Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #4

Leang Leang sebenernya adalah objek wisata yang paling akhir saya kunjungi sebelum akhirnya saya harus ke Bandara dan meninggalkan Makassar hari Minggu malam.

Awalnya, jadwal saya hari Minggu itu adalah ke Pelabuhan Paottere dan ke Bantimurung saja. Tetapi karena masih ada waktu tersisa, antara jam 3 sore sampai dengan jam 6 (saatnya saya harus ke Bandara), ya saya manfaatkan saja.

Objek wisata Leang Leang dekat dengan Bantimurung. Jika dari arah kota Makassar menuju Bantimurung (Maros), kita akan melewati sebuah papan petunjuk jalan di sisi kiri, menuju Leang Leang.

Tapi saya ke Leang Leang sepulangnya dari Bantimurung. Jadi masuk ke arah kanan, melewati jembatan dan masuk jalan yang lebih kecil. Ada yang aneh ketika jalan bercabang, tidak ada petunjuk jalan yang menyebutkan kita harus belok kanan atau kiri! Dem. Kalau salah ambil jalan resikonya nggak ketemu nih objek wisata. Saya dan teman sama-sama sepakat ambil yang kanan jalan.

Perjalanan Menuju Leang Leang

Sempat ragu juga dengan pilihan kami karena jalanan makin rusak dan sebelah kanan kiri adalah sawah. Tapi bukit-bukit tinggi menjulang di kejauhan, seolah menuntun kami bahwa itulah arah yang benar.

Sedikit agak lega ketika jalanan becek dan berlubang berganti menjadi jalan beton. Menurut asumsi saya, pasti benar objek wisata Leang Leang ada di depan. Nggak mungkin sebuah jalan beton dibuat, jika tak ada ‘apapun’ di depan sana. Apalagi tadi jalanan sangat jelek sebelumnya.

Dan benar, tak jauh, kami akhirnya sampai juga di Leang-Leang. Tiket masuk adalah Rp. 5.000,- per orang.

Tepat ketika mambayar tiket masuk, hujan turun. Dem!

Leang Leang Makassar

Akhirnya selama kurang lebih satu jam, hanya memandangi bebatuan dari bawah semacam saung, rumah-rumahan tempat berteduh.

Ketika hujan agak reda, meski masih gerimis, langsung dimaksimalkan dengan foto-foto. Saya tak sempat banyak menggali informasi tentang Leang-Leang ini. Tak banyak orang yang kami jumpai di sana. Hanya ada serombongan pasangan yang sedang melakukan pemotretan pre wedding, dan sepasang bule berkewarganegaraan Belanda.

Sangat disayangkan objek wisata Leang Leang tidak dipromosikan secara optimal oleh Pemerintah Daerah Maros, padahal potensinya bagus. Bukit-bukit tinggi dengan gua-gua yang ada. Dan bebatuan hitam besar yang ada di sepanjang jalan, yang berusia tua.

Belum selesai mengambil gambar, ada dua masalah yang timbul: batre kamera habis, dan hujan menjadi semakin menggila derasnya! Padahal saya harus segera ke Bandara dan pulang ke Jakarta.

Terpaksa berkendara menembus hujan, melawan rasa dingin, dan berbuah basah kuyup. Setiba di Bandara, ganti baju, ngopi dan makan donut, baru check in. Tiba di rumah sudah jam 24.00 Senin dini hari, dan paginya kerja seperti biasa. Sebuah keajaiban bagi saya, kehujanan tanpa jatuh sakit kemudian. “Itu karena kamu bahagia”, bisik teman. Hahaha…

~~~

Bukan berarti Seri Cerita jalan-jalan ke Makassar sudah tamat, lho. Masih banyak yang lainnya.

Cerita sebelumnya:
Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #1
Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #2
Makassar, Kebaikan Yang Tak Terhapus #3

Jika ingin melihat foto lengkap saya saat jalan-jalan ke Makassar, add facebook saya. Tapi sekarang saya lebih banyak nongkrong di Twitter, follow saya ya @isnuansa, dan jadi teman saya di Foursquare. Terimakasih. 😉