Hari Gini Masih Ada Yang Nggak Tahu Blog?

Dahulu, awal-awal tahun 2005 saya mulai mengenal blog. Setiap kali mengetikkan sesuatu di mesin pencari, muncul website-website yang ketika saya klik, isinya adalah cerita pribadi pemiliknya. Saya akhirnya menyadari, bahwa pemilik website tidak hanya sebuah perusahaan (dengan banyak karyawan dan dana besar), tetapi bisa dimiliki juga oleh perorangan.

Dengan rasa penasaran yang besar, bagaimana caranya seorang “manusia biasa” *hayyah* bisa memiliki website, saya terus mencari dan mencari jawabannya. Kan, saya pengen juga majang foto-foto narsis dan bisa dikomentari teman-teman. Saya pengen setiap jalan ke mana, makan apa, sama siapa, semua orang bisa tau… Pada akhirnya, saya tau bahwa website-website pribadi itu namanya blog, dan bisa dimiliki secara gratis!

Dari hasil membaca sana sini, akhirnya saya berhasil punya juga sebuah blog gratisan. Meskipun setelah itu jadi bingung sendiri, mau ditulisi apa ya? 😆

Proses yang panjang, akhirnya lancar juga menulis satu demi satu pengalaman yang tertuang di blog Murni Curhatannya Isnuansa ini. Dan dengan bangga juga menyebut diri sendiri seorang blogger. Pemilik Blog.

Kini, blog sudah bukan barang yang aneh lagi. Jumlah blogger yang mencapai 4 juta (Sumber: Pak Nukman di acara Blogilicious Jakarta) menunjukkan angka yang cukup tinggi, mengingat pengakses internet di Indonesia juga masih terbatas.

Yang saya geram, sampai saat ini masih banyak juga yang nggak tahu blog itu mahluk apa. Karena ada saja email-email yang masuk via kontak saya yang sangat menggelikan.

Bisa pesan yang ukuran 38? Kalau beli 4 harganya jadi berapa ya?

Ini pasti habis membaca tulisan saya tentang sendal Joger. Untung nggak pernah curcol tentang Bra, jangan-jangan itu ketuker sama ukuran… *PLAAAKK*

Lebaran besok masih melayani untuk ke Pulau Tidung?

Saya dipikir adalah agen tour and travel, padahal hanya berbagi pengalaman saja ke Pulau Tidung.

Blog itu tempat berbagi informasi, tapi bukan berarti si blogger itu tahu semuanya. Jangan sampai menuduh mengira blogger itu juga otomatis menjual dan menyediakan barang dan jasa yang ditulisnya. 😆 Mungkin juga pertanyaan-pertanyaan aneh itu muncul karena kebiasaan kita (ya, kita semua para pencari di search engine) yang hanya scanning, bukan reading informasi.

Teman-teman pernah punya pengalaman juga dengan orang yang nggak ngerti apa itu blog, padahal dia adalah pengakses internet?

Sulit Menulis Tanpa Inspirasi Orang Lain

Beberapa teman bertanya, kok saya punya banyak waktu menulis? Entahlah. Saya sendiri berpikir, saya ini tak pandai menulis. Menulis hanya bisa jika ada pemicunya. Ada inspirasi dari tulisan orang lain. Jika saya membaca, maka saya bisa menulis. Sebaliknya, tanpa membaca, saya tak bisa menulis apa-apa.

Seringkali, memang pemicunya hanya sepele. Hanya ada satu kalimat yang saya baca, memunculkan ide untuk bisa menulis hingga 200 kata, atau bahkan mungkin lebih. Masalahnya, mencari kalimat yang bisa dijadikan sebuah inspirasi untuk saya tulis, itu yang susah. Sudah membaca puluhan judul tulisan orang lain, sudah menghabiskan banyak waktu, tetap saja belum ketemu ide awal untuk saya memulai tulisan sendiri. Tapi, terkadang juga inspirasi datang beruntun. Dari dua atau tiga tulisan yang saya baca, muncul juga dua atau tiga tulisan yang bisa saya buat. Makanya, tulisan saya bisa beberapa dalam waktu singkat, karena kalau tidak langsung dieksekusi saat itu juga, idenya bisa langsung menguap, dan tak jadi tulisan.

Dan kalau ditanya dari mana saya dapat inspirasi terbanyak? Ya dari tulisan blogger lain. Itu sumber utama saya. Entahlah, saya sulit terinspirasi dari berita televisi yang saya lihat, cerita teman yang saya dengar, atau koran yang saya baca. Mungkin tulisan blogger lain terinspirasi juga dari televisi, teman atau koran, tetapi karena bahasa bertutur blogger lain dengan media-media tersebut, saya baru bisa terinspirasi jika membaca tulisan blogger lain. RSS Feed merekalah sumber ide tulisan saya. Sampai saat ini masih ada hampir 500 blog yang saya daftarkan, meski tak semuanya yang hingga kini aktif menulis.

Kalau Anda, dari mana inspirasi menulisnya?

~~~

Oiya, sambil pengumuman, besok saya mau ke Bandung, kentjan sama Satrya. Tunggu ceritanya ya…

Keyword Sebagai Nama Komentar, Berhasilkah Membentuk Brand?

Blogwalking merupakan bagian dari aktifitas ngeblog. Setelah membaca sebuah artikel di blog seorang kawan, biasanya blogger akan meninggalkan komentarnya atas tulisan tersebut. Dan kolom formulir isian yang jamak disediakan oleh pemilik blog adalah Nama (harus diisi) Email (tidak akan dipublikasikan, harus diisi), dan alamat blog atau website.

Apa yang akan Anda isikan di kolom Nama?

Ada beberapa yang saya perhatikan sering digunakan oleh blogger dalam mengisi nama.

Nama Asli

Nggak perlu diterangin kan ya kalau yang ini. Bisa saja Nina, Joko, Hengky dan lain sebagainya. Kita pun akan enak membalas komentar jenis yang ini. Karena dengan mudah akan me-reply: Terimakasih Mas Joko komentarnya, dan lain sebagainya. Terasa akrab.

Nama Blog

Beberapa yang saya temui di kolom komentar saya, adalah blogger yang memang tidak menggunakan nama aslinya, tetapi nama blognya sebagai nama di kolom komentar. Seperti Alamendah, Alisnaik dan Indobrad. Jenis ini, meski lebih sulit kita akan memanggilnya, tetapi mereka masih bisa diketahui nama aslinya di blog. Tidak anonim, tetapi jika belum kenal, akan membuat kikuk bagaimana menyapa mereka.

Ketika saya sudah kenal nama aslinya, memang lebih nyaman jika menyapa Alamendah dengan Mas Ali, Alisnaik dengan Arooel, dan Indobrad dengan Opa Bradley.

Keyword

Keyword ini bisa bermacam-macam, mulai dari kata kunci yang digunakan mengikuti kontes SEO, sampai dengan nama barang dagangannya. Di blog saya, berseliweran nama-nama seperti: Genset Bekas, Toko Bunga Surabaya, sampai dengan Kampung Perawan. Huh.

Nama Komentar

Bagaimana saya mau menjawab komentarnya? Sama siapa saya akan ngomong? Sama Genset? Sama Toko? Sama Kampung?

Yang menarik, sebuah Universitas, juga mulai memperkenalkan diri sebagai HANDOUT melalui komentar di blog! Itukah brand yang akan mereka tawarkan untuk kampusnya? Berikut screenshotnya. Sayang, saya langsung pencet Spam, karena titip link, dan isi komentar nggak ada artinya. 😆

Nama Komentar

Salahkah Menggunakan Keyword Pada Nama Komentar?

Kalau ngomongin salah benar, ya nggak salah juga sih. Tapi secara pribadi saya lama-lama agak risih juga membacanya. Terutama keyword-keyword yang aneh-aneh.

Jika diimbangi dengan kualitas komentar yang diberikan, mungkin masih bisa ditolerir. Tetapi kalau nama yang diberikan adalah keyword, dan komentar yang ditinggalkan hanya asal, seolah-olah blog kita adalah “tempat sampah” buat mereka. Tempat mencari backlink saja. Bagaimana menurut Anda?

Berhasilkah Membentuk Brand Melalui Keyword di Nama Komentar?

Untuk peringkat di search engine mungkin pengaruh ya, tapi tidak untuk nama baik. Terlalu keras dan frontal jika mengiklankan produk melalui nama di kolom komentar. Rasanya nggak nyaman buat saya yang punya blog. Dan Satrya lebih dahulu secara jelas memberikan persyaratan bagi komentator di blognya seperti berikut:

Pastikan komentar Anda sesuai dengan peraturan saya :
Gunakan nama asli/nama panggilan, jangan kata kunci (keyword)
Jangan masukan link kedalam komentar (gunakan hxxp:// bila terdesak)
Jangan menggunakan kata-kata kasar/kotor
Bila ada yang ingin ditanyakan secara personal, silahkan gunakan form contact (navigasi atas)
Komentar yang melanggar peraturan saya akan dimasukan sebagai SPAM atau di hapus !

~~~
Monggo, silahkan berbagi pendapat di kolom komentar….