Same Or New Tab?

Hmmm, saya sebenernya nggak lama-lama amat jika hanya sekedar menyampaikan tentang same tab atau new tab dari hasil pertanyaan saya yang lalu. Menjadi lama, karena saya harus belajar dulu beberapa point penting di blognya dr. Dani Iswara. Keren isinya, tapi berhubung penyampaiannya mirip diktat kuliah [harus dibaca dengan serius] dan kemampuan otak saya yang sedikit dudul, ya harus pelan-pelan memahaminya.

Dari DaniIswara.Net saya dapat ilmu yang bisa dijadikan pengantar terlebih dahulu sebelum melangkah ke Same Tab atau New Tab. Kedua pilihan tersebut menjadi penting ketika Anda harus membuat link atau tautan. Apakah tautan tersebut akan terbuka pada jendela yang sama [same tab] ataukah jendela yang berbeda [new tab].

Link / tautan memiliki fungsi:

  • Memudahkan nafigasi.
  • Merujuk ke sumber tertentu.
  • Membantu membentuk suatu jejaring.
  • Identitas [situs web].

Nah, di bawah ini, jawaban dari rekan-rekan yang masuk ke email saya. Saya melihatnya dari dua sisi, sebagai pembuat pranala, dan kenyamanan pengguna.

Menurut acuan umum panduan aksesibilitas konten web [lagi-lagi Anda perlu baca blog Bli Dani terlebih dulu], soal tautan yang terbuka di jendela sama atau baru tidak diatur.

Dari berbagai jawaban teman-teman blogger [terimakasih atas bantuan semua teman], saya akan menampilkannya di postingan ini.

Dari Dokter Dani Iswara:

Terkait Same tab vs New tab, saya akan melihatnya dari sisi aksesibilitas dan kebergunaan (usability). Dari sisi pengelola blog atau pembuat kode pranala (link) dan pengguna pranala.

Sesuai rekomendasi Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.0, membuat halaman Web dengan elemen rel=”target_blank” atau target=”_blank”, tidak dianjurkan. Karena mengganggu fungsi tombol [back] di sisi peramban Web. Sebagai pengelola blog, saya memilih menyetel pranala agar terbuka di halaman yang sama. 🙂

Enaknya, serahkan pilihan tersebut pada pengunjung/pengguna. Toh peramban-peramban Web modern yang berbasis grafis (GUI) sudah mendukung ‘open link in new tab’. Jika dipaksakan membuka di tab, jendela baru, atau bahkan jendela pop-up, memori komputer pun mungkin terpengaruh, jadi boros.

Sebagai pengunjung Web, awalnya saya lebih sering memakai ‘open in the same tab‘. Tapi akhirnya saya memakai ‘open in new tab‘, karena:

1) Banyak halaman Web tidak memberi peringatan bahwa pranala tersebut akan terbuka di halaman baru. Jika meng-klik pranala lalu yang muncul adalah jendela baru, terasa seperti diusir dari rumah yang sedang dikunjungi. Juga akan membingungkan, terutama jika pengguna terbiasa bekerja dengan banyak jendela terbuka di desktop. 🙂

2) Koneksi Internet lambat, saya membuka halaman yang lain di tab baru. Sementara halaman baru itu loading, saya membaca halaman sebelumnya atau yang sudah terbuka. 🙂

Jadi masalahnya, banyak pranala yang tidak aksesibel dan usable. Selain target_blank di atas, judul tulisan di single-post kadang tidak berupa hyperlink. Ini memang debatable. Sulit untuk open in new tab dan refresh halaman setelah berkomentar. Agak sulit jika diakses dengan keyboard saja, tanpa tetikus.

Tulisan saya terkait itu (ini ngga perlu disebut lho ya, hanya catatan tambahan aja):
http://daniiswara.net/2009/10/18/teks-pranala-yang-aksesibel-dan-usable/
http://daniiswara.net/2009/12/12/self-linking-post-title/

Jawaban Pak Guru Marsudiyanto:

Kalau link menuju ke blognya orang lain atau blog lain, saya terapkan New TAB. Pertimbangannya ya pasti agar blog saya nggak ketutup, sehingga komentator masih mungkin kembali menyimak blog saya.

Kalau link menuju ke topik lain tapi masih di blog saya, biasanya saya gunakan Same TAB. Bukan karena pertimbangan apa2, cuma saat beri link males nambah ‘target blank‘ aja. Kalau sempat ngedit dan lagi nggak males, pasti saya ganti ke New TAB.

Intinya: Saya lebih ke New TAB. Dengan New TAB nggak ada ruginya, dengan Same TAB banyak ruginya.

Dari Mas Badruzzaman:

Kalau saya pakai open in new tab, Mba. Karena masih jarang yang menampilkan link ketika di klik yang otomatis membuka jendela/tab baru. Saya hampir tak pernah jika mau mengklik link yang ada dalam postingan itu langsung klik saja tanpa klik open in new tab. Kalau tidak otomatis membuka new tab sendiri, jelas halaman awal akan ganti. Kecuali pada web yang sudah saya kenal yang selalu mencantumkan new tab otomatis pada linknya.

Terima kasih Mba, maaf kalau bahasanya kebolak-balik. karena ketidakpahaman saya soal ini.

Mas Hafiid Suhadak bilang:

Kalau untuk memberikan deep linking saya pilih same tab.

Karena dengan membuat same tab, berarti orang punya 2 pilihan, jika dia ingin mengklik di tab yang sama, tinggal klik kiri aja.
dan kalau ingin membuka di tab baru orang akan pilih klik kanan trus open link in a new tab atau window.

Tapi kalau saya memberikan deep linking dengan new tab. Orang hanya punya 1 pilihan.
Klik kiri open in new tab.
Klik kanan juga open in new tab/window.

Jadi saya lebih memilih untuk memberikan same tab.

Mas Didit [saya sebenernya lebih suka manggil Andreas, hehe, maksa] Tukangpoto:

Saya menggunakan same tab, Mbak Nunik..

Mas Muhamad Rahman:

New tab donk.

Hari Mulyanto mengirimkan email:

target=”_blank”.. Saya lebih suka open in new window/tab.. aLasannya biar haLaman yang lagi diakses sekarang (yang mungkin beLum seLesai disimak) masih bisa disimak.. dan kaLo misaL ada daftar link yang berisi beberapa link, kan bisa dikLik satu persatu tanpa kehiLangan daftar link itu…

Bli Wira Utama menjawab:

Tentang “same tab” atau “new tab“, di blog saya 100% menggunakan “open in new window” / new tab ketika memberikan link ke halaman lain baik itu deep link atau pun ke alamat home blog seseorang. Alasan saya tentu agar si pengunjung dapat membuka halaman tersebut tetapi tetap dapat melanjutkan membaca tulisan saya sambil menunggu loading halaman yang lain.

Kang Casrudi:

Mengenai TAB, apakah new tab atau same tab pada saat memberikan deep linking, maka saya mempertimbangkan dua keaadaan berikut : (setelah membaca pengertian deep linking dulu hasil cari dr google, eh nyampenya ke artikel di isnuansa.com :P)

1. Ketika dalam satu artikel ada banyak deep linking (2 lebih link) maka saya pakai New Tab. Alasannya supaya artikel yang sedang dibaca tidak tertindih, kan banyak rekomendasi link jadi sayang kalau tertindih. 🙂
2. Tetapi kalau hanya satu deep link saja biasanya saya pakai Same Tab.

Untuk kebanyakan sih saya pakai New Tab, sejauh ini belum meriksa efek dari new tab atau same tab.

Bli Putu Sudayasa:

Tentang menyisipkan link pada point penting sebuah artikel, saya lebih memilih new tab, karena bisa memberikan pilihan spesial kepada pembaca tanpa mengganggu atau meninggalkan halaman artikel sebelumnya. Pada halaman artikel yang dituju pembaca dapat pula membandingkan pokok ide dasar dari hubungan terkait antar artikel yang dimaksud.

Wempi:

Agak benar juga karena kadang pengunjung open banyak tab [tidak hanya blog kita yang ada di browsernya] membuat si pembaca bingung [ini datang dari mana? hubungannya kemana?], semakin rame tabnya semakin pusing, di artikel ini ada deep linknya di klik kemudian muncul lagi artikel yang ada deeplink nya, sehingga gak habis-habis, open new tab lagi 😆 .

ada satu cara untuk mengakalinya yaitu menggunakan ajax. begitu deeplink di klik maka akan muncul sebuah popup yang berada pada target=”_parent” sehingga target link muncul pada popup ajax tanpa harus meninggalkan artikel utama.

sebagai contoh silakan berkunjung ke http://www.nonumber.nl/extensions/modalizer?tab=Modal%20Types

Klik pada example ya supaya tau apa yang Wempi maksud.

Coba ke http://www.shadowbox-js.com/ sudah wempi coba terapkan di tulisan http://wempi.nokspi.com/index.php/dari-wempi/58-jalan-jalan/296-lembah-harau.html untuk link gambar sukses, untuk deeplink kurang sukses [bisa jalan tapi tidak sesuai keinginan].

~~~

Banyak juga ya ternyata hasilnya. Semoga yang membaca nggak semakin bingung. Sejauh ini, kesimpulan saya karena memang tidak diatur ‘sebaiknya’ seperti apa, saya lebih memilih untuk tetep menerapkan open link in new tab. Selain alasan ‘mengamankan’ halaman sendiri [egois lagi nih], saya tidak suka bolak-balik memencet tombol back. Jika menemui link yang saya ingin baca, seringnya saya tidak menunggu sampai bacaan saya selesai, jadi kalo sudah tertindih halaman baru, saya nggak nyaman dan bingung.

Saran dokter Dani Iswara untuk menyerahkan pilihan pada pengguna [apakah memilih new atau same dengan memberikan open link in the same tab], belom rela saya terapkan dengan alasan egoisme tadi. Sesuai pengalaman saya ketika blogwalking, jika sudah meloncat ke sana ke mari, mudah lupa sama ‘yang lama’. Dan saya nggak mau ketiban nasip seperti itu. Pengguna pun sepertinya makin lama makin tech savvy, sehingga meskipun membuka banyak [puluhan bahkan] tab, dia nggak akan terbingungkan [halah] oleh hal itu!

Kembali, apapun pilihan Anda, bacaannya tetep Isnuansa.Com kan?

27 thoughts on “Same Or New Tab?

  1. deep linking ki opo cah…
    ra mudeng…
    ngesearh sik ah di blog ini….
    *wew lupa blog ini ngga ada searchya ya*
    pake eyang google aja keywordnya “deep linking isnuansa” hihihihi…
    .-= yos´s selesai [nulis] ..geblek, motor orang asal pakai aja =-.

    Wes ketemu rung? Nek durung, tak ewangi nggoleki!

  2. hihihi..dibahas juga. Karena ngga ada yang maksa harus gemana, ya silakan saja sesuai selera masing-masing. 🙂 Maaf, karena saya sedang belajar menulis bahasa Indonesia. 😀

    Sedikit tambahan, jika saya mengakses dengan mobile device (ponsel), membuka banyak tab agak memberatkan memori. 🙂

    Hand phone dudul saya malah nggak bisa buka banyak tab, dok… Hahahaha…. Hanya sedikit lah prosentasenya yang mengakses via hand phone [canggih, lagi]. Makasih ya, masukannya paling top! Sehingga memaksa saya [mau nggak mau] membaca hingga selesai. Ada beberapa tulisan yang [bahkan] saya pikir ‘gw banget’ nih, padahal menurut bahasan di blog dokter adalah ‘dosa’. Hehehehe… Tapi nggak papa, orang Indonesia banget, udah tau salah, tetep dikerjakan juga. 😛

  3. Ternyata Mbak Isnuansa punya prinsip seperti saya.
    Saya juga belum rela menyerahkan pilihan pada yg ngeklick.

    Karena pilihan ada ditangan kita, alangkah ruginya kalau nggak kita manfaatkan.

    Lagian, hal itu tidak merugikan pihak lain.
    Soal koneksi lambat, itu kan masalah lain lagi.
    Bisa2 nanti ada yg beralasan same tab hanya karena terburu2, semisal istrinya mau melahirkan atau air banjir mulai meninggi atau pula sedang dimedan tempur.

    Kalau mikir yg gitu2, kapan mikir buat diri sendiri?
    .-= marsudiyanto´s selesai [nulis] ..T2074N =-.

    Merugikan pihak lain [jika itu yang dipakai ukuran] paling ya hanya sebatas seperti yang dikatakan oleh Mas Dani Iswara: merasa mengusir pengunjung yang tidak siap [kaget] ketika tiba-tiba kliknya terbuka di jendela yang baru. Tapi kini saya yakin karena ke-tech-savvy-an pembaca masa kini, mereka bisa mengerti. 😉

  4. Pak Guru Mars, dkk 🙂
    Sebenarnya ada isu kemanusiaan lain. Pake bahasa politik ala Mbak Nunix. Misalnya saya seorang dengan buta mata total yang mengakses Web dengan alat bantu ‘screen reader’. Jika tidak ada peringatan bahwa pranala akan membuka di jendela atau tab baru, saya akan frustasi saat memakai tombol ‘back’. 🙂

    Benar, itu kondisi minoritas. Tapi bahasa politik dan kemanusiaannya kan ‘persamaan hak akses’. Hak asasi memperoleh informasi.

    Membuka jendela atau tab baru biasanya dipakai jika halaman Web tersebut menampilkan bentuk berkas lain, seperti: pdf, doc, odt, ppt, odp. Itu pun sebaiknya disertai peringatan.

    Kalau jawabannya sama semua kan jadi ngga seru. 🙂

    Ya, dokter, saya sudah membaca di daniiswara. Bisa membuat yang [kalo nggak salah sebut] hendaya, frustasi ketika menemukan link yang tiba-tiba terbuka di halaman baru. Tapi balik lagi seperti yang saya sebut di jawaban komentar di atas, saya masih egois dan “Indonesia banget’. Ke depan, perlahan akan saya coba kurangi, karena terkadang kebiasaan juga, ketika hendak membuat link, udah reflek, otomatis membuatnya new tab. 😉

  5. same atau new tab buat mamah sama aja, soalnya gaptek soal beginian
    .-= Mamah Aline´s selesai [nulis] ..Miss my little sweety hunny bunny =-.

    Hehehe…

  6. Mumet mode on.. Pokoke matr suwun mb ilmune.. Kalau gratisan apa ada settingan pranala2 spt itu.?

    Sama, Mas. Ini hanya soal pengaturan saat membuat link aja, kok. Nggak ada hubungannya sama blog gratis dan berbayar.

  7. menentukan pengunjung untuk memilih same tab atau new tab? pastilah kebanyakn pada milih sametab, 8 dari 10 orang yang baru berkenalan dengan internet tahunya cuma langsung klik (terutama cewek2 tuh), ngga mau ribet2 klik kanan terus pilih open link in new tab. *apa iya ya* 😀
    .-= yos´s selesai [nulis] ..geblek, motor orang asal pakai aja =-.

    Ya, untuk yang baru memang cenderung belom mengerti tentang hal itu…

  8. Salam Takzim
    Dari kutubacabuku saya rasanya pernah izin komen disini tapi kapan ya, wah terima kasih kutu kau membikin kesibukan saya jadi bersemangat BW.
    Mbak Isnuansa, selamat Tahun Baru ya semoga semakin sukses saja
    Salam Takzim Batavusqu
    .-= batavusqu´s selesai [nulis] ..Tradisi Bayi Turun Tanah 5 (end) =-.

    Met tahun baru juga. 😉

  9. Klo saya untuk Blogroll menggunakan new tab, supaya pemirsa Blog saya tetep bisa melihat postingan2 saya 😳
    Tapi untuk link2 lainnya menggunakan same tab aja biar ga terlalu banyak tab yg terbuka :mrgreen:

    Makasih dah berkunjung ke blog saya 😛

    Hmmm, iya, blogroll penting juga tuh new tab, biar aman 😉

  10. Saya sebagai seorang pejalan blog akan melihat lihat dulu halaman yang saya buka. Kalau masih berada dalam situs yang sama lebih baik sameTab. tetapi kalau berada di luar situs akan lebih baik newTab.
    .-= mandor tempe´s selesai [nulis] ..Tulang ikan =-.

    Itu cara membukanya ya Pak? Kalo cara membuatnya?

  11. Mungkin nanti diusulkan membuat script walau dibuka di new tab tetap memiliki fitur back 😀

    He he…, maksa lagi 🙂

    Emangnya kalo dibuka di tab baru, di halaman yang lama jadi nggak bisa back ya? Atau, cuma di halaman barunya saja? Ya memang, kalo di halaman baru, jadi nggak bisa back, wong namanya juga baru?

  12. @Cahya,
    bisa juga kalo ada yang model seperti itu. 🙂

    @Mbak Nunik,
    komentarnya Mbak Nunik ngga terpantau di email saya. 🙂 Ini jawab komentarnya pake plugin ya? Atau edit di dasbor komentar? Kok jawab komentarnya pake blockquote? Kan bukan sedang meng-kuotasi komentar lain? 🙂

    Doh, jadi ketahuan salahnya satu lagi.

    Iya, saya jawab komentar dengan mengedit satu per satu komentar yang masuk, langsung di bawah komentarnya. Nggak pake plugin. Soal pilihan blockquote itu hanya untuk menandakan bahwa itulah jawaban saya. Apa Mas Dani baru ngeh sekarang, kan udah dari dulu saya jawab komentar seperti itu.

    Sebenarnya soal kebiasaan saja sih. [Dan salah ya] Dulu sempat mau di bold, atau di cetak miring, tapi kok akhirnya memutuskan pake blockquote.

    Ada saran sebaiknya gimana?

  13. hi, listen, Ive decided to visit your site- but cant get what language u are using
    .-= flowers´s selesai [nulis] ..December Gardering Tips =-.

  14. 😀 Semua kembali lagi kepada kebiasaan dan selera masing-masing, mau milih same atau newtab kalau saya tetap pada pilihan NEWTAB, ya sesuai alasan yang telah dipaparkan Mbak Isnuansa. 😎
    .-= TuSuda´s selesai [nulis] ..MEYAKINI SATU KEBENARAN MUTLAK YANG TIADA DUANYA =-.

    Saya sekarang sudah mengurangi new tab. Hehehe…

  15. kalo saya pribadi menggunakan kduanya. Untuk internal linking but sitill in the same page saya tdk pakai new tab atau new window tpi untuk internal linking with different page but still in the same as main url that only acts as sub url serta external link to other sites saya buat in new tab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge