Semalam Camping Di Pantai Ngrumput Gunungkidul

Liburan Idulfitri tahun ini, selain buat kumpul keluarga, saya gunakan juga untuk jalan-jalan seperti kebiasaan tahun sebelumnya juga.

Kalau acara kumpul keluarga ya gitu-gitu kan, nggak ada yang menarik buat diceritain hehehe.

Jalan-jalannya aja yang saya bagi ke blog ya, syapa tahu bisa buat secercah informasi buat yang membutuhkannya. Soalnya terkadang syedi akutu kalok butuh apa-apa dan googling ternyata informasinya sedikit di internet.

Okeh, jadi liburan kemaren itu perdana buat keluarga kami (saya, suami dan Diana) mencoba camping di tepi pantai. Pengalaman camping pertama saya di Pantai Sedahan bisa dibaca di link ini.

Setelah lulus camping pertama, langsung ketagihan pengen camping lagi. Diana juga langsung setuju, nggak pakai banyak cing-cong.

Cuma tujuannya ke mana?

Suami lebih condong pilih ke Bukit Kosakora. Diana emoh. Maunya di tepi pantai. Toss. Sama dengan keinginan emaknya. Hahahaha.

Ya sudah, akhirnya setuju dengan Pantai Ngrumput.

Browsing-lah pengalaman blogger lain yang pernah ke Pantai Ngrumput. Sebagian besar masih informasi lama: parkir di Pantai Drini lalu susur pantai atau trekking melalui bukit menuju Pantai Ngrumput.

Tapi saya tidak lagi menyarankan seperti itu ya.

Parkir Pantai Ngrumput

Sekarang dah ada parkiran motor yang deket dengan Pantai Ngrumput. Ntar saya bagi posisi map-nya di bagian bawah ya. Parkir di lokasi yang saya share itu aja.

Jalannya tinggal deket doang. Yah, naik turun dikiiit bangetlah. Jauh nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan menuju Pantai Sedahan dari parkiran Pantai Jungwok. *cry*

Kami berangkat dari rumah di Klaten sekitar jam setengah tiga sore. Jarak sekitar 75 km kami tempuh kurang lebih 2 jam dengan mengendarai sepeda motor.

Nggak bisa ngebut karena selain motor dinaiki bertiga sama Diana (jangan ditiru hahahaha), kami juga membawa semua perlengkapan camping kami sendiri. Mayanlahya beban motor kami hihihi.

Dari Klaten kami naik lewat Cawas, Jurang Jero, lanjut Semanu, baru pas ada pertigaan yang lurus ke Jepitu, kami ambil kanan ke arah Tepus. Standarlahya, cari arah yang ke Pantai Drini.

Gunung Kidul mah juaranya papan petunjuk jalan. Bahkan buat orang yang buta peta aja nggak akan nyasar di sana karena setiap pengkolan (((PENGKOLAN))) pasti ada plang penunjuk arahnya.

Cuma ya itu, kalau tanya sama orang ke Pantai Ngrumput di mana, masih diarahin parkir ke Pantai Drini. Jangan, percaya deh, lihat peta saya di bawah aja. Parkir di sana.

Nemu lokasinya saat suami yang penasaran liat map, kok sepertinya arah ke Pantai Ngrumput lebih dekat dari jalan halus mulus dengan ukuran lebih kecil dari jalan utama ke Pantai Drini. Dicobalah ikut jalan itu, padahal ya belum ada plang tulisan arah Pantai Ngrumput.

Beberapa ratus meter di depannya, baru terjawab. Ternyata bener, lebih deket memang lewat situ, selemparan kolor doang jalannya trekking paling 5 menit kalo pemuda pemudi nan gagah perkasa. Kalo saya bawa anak kicik ya selowlah 10 menitan.

Malam di tenda Pantai Ngrumput

Sampai di Pantai Ngrumput, badala, penuh amat tenda bejejer di pinggir pantai. Untung tenda kami mungil, yang kapasitas 1 orang saja. Jadi bisa nyempil dan dapat di deretan paling depan. View langsung menghadap pantai dan posisi di tengah.

Diriin tenda mah lima menit doang. Tenda saya merek Quechua beli di Decathlon (bukan endorse, tapi plis Decathlon kalo baca dan mau ngendorse saya nggak ditolak). Semua peralatan camping saya beli di situ soalnya.

Itu pantai nggak pernah sepi dari saya tiba, sampai keesokan harinya saya pulang, yang giliran datang mau nenda juga ramai datang.

Tapi ya itu suasana libur lebaran ya, nggak tahu juga kalau hari-hari biasa kek mana.

Ada lebih 40 tenda malam itu, dan tenda ukuran buesar semua kecuali tenda kami. Satu tenda itu bisa isi minimal 6 orang. Bisa sampai 12 orang karena sebagian tidur di luar. Pokoknya pantai ruame! Ada yang main voli dan sepakbola, ada yang nyanyi-nyanyi ngelilingin api unggun, ada yang bakar ikan, ada yang nyalain kembang api (iya, ini Diana) dan ada pula yang memancing. Semua seru dengan kegiatannya!

Pantai Ngrumput cocok buat ngajak anak mencoba pengalaman camping, karena medannya yang ramah anak. Kalau Pantai Sedahan kondisi sekarang ini (Juni 2018) saya belum rekomendasikan untuk balita ya.

Nggak punya peralatan camping sendiri? Tenang. Langsung datang aja. Buanyak yang ngerentalin tenda dkk-nya. Bahkan di Pantai Ngrumput, saat libur lebaran kemaren semua warung buka 24 jam. Kayaknya camping lagi trendΒ banget di Gunungkidul, jadi setiap hari ramai terus, banyak yang nenda di pinggir pantai.

Toilet, Mushola, Warung Makan semua komplit. Ini sih bisa dibilang camping KW ya. Hahahaha.

Diana di Ngrumput
Pantai Ngrumput yang bersih tanpa sampah sedikitpun. __\/__

Salut sama pengelola Pantai Ngrumput, karena kebersihan pantainya DJOSSS! Setiap tenda diminta biaya kebersihan Rp. 15.000,- tempat sampah disediakan, kalau mau buat api unggun dikasih alas tong, dan petugas kebersihan keliling memunguti sampah yang tercecer! Salut.

Seandainya semua pantai kayak gitu ya. Soalnya pas ke Pantai Sedahan kemaren sediihh, sampah berserakan di mana-mana. Bukan nyalahin pengelolanya juga sih, yang camping kenapa buang sampah sembarangan? Kenapa sampahnya nggak dibawa pulang? Foto tenda saya di Pantai Sedahan dikelilingi tisu bekas. Hiks.

Kalopun ada yang nyalahin saya kenapa ngemeng doang lihat sampah malah nggak dipungutin, huhuhuhu, itu sampahnya beneran banyak dan saya juga terbatas tenaganya. Puasa juga waktu itu bro, trus ngebayangin naik turun bukit sekitar 2,5 km dengan barang segambreng, adudududu, belom shanggupdeee… Plis, ngingetin aja yang mau camping di Pantai Sedahan, sampahnya bawa pulang yaaa.

Balik lagi Pantai Ngrumput ya. Karena yang camping buanyak banget, trus yang bikin api unggun sekampung, dan semua warung nyala lampunya, syahdunya alam jadi kurang berasa menggigit. Yang nyari sepi dan mau lihat milky way sih saran saya ke Sedahan.

Saya lihat ada yang beli ikan di warga nelayan (atau warung pinggir pantai situ ya?) dan bakar ikan di tepi pantai duh seruuu abeees.

Saya sih makan nasi bekel dari rumah karena dipaksa mertua bawa makan sendiri HAHAHAHAHA. Ciyan.

Main Pasir Pantai Ngrumput

Diana dua kali nyebur di pantai. Pas datang sampai malam, dan pagi hari sampai pulang. Pokoknya Diana mah kalo jadwal pulang kampung harus sampai gosong kepanggang kulitnya. Belum sah pulang kampung kalau belum gosong kulitnya.

Camping di Pantai Ngrumput kemaren lupa bawa handuk, dan nyari di warung belom ada yang jual. Jadi handukannya pakai baju yang bekas dipakai sebelum mandi, hihihi.

Senang hatilah liburan camping begini. Pengeluaran paling bensin 30.000 pp sama tiket masuk 20.000 dan parkir 5.000. Jajan-jajan makanan kecil sama minuman dan makan juga palingan habis 200.000 bertiga. Hemat!

Gimana? Mau nyobain camping bareng anak?

12 thoughts on “Semalam Camping Di Pantai Ngrumput Gunungkidul

  1. camping back to nature mbak hits lagi yah, aq sih belum berani kalau yang camping begini, jadi pengen nyobanya glamping aja dulu,, tapi itupun sampe sekarang belum kesampaian, ayahnya masih gak berani ngajakin anaknya yang kemping2 gitu,, takut ini, takut itu, banyak takutnya… padahal bundanya udah ready banget,, hahaha
    mayarumi selesai posting Yuk Main Lego Roket

  2. Jadi teringat liburan ke pantai eksotik satu ini …

    Betul sekali,kak… area pantainya sangat bersih.
    Dan aku suka dengan pantainya yang terpisah lumayan jauh dari lahan parkir, jadi berada di pantai ngga kliatan kendaraan.

  3. seru abis mba. pingin coba camping karena bayangin kaya di film2 yang ngajarin anak-anak mencintai alam dan positifnya ngecamping jadi lebih tangguh.

  4. yasalaaaaam baca artikel ini kemudian super ngeces sendiri karena puengeeeen buanget. Anak2ku juga saban pulkam ke Kulonprogo ya mesti gosong, kalo gak main di pantai, ngebolang di sawah ladang penduduk sekitar rumah mbahnya.
    Duh asli kepengen ni jadinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge