Sudat Pandang Berbeda; Spri

Terinspirasi dari postingan PakDhe Cholik yang ini, saya akan menceritakan dari sudut pandang yang berbeda.

Saya adalah Pak Slametnya. Alias setap. Apa ya, yang menarik yang bisa diceritakan oleh Pak Slamet, eh, setap? Nggak ada kayaknya.

Diajak ngomong Inggris kaya Pak Slamet, saya pasti akan nyerah duluan. Lebih baik diajak ngomong pake bahasa Jawa aja, wong bos 3 periode mewakili dapil Jawa Timur VIII, daerah kelahirannya PakDhe Cholik kalo nggak salah [meskipun beliau asalnya dari suku Batak].

Beratnya menjadi setap seperti Pak Slamet, selain menjaga nama baiknya sendiri, dia harus menjaga nama baik pimpinannya. Ada yang tidak bisa secara sembarangan di ceritakan, meski dia mengetahui banyak hal tentang pimpinan. Bukan rahasia sih, tetapi sepertinya tidak profesional saja jika ‘terlalu banyak omong’.

Yang pasti, tidak seperti Pak Slamet yang menawarkan makan siang dengan sangat sopan “Bapak ngersaaken dahar punapa?”, saya tidak pernah bertanya! Jika lapar, beliau akan minta. Jika tidak minta, artinya tidak lapar, atau sudah makan di tempat lain, hehehe…

Makanan yang dimintapun paling-paling nasi goreng yang harganya sepuluh ribuan sudah diantar sampai tempat. Minumnya teh tawar atau air putih.

Soal tugas menjadi ‘Akismet’, itu yang paling pokok. Mesti saya kadang bingung juga harus bersikap. Karena saya berasal dari suku Jawa, dimana tidak ada sistem marga, biasanya yang dianggap keluarga ya memang hanya keluarga saja: kakek, nenek, orang tua, adik, kakak, paman, tante dan sebutan keluarga lain.

Bagi orang Batak, setiap marga yang sama, dianggap keluarga. Belum lagi marga A bersodara dengan marga B dan seterusnya. Jadi, meskipun secara darah tidak ada hubungan keluarga, karena marganya sama, kadangkala tamu akan mengatakan: “Saya adiknya”, dan itu sah! Dia tidak bohong, tetapi jangan lantas diartikan sebagai ‘keluarga’ dalam artian hubungan darah.

Untungnya belum pernah ada kesalahpahaman jika saya sebagai ‘Akismet’ salah memasukkan keluarga ke dalam kurungan ‘SPAM’. 😆 Mereka biasanya mengerti karena saya kan menjalankan tugas untuk ‘melindungi’ dari serangan spam.

Enaknya profesi setap ini, saya bisa berhubungan dengan banyak orang sehingga bisa memperoleh banyak ilmu dari sana. Jika hanya Nunik, orang akan bertanya: “Nunik siapa ya?”. Begitu saya sebut Nunik setap Bapak X, segera dijawab: “O… iya, iya…”. Sambil manggut-manggut tentunya. Haha…

No related post.

2 thoughts on “Sudat Pandang Berbeda; Spri

  1. Saya belum pernah merasakn jadi setap kayak gitu deh mbak. Mungkin asyik lho karena ketemu dan kenal banyak orang. Saya hanya staf biasa saja.
    Kalau jadi adc pocokan ( apa ya namanya, adc pengganti saja deh) pernah beberapa jam ha.ha..ha.
    Ooo, jadi mbak e ini di Senayan tho, pantas sering nYalon.
    Salam hangat dari surabaya
    .-= Pakde Cholik´s selesai [nulis] ..Syukuran dengan Buku =-.

    Lha PakDhe Bose! Ya nggak pernah jadi setap… 🙄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge