Pulsa Gratis Yang Tak Pernah Ada

Saya ini kok sering iseng ya? Semalam, dengan mata yang udah setengah terpejam, ngantuk berat, tapi kerongkongan haus dan gerah, saya mampir di minimarket yang berada di depan terminal. Jam 23.00, sudah pasti sepi. Langsung menuju refrigerator untuk mengambil minuman dingin kesukaan saya. Nggak sebut merk ah, nanti dikira berbayar. Hehehe…

Ngubek-ngubek dompet, ternyata nggak ada uang kecilnya. Daripada ditanya pertanyaan bodoh yang menyebalkan “Nggak ada uang kecilnya saja, Kak?”, saya yang lebih dulu inisiatif untuk sekalian beli pulsa. Ternyata ada masalah. Pengisian pulsa tak dapat dilakukan. Jadilah saya hanya beli minuman dengan pecahan uang yang besar.

Ini keisengan saya. Ada yang janggal ketika mata saya menatap sebelah kanan meja kasir. Tertulis semacam pengumuman, bahwa konsumen berhak mendapatkan pulsa gratis (yang sayang nilainya –secara sengaja?– ditutupi sehingga tak terbaca) jika kasir minimarket tidak melakukan 3 tugas utama yaitu: menawarkan kartu member, menawarkan e voucher dan mengucapkan terima kasih.

Voucher Hadiah

Mari kita bahas satu per satu. Ketiga tugas utama itu adalah SOP (standar operasional prosedur) –tambahan– yang harus dilakukan oleh kasir. Tentu diluar menghitung barang yang dibeli konsumen dan lainnya. Setelah proses scan barcode, memasukkan belanjaan ke kantung plastik, kasir diwajibkan menawarkan kartu member. Nggak ada masalah sih, meski sedikit mengganggu juga. Namanya usaha mengikat konsumen supaya loyal. Meski minimarket lain memiliki stand khusus atau cara lain untuk menawarkan kartu anggota berbelanja, yang menurut saya lebih baik dilakukan. Bukan setiap berbelanja, misalkan hanya beli rokok, ditawarin kartu. Beli snack ditawarin kartu.

Yang aneh adalah tugas selanjutnya. Kenapa ya, menawarkan e voucher kepada konsumen pada setiap transaksi yang terjadi, musti menjadi SOP juga? Ini yang sangat menyebalkan. Pergi ke mini market buat saya bukan untuk membeli pulsa. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa sekarang hampir setiap mini market ikut-ikutan memperluas wilayah usahanya menjadi bisnis jual beli pulsa juga. Apakah sudah ada survey, kebutuhan konsumen yang pergi ke mini market adalah -termasuk- membeli pulsa?

“Sekalian isi pulsanya, Kak?” Ya, dan malam kemarin ketika saya coba pertama dan mungkin terakhir kalinya membeli pulsa, saya jadi semakin bertanya-tanya. Menunggu sekitar 5 menit, dan berakhir dengan kegagalan. Jauh lebih cepat dan jaminan berhasil jika saya pergi ke tukang khusus jualan pulsa, tak sampai 30 detik, handphone terisi pulsanya.

Mengapa jika mini market memang bukan main bisnisnya berjualan pulsa, memaksakan diri melakukan perluasan usaha sampai ke penyediaan pulsa? Mungkin itulah alasannya, karena sepi, jarang ada yang beli, lantas dibuatlah SOP yang mewajibkan kasir bertanya pada setiap transaksi: menawarkan e voucher!

Karena kasir suka lupa –atau nakal, pura-pura lupa– makanya, dibuatlah “hukuman” di sisi kasir, dan –seolah-olah– “hadiah” di sisi konsumen. Konsumen berhak mendapatkan pulsa gratis jika kasir tidak menawarkan isi pulsa! Bah!

Saya cuma bisa berbangga atas poin yang ketiga. Itupun tak semestinya –menurut saya– sampai dibuatkan sebuah SOP sistem punishment and reward. Memang sebuah “kewajiban” bagi kita mengucapkan terima kasih jika merasa terbantu. Kita pun sebagai konsumen akan berterimakasih kok ketika menerima kembalian dan uluran barang belanjaan, jika pelayanan yang kita dapatkan menyenangkan.

Bukan begitu?

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

43 thoughts on “Pulsa Gratis Yang Tak Pernah Ada”

  1. Tidak hanya minimarket, bahkan swayalan yang lebih besar pun juga merambah pulsa elektronik, melihatnya lebih seperti bisnis yang menjamur tanpa perhitungan. Yah, tidak tahu sih ke depannya, tapi bener deh, saya ogah beli pulsa di minimarket atau swalayan, kasihan kan antrian berikutnya.
    Cahya selesai posting Pembaca atau Pengunjung

    1. Yak! Betul, Dokter. Kalau prosesnya bisa selesai dalam30 detik sih, nggak masalah antrian berikutnya nunggu sebentar. Tapi kalau 5 menit belum masuk-masuk juga, lha ya kasian yang antri.

    1. Yap, prosesnya lama. Karena kasirnya kan nggak pengalaman khusus dalam penjualan pulsa elektronik, Beda sama tukang jualan pulsa yang memang spesialisasinya menjual pulsa.

  2. ya mbak is.
    menyenangkan .
    tapi setidaknya pemilik supemarket melihat karyawannyan. apa sudah sesuai belum dalam hal pegajian dan pemerkejaannya. .
    kalo sudah . .
    semua tergantung karyawannya.. mw megang teguh amanat ato tidak 😀
    ada-akbar.com selesai posting Dengan Video Porno

  3. he…he…he…he
    iya tuch suka sebel kalau belanja di kasih kembalian permen
    iya,kalau kembaliannya itu 100 rupiah..
    kalau 400 rupiah..lumayan bangkrut kan.
    kalau 1000 orang yang kaya gitu untung gede kan minimarketnya
    aku juga gak suka beli pulsa di minimarket..
    lama dan lebih mahal.. (^_^)
    mending di tukang pulsa.
    usagi selesai posting Sebuah kisah tentang Upacara Bendera –

  4. mungkin akan lebih baik jika yg menawarkan pulsa itu bukan kasirnya, tapi pembantu kasir, hehehe.
    Soalnya kalo proses transaksi pulsanya lama, katakan 3 menit saja, pelanggan yg mengantri pasti makin sebel.

    Salam kenal mbak isnuansa 😉
    Catatan Hery selesai posting Percaya Diri dengan Tulisan Sendiri

  5. Hmmm..kayaknya managemennya butuh ditiinjau kembali deh..
    Di tempat saya aja yang kota kecil, juga banyak kok yang ‘nggrundel’ masalah ini;
    Ohya, maap ya Mbak, berkunjung malam2, hehe;

  6. menarik sekali ulasannya. Jadi kasihan sama kasirnya, disuruh nawarin pulsa terus, padahal gak bisa ngisi. Jadi tiap ada costumer yg mau isi pulsa, ia pasti siap2 menahan malu!
    SALAM KENAL
    pakeko selesai posting Domain Gratis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge