Saatnya Mengakui, Isnuansa Blogger (Yang) Bodoh

Setelah selama ini saya (lebih sering) menulis dengan gaya-gaya narsis ala Isnuansa (hehe…), sekarang giliran mengakui kebodohannya. 😛 Bukan, bukan berarti saya kehabisan bahan untuk memuji diri sendiri, tapi memang harus ada saatnya menertawai diri sendiri juga. Mumpung momennya juga lagi ada.

Masih berhubungan dengan kopdar yang saya ikuti di Cempaka Mas kemaren. Ketemu dengan blogger-blogger yang lebih belakangan ngeblognya. Menjadikan saya bukannya terlihat makin keren, tapi malah lebih bodoh. Kenapa?

Jika ditanya sudah berapa lama ngeblog, jawabannya pasti sudah lama sekali. Tahun 2005 awalnya. Trus sampe sekarang udah bisa ngapain? Udah bisa apa saja? Udah jadi master dong? Udah dapet duit banyak dong? Udah bisa ngajarin blogger lain dong? Udah bikin buku dong? Udah punya banyak penggemar dong?

Hahaha, jawabannya sama sekali Tidak. Itulah kenapa saya bilang bodoh. Ya masak dari dulu begitu-begitu doang. Majunya dikit doang. Ilmu yang diserap nggak nambah-nambah. Keahliannya ya cuma bikin artikel doang, belum tentu dibaca lagi, sama orang lain, hahaha. Dan lain sebagainya.

Saya menulis seperti ini, karena salut sama Mas Casrudi, yang baru setahunan ngeblog, tapi sudah bisa (dibilang) sebagai blogger profesional. Memang sih, ngeblog saya yakin uang bukanlah sebuah parameter, tapi kalo tau jumlah $ yang sekarang ini sudah mampu dikumpulkan Mas Casrudi, semua bakalan ngiller, termasuk saya. Tenang, saya nggak akan membuka dapur orang kok Mas Rud, hehehe…

Merasa termotifasi sekaligus juga menyadari kebodohan diri sendiri yang tidak mau memulainya dari dulu. Selalu meragukan cara yang (padahal) dalam kenyataannya memang benar-benar bisa menghasilkan.

Maaf buat yang membaca tulisan ini, mungkin bingung, karena saya nggak bisa menjelaskan secara konkrit di mana letak kebodohan saya dalam ngeblog. Ya maklum, saya kan sudah akui dari judul awal: Isnuansa (ternyata) memang blogger bodoh. 😆

Author: isnuansa

Emak dengan satu anak yang hobi nulis. Memilih tidur kalau ada waktu luang. Follow saya di twitter: @isnuansa

20 thoughts on “Saatnya Mengakui, Isnuansa Blogger (Yang) Bodoh”

  1. Salam kenal mbak Nuni. Saya sebut ‘mbak’ adalah untuk menghormati.

    Saya juga heran. Blog sebagus ini kok ngga ada iklannya sama sekali. Kalau dibilang Mbak Nunik ga bisa pasang adsense, itu kurang mungkin. Saya bilang blognya mbak Nunik ini terlalu rapi, alias tanpa iklan.

  2. Kata siapa mbak nunik bodoh.

    saya paling anti dengan kata bodoh.

    hanya kurang mengembangkan. dan yang penting semangat menulis ada. itu yang utama.

    selamat menjadi blogger yang aktif ya mbak. dan terus lah menulis. salam kenal
    .-= jumialely selesai posting Ruang Keberbedaan =-.

  3. Kalo makna “bodoh” yang MBak Ninuk maksudkan seperti itu, saya rasanya juga bodoh mbak (bukan sok ngerendah loh). Tapi saya udah setahun lebih ngeblog, penghasilan online dari blog bisa dibilang masih belum ada apa-apanya (dari sisi rupiah sih).

    Kalo dollar malah nggak pernah dapet 😳
    .-= iskandaria selesai posting Belajar Menghargai Komentator Lewat Tanggapan atau Reply =-.

  4. nah loh, klo ada pernyataan bahwa nunik blogger bodoh, maka akan ngantrilah di belakang nunik blogger bodoh lainnya **termasuk bundo lah 😀

    mari terus menguntit nunik untuk menjadi blogger sukses.

  5. salutt..!
    aku suka orang yang sportif, selalu berintropeksi diri, memiliki keinginan untuk belajar, dan selalu bersemangat..
    Pertahankan.. 🙂
    DO ALL YOUR BEST.!

  6. Well, selama penyebutan bodoh disini sebagai motivasi bagi diri sendiri, saya rasa hal tersebut sah-sah saja. =)
    .-= dimasangga selesai posting [Intermezzo] Laporan Satu Bulan Perjalanan dimasangga.com =-.

  7. semangat ya mbak, aku selama ini belajar dari tulisan2 mbak nunik lho… 🙂
    sukses untuk setiap orang berbeda-beda. ada yg bisa mencapai dengan cepat ada yang agak lambat tapi hasil yang menentukan adalah yang maha kuasa.

    salam sukses

  8. saya juga sudah ndolar mbak, dah 10 job, tiap minggu dapat job lumayan, untuk nambah uang laki-laki.
    salam rindu
    .-= Plesiran selesai posting Napak Tilas Lokasi Shooting Film Seri Little House on the Prairie =-.

  9. Mbaq Nunik yg baik,

    Kalau kesuksesan ngeblog di ukur dari materi (rupiah/dolar yg didapat), banyak sekali faktor yg menentukan… Menurut saya tidak hanya soal waktu, tetapi juga salah satunya adalah soal keuletan. (maap bukan ulet yg di pohon2 :smile:).

    Coba sekarang mulai ulet menggeluti itu, saya yakin 2 bulan kedepan rekening mbaq Nunik mulai banyak diisi uang internet… 😀

    Amin

  10. Hmm.. apakah benar blogger professional itu hanyalah blogger yang memonetasi blognya?

    Kasihan donk kalau begitu leluhur2 blogger yang dengan segala kekuatan, waktu dan pikirannya berusahan mengembangkan dunia blogosphere tanpa meminta bayaran… Mereka tetaplah bukan blogger professional.. 😐

  11. aku bersyukur ternyata blogger (yang mengaku) bodoh bisa punya blog ber PR tinggi, itu artinya juga masih terbuka kesempatan buat saya seorang blogger (yang memang betul2) bodoh..

  12. Seorang blogger juga butuh dana untuk mempertahankan eksistensi-nya, mengebulkan dapurnya dan mempertahankan kualitas tulisannya. Tidak ada yang salah jika seorang blogger ujung-ujungnya cari duit. Karya seniman itu, apapun medianya, akan dianggap hebat jika bisa dijual dengan harga tertinggi. 🙂
    Nando selesai posting Ada Ide Buat Tema / Template?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge