Punya Waktu Sebentar Di Semarang, Ke Mana Saja?

Semarang adalah ibukota Jawa Tengah, tetapi saya malah baru satu kali benar-benar menginjakkan kaki di sana untuk jalan-jalan. Itupun hanya sekejap saja rasanya. Kalau cuma numpang lewat sih, sering sekali, karena setiap kali pulang kampung dengan kendaraan pribadi ya mau nggak mau memang harus lewat Semarang.

Dari Jakarta, setelah jalur tol nyambung terus, Semarang bisa dicapai dalam waktu 5 sampai dengan 6 jam saja. Tetapi alternatif transportasi yang nyaman sih menurut saya naik kereta api. Naik KAI ke Semarang dari Jakarta bisa ditempuh dalam waktu 6 jam juga dengan Argo Muria, Argo Bromo Anggrek, Sembrani dan juga Argo Sindoro.

Dengan biaya tiga ratus ribu rupiah saja per orang, kita sudah bisa naik kereta api kelas eksekutif dari Jakarta menuju Semarang. Sangat terjangkau untuk pilihan wisata di dalam negeri.

Lantas, ke mana sajakah obyek wisata yang bisa dikunjungi jika kita hanya memiliki waktu beberapa jam saja di Semarang? Semarang punya banyak tempat wisata yang menarik seperti Lawang Sewu, Kota Lama Semarang, Pantai Marina, Klenteng Sam Poo Kong, Gereja Blenduk, Taman Budaya Raden Saleh, Masjid Agung Jawa Tengah, Taman Puri Maerokoco hingga Mangkang Zoo.

Tapi kalau saya boleh memberi masukan jika harus memilih dua tempat wisata saja, saya menyarankan Klenteng Sam Poo Kong dan Lawang Sewu saja. Dua tempat wisata itu juga yang jadi pilihan saya ketika jalan-jalan ke Semarang dengan suami dan anak waktu itu.

Klenteng Sam Poo Kong adalah petilasan pendaratan Laksamana Cheng Ho, orang kepercayaan Kaisar Yongle, di Semarang. Laksamana Cheng Ho dipercaya beragama Islam dan antara tahun 1405 hingga tahun 1433 sudah tujuh kali berlayar ke Indonesia.

Pendaratannya di Semarang di sebuah pantai dikarenakan salah satu pasukannya ada yang sakit keras. Pantai tersebut ada di Desa Simongan, Semarang Barat yang berjarak sekitar enam kilometer dari lokasi Klenteng Sam Poo Kong saat ini.

Laksamana Cheng Ho tinggal di sebuag gua batu besar untuk merawat anak buahnya yang sakit keras tersebut. Klenteng Sam Poo Kong dibangun untuk tempat ziarah di lokasi petilasan tersebut karena masyarakat Tionghoa meyakini bahwa orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan. Cheng Ho meskipun seorang muslim dipercaya oleh mereka sebagai dewa.

Ayah Oei Tiong Ham, seorang Raja Gula Asia, akhirnya membeli kawasan tersebut dan memperbolehkan klenteng diakses oleh umum, padahal pemilik sebelumnya selalu menarik pajak yang mahal jika ada orang yang ingin masuk.

Hampir seluruh sudut klenteng sangat menarik untuk dijelajahi dan bakal menghasilkan foto yang instagramable deh. Pengunjung bisa membeli hio untuk bersembahyang, yang muslim juga disediakan mushola untuk beribadah, kita juga bisa menyewa baju ala Tiongkok untuk foto-foto cantik, pokoknya komplit, deh.

Nggak jauh dari Sam Poo Kong, sekitar dua setengah kilometer saja, ada Lawang Sewu yang sudah sangat terkenal di Semarang. Siapa yang bisa mengingkari keindahan bangunan tua hasil peninggalan Belanda di Indonesia? Semua orang pasti juga berdecak kagum karena desainnya pasti kokoh, megah dan mewah.

Siang itu, kami hanya banyak duduk di bawah pohon rindang karena cuaca yang amat panas. Sekali memutari bangunan untuk mendapatkan beberapa buah foto, dan diakhiri dengan makan siang sambil menikmati hiburan musik. Ada sebuah acara yang sedang diselenggarakan di Lawang Sewu siang itu. Berharap banget sih suatu saat nanti bisa menikmati Lawang Sewu di malam hari, hehehe.

Gimana, teman-teman juga tertarik untuk mengunjungi Semarang? Sudah punya gambaran mau ke mana saja kalau waktunya terbatas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge