahulu. Kenapa? Pulau Tidung masih minim sekali dengan fasilitas yang dibutuhkan sebagai tempat tujuan wisata.

1. Jangan berharap Anda menemukan tempat penginapan bernama Hotel di sana. Yang ada paling-paling hanyalah Guest House yang jumlahnya sangat-sangat terbatas. Anda bisa memang menyewa rumah penduduk untuk dijadikan penginapan, tetapi kita kan kadang perlu juga fasilitas yang sedikit nyaman ketika berjalan-jalan bukan?

2. Pulau Tidung juga tidak memiliki semacam toko serba ada, atau yang agak lengkap dikit dagangannya. Yang ada hanyalah warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman dengan jenis yang sangat terbatas. Memang sih, saya nggak menemukan kendala dengan hal tersebut, tetapi buat sebagian orang, lebih nyaman aja jika mudah menemukan apa yang mereka butuhkan di tempat wisata.

3. Pulau Tidung tidak memiliki sinyal komunikasi yang bagus. Dari berbagai macam operator, tak satupun mampu menangkap sinyal dengan baik. Entah masyarakat di sana berkomunikasi dengan menggunakan apa. Boro-boro 3G atau GPRS, pokoknya nggak bisa online sama sekali. Teman yang memakai Indosat masih bisa facebookan, dengan mencari posisi sinyal yang tepat. Telkomsel? Matiin saja hand phone Anda. Hahhaha..

4. Pulau tidung tidak memiliki restoran. Ya. Anda akan sangat kesulitan untuk mendapatkan makanan yang bervariasi di sana. Warung-warung makan kecil yang ada hanyalah warung dengan satu atau dua macam lauk yang bisa anda pilih. Atau, paling banter adalah warung bakso dan mie ayam. Jangan coba-coba pengen makanan jenis lain di Pulau Tidung. Bahkan sea food bakar atau goreng sekalipun!

5. Dan satu lagi yang paling biasa kita cari di suatu teempat wisata adalah souvenir atau oleh-oleh khas dari daerah tersebut. Nggak ada di Pulau Tidung! Anda perlu oleh-oleh? Ngesti Utomo memang menampilkan dodol rumput laut yang katanya sangat terkenal dari Pulau Tidung bahkan sampai ke daratan Sumatera, tetapi saya nggak menemukan ketika di sana. Entah di mana letak penjualnya. Kalaupun ada yang jual souvenir sebagai oleh-oleh berupa kerang-kerangan, dalam bentuk masih asli! Buat apa sih kerang Asli? Mbok ya diolah sedikit kek, jadi kreatifitas yang lebih indah. Ini asli sli sli, masih seperti bentuk yang sama ketika kita menemukannya di laut, hehehehe…

Masyarakat Pulau Tidung yang saya perhatikan terbagi menjadi dua macam jika saya boleh simpulkan. Yang pertama adalah nelayan asli, yang menggantungkan kehidupannya dari laut dan menangkap ikan serta hasil laut lainnya. Dan yang ke dua adalah warga yang telah mampu mendapatkan pengasilan dari adanya wisatawan yang hadir ke Pulau Tidung. Nelayan asli relatif lebih miskin dan kelompok yang kedua memiliki kehidupan yang lebih baik.

Warga yang memanfaatkan parisitata sebagai penghasilan mereka bermacam-macam seperti membuaka warung kelontong [tahu sendiri kan harga barang di tempat wisata selalu lebih mahal], membuka warung makan, menyewakan peralatan snorkeling, menyewakan rumah atau guest house, sampai dengan menjalankan usaha menyewakan sepeda dan transportasi lainnya.

Jika Anda ingin melihat foto-foto pemandangan di Pulau Tidung, silahkan add facebook saya. Mudah-mudahan saya konfirmasi secepat mungkin. πŸ˜‰

~~~
Baca juga tulisan saya yang ini ya:
1. Pengalaman Sehari di Pulau Onrust
2. Keindahan Pulau Tidung di Kepulauan Seribu
3. Gw Cantik Hari Ini!
4. Pantai Samudera Karawang Yang Memikat Hati

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

24 thoughts on “Pulau Tidung Masih Harus Berbenah”

  1. Cepet-cepet ngetik, jadi ada 1 kata yang salah ketik: pariwisata jadi parisitata, hahahah.

    Lumayanlah, jadi punya postingan baru di tengah kesibukan yang sedikit menjengkelkan.

  2. Wah berarti Sy yang pertamax dong teh? btw Pulau tidung, pulau yg indah namun cukup gersang n lumayan panas
    .-= Rafi selesai posting Anda Berminat Dapat $$$ Gratis ??? =-.

  3. kalo banyak kekurangannya, sepertinya potensi wisatanya susah berkembang ya, mbak… πŸ˜‰
    .-= vany selesai posting Penipu Kena Tipu =-.

  4. koq bisa begitu siih… berita di tipi jadi beda ama kenyataannya. ga baik dooong yang jelek dibagus-bagusin. πŸ˜›

    Sebelum mengkritik orang lain, pikirkan dahulu
    apakah kita sendiri telah sempurna dan bebas dari
    kesalahan. πŸ˜†

  5. Banyak tempat2 indah di negeri ini yang belum termaksimalkan potensinya. Sepertinya bangsa kita masih amalas untuk melakukan investasi jangka panjang. Sukanya yang instan-instan. Sekali coret langsung dapat uang seperti jual…
    .-= alamendah selesai posting Perilaku Bijak Di Hutan =-.

  6. Yg namanya iklan,harus begitu,Mba.
    Yg bagusnya saja yg ditampilkan malah dilebih-lebihkan.

    Masih banyak tempat yg diandalkan menjadi tempat pariwisata di negeri ini yg perlu dibenah.
    Benar,kata Mas Alamendah.

  7. Pulau tidung memang sangat indah, seharusnya pemerintah melalui dinas pariwisata lebih berbenah, karena pulau tidung merupakan sebuah objek wisata yang sangat menawan

  8. Umumnya pd setiap daerah wisata yg akan dipromiosikan, pemda setempat semestinya sdh siap dg infrastruktur pendukung, agar tujuan kunjungan wisatawan bisa tercapai sesuai target pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata.

  9. wah, kekurangannya banyak, mbak…
    mungkin itu yg menyebabkan potensi wisata pulau tidung sulit berkembang ya… πŸ™‚
    .-= vany selesai posting Penipu Kena Tipu =-.

  10. Kalau untuk wisatawan cowok sih biasanya nginepnya di tenda, bakar api unggun, makan mie instan. hehehe
    .-= Dimas Angga selesai posting [Blog Contest] Lomba Blog UII Berhadiah Netbook =-.

  11. kekurangan2 itu yg perlu dibenahi ya, mbak…
    supaya potensi pariwisata pulau tidung terus berkembang…. πŸ™‚
    .-= vany selesai posting Penipu Kena Tipu =-.

  12. g ada hotelnya tambah enak mbak, bisa bikin kemah (dasar ngirit) πŸ™„
    .-= Andrik Sugianto selesai posting Surat Untuk Sahabat =-.

  13. Seandainya pengelola pulau tersebut baca ulasan/kritikan Mbak Nunik ini, mungkin mereka baru terpikir untuk melakukan pembenahan yang bikin pengunjung merasa dimanjakan yach πŸ˜†

    Atau mungkin Pulau tersebut tidak ada pengelolanya kali yach?

  14. Paling jauh saya ke Pulau Pramuka. Kebetulan saya ada site di Pulau Untung Jawa, jadi agak sering saya ke Pulau Seribu.
    Satu hal di balik kekurangan signyal dan listrik, Pulau2 itu indah dan saya betah di sana πŸ™‚

  15. mbak Nuniek kok kecewa banget ya sampe emosional begitu. Rata-rata daerah wisata di pulau Seribu memang demikian keadaannya. Tapi banyak juga yang bisa menikmatinya. Pemda membatasi ruang bisnis swasta seperti hotel dsbnya karena mau memberdayakan penduduk yg telah lama tinggal di sana.

    Buat yg berjiwa backpaker jalan2 ke pulau seribu masih ok kok. πŸ™‚

  16. saya kira tidung di kalimantan timur mbak. ternyata kepulauan seribu ya? mang kebanyakan kalo d jawa begitu, coba sekali-kali mampir ke Pulau Tidung di Kaltim, mungkin tak mengecewakan bagi mbak. salam kenal ya.. πŸ™‚

  17. Kemarin habis jalan2 ke pulau tidung.
    Untuk yang senang backpacking, cukup enak kok di nginep di rumah penduduk. Lagian kalo dah ada hotel, kesian banget penduduk lokal pendapatannya akan jauh berkurang. Lagian lama2 hotel n cottage suka monopoli area pantai yang bagus2, kaya di anyer gitu, Dan lagi biaya tour ke sana ga akan semurah sekarang.

    Sinyal telkomsel? sori ya… aku pake halo, dan baik2 aja tuh. Sinyalnya full.

    Satu aja sih yang menyebalkan, penduduk buang sampah di pinggir pantai. Jadinya jorok, jijik, dan bau. Padahal pantainya berpasir putih dan bening.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge