Minggu Seru Di Festival Jurnalisme Warga

Saya melewatkan workshop menulis dan fotografi yang diadakan sehari sebelumnya. Rangkaian acara Festival Jurnalisme Warga “Kencangkan Suaramu” ini memang diadakan selama dua hari, Sabtu-Minggu, 14-15 April 2012 di Museum Nasional. Beruntung, blogger sebelah saya hadir dua hari berturut-turut, jadi saya bisa tetap mengikuti, meskipun hanya melalui tulisannya. 😀

Dari tulisan Gie tersebut, saya yang selama ini menulis di blog, bukan berarti telah melakukan jurnalisme warga. Wong yang ditulis kebanyakan curhatan nggak penting. 😆 Sedangkan seorang pewarta warga menuliskan fakta, bukan opini. Di blog ini, saya belum pernah menuliskan realitas sosial dan menyebarkan informasi-informasi terkini.

Kencangkan Suaramu

Pameran di Festival Jurnalisme Warga

Jurnalisme Warga

Di acara Festival Jurnalisme Warga saya jadi tahu dasar-dasar pelaporan dari komik yang dipasang di dinding. Dan saya juga sempat melihat video “Warga Negara dan Bantuan Sosial” yang dipasang di booth-booth di seberang komik. Trenyuh, kalau mendengar mimpi-mimpi mereka yang sederhana: ingin anaknya lebih baik dari kehidupan mereka sekarang ini sebagai pemulung sampah, penjual koran dan penangkap ikan.

Festival Jurnalisme Warga

Satu sesi yang sempat saya ikuti adalah workshop Desain Visual bersama Pak Edi RM (mantan redaktur visual Majalah Tempo) dan Mas Ruby Chrissandy yang menyampaikan materinya tentang desain grafis dan semiotika. Dua hal yang saya tangkap dari Pak Edi, bahwa Tempo sangat memperhatikan pemilihan cover majalahnya, dan tentang ukuran gambar di dalam majalah.

Sampul memegang peran yang sangat vital, karena itu adalah hal pertama yang akan digunakan orang untuk menentukan membeli majalah tesebut atau tidak. Dalam soal ngeblog, desain blog-lah yang mungkin bisa dipadankan dengan sampul majalah. Jangan sampai pembaca kabur, padahal baru lihat halaman home, belum mengklik salah satu artikelnya. 😀 Pak Edi juga menjelaskan, kenapa sampul Tempo menggunakan gambar, bukan foto.

Yang kedua, soal gambar di dalam majalah, di mana ada bagian tertentu komposisi gambar yang ditampilkan sangat besar, hampir dua halaman penuh, dan hanya beberapa paragraf yang ditambahkan, mungkin hanya satu kolom saja. Pembaca itu menyukai visual, katanya. Jadi, jangan sampai mereka bosa karena hanya menampilkan deretan kalimat saja. Nah, di blog juga penting nih. Saya lagi berusaha menerapkan, dalam menulis sebisa mungkin menggunakan gambar dan menampilkannya dalam ukuran besar. Dalam hal ini karena lebar body blog saya hanya sekitar 600px, gambar yang muncul ya akan saya sesuaikan.

Selesai sesi workshop, sempat kenalan sama Mbak @MardiyahChamim, direktur Tempo Institute. Dikenalin sama suami yang lebih dulu kenalan, sih, tepatnya. 😀 Mbak Mardiyah berjanji bahwa acara Festival Jurnalisme Warga ini nggak berhenti sampai di sini, dan masih akan ada lagi lanjutannya, bisa jadi berupa roadshow ke kampus-kampus di berbagai daerah. Ajak-ajak lagi ya Mbak, kalau ngadain acara.. *kedip-kedip*

Efek Rumah Kaca

Meski lagi hamil, saya baru bisa pulang sekitar jam 21.00 karena suami ngebet banget pengen lihat Efek Rumah Kaca. Saya sendiri bukan penikmat musik indie, jadi meski saya pernah denger namanya, tak satupun lagu-lagunya yang secara sengaja pernah saya putar. Pas muncul di panggung, ternyata saya malah bisa nyanyiin lagu-lagunya karena sehari-hari saya dengar dari playlist suami, tanpa saya tahu bahwa itu adalah lagu dari Efek Rumah Kaca. 😆

Efek Rumah Kaca

Dedek saya juga ikutan joget lhoh, di dalam perut. Meski beberapa kali agak kaget juga sih sepertinya pas suara penyanyinya meninggi. Satu lagi yang bisa saya pelajari di penampilan Efek Rumah Kaca, mereka terlihat sangat total memainkan musik meskipun jumlah penonton nggak penuh sesak seperti konser-konser musik besar. Sebagai blogger, saya malu, karena terkadang menulis “seadanya” dan nggak mencurahkan seluruh kemampuan secara maksimal. :mrgreen:

Gimana dengan teman-teman? Sebagai blogger, apakah sudah merasa juga sekaligus sebagai pewarta warga? Dan sudahkan menulis secara maksimal di blog masing-masing?

Hari Gini Masih Ada Yang Nggak Tahu Blog?

Dahulu, awal-awal tahun 2005 saya mulai mengenal blog. Setiap kali mengetikkan sesuatu di mesin pencari, muncul website-website yang ketika saya klik, isinya adalah cerita pribadi pemiliknya. Saya akhirnya menyadari, bahwa pemilik website tidak hanya sebuah perusahaan (dengan banyak karyawan dan dana besar), tetapi bisa dimiliki juga oleh perorangan.

Dengan rasa penasaran yang besar, bagaimana caranya seorang “manusia biasa” *hayyah* bisa memiliki website, saya terus mencari dan mencari jawabannya. Kan, saya pengen juga majang foto-foto narsis dan bisa dikomentari teman-teman. Saya pengen setiap jalan ke mana, makan apa, sama siapa, semua orang bisa tau… Pada akhirnya, saya tau bahwa website-website pribadi itu namanya blog, dan bisa dimiliki secara gratis!

Dari hasil membaca sana sini, akhirnya saya berhasil punya juga sebuah blog gratisan. Meskipun setelah itu jadi bingung sendiri, mau ditulisi apa ya? 😆

Proses yang panjang, akhirnya lancar juga menulis satu demi satu pengalaman yang tertuang di blog Murni Curhatannya Isnuansa ini. Dan dengan bangga juga menyebut diri sendiri seorang blogger. Pemilik Blog.

Kini, blog sudah bukan barang yang aneh lagi. Jumlah blogger yang mencapai 4 juta (Sumber: Pak Nukman di acara Blogilicious Jakarta) menunjukkan angka yang cukup tinggi, mengingat pengakses internet di Indonesia juga masih terbatas.

Yang saya geram, sampai saat ini masih banyak juga yang nggak tahu blog itu mahluk apa. Karena ada saja email-email yang masuk via kontak saya yang sangat menggelikan.

Bisa pesan yang ukuran 38? Kalau beli 4 harganya jadi berapa ya?

Ini pasti habis membaca tulisan saya tentang sendal Joger. Untung nggak pernah curcol tentang Bra, jangan-jangan itu ketuker sama ukuran… *PLAAAKK*

Lebaran besok masih melayani untuk ke Pulau Tidung?

Saya dipikir adalah agen tour and travel, padahal hanya berbagi pengalaman saja ke Pulau Tidung.

Blog itu tempat berbagi informasi, tapi bukan berarti si blogger itu tahu semuanya. Jangan sampai menuduh mengira blogger itu juga otomatis menjual dan menyediakan barang dan jasa yang ditulisnya. 😆 Mungkin juga pertanyaan-pertanyaan aneh itu muncul karena kebiasaan kita (ya, kita semua para pencari di search engine) yang hanya scanning, bukan reading informasi.

Teman-teman pernah punya pengalaman juga dengan orang yang nggak ngerti apa itu blog, padahal dia adalah pengakses internet?

Keyword Sebagai Nama Komentar, Berhasilkah Membentuk Brand?

Blogwalking merupakan bagian dari aktifitas ngeblog. Setelah membaca sebuah artikel di blog seorang kawan, biasanya blogger akan meninggalkan komentarnya atas tulisan tersebut. Dan kolom formulir isian yang jamak disediakan oleh pemilik blog adalah Nama (harus diisi) Email (tidak akan dipublikasikan, harus diisi), dan alamat blog atau website.

Apa yang akan Anda isikan di kolom Nama?

Ada beberapa yang saya perhatikan sering digunakan oleh blogger dalam mengisi nama.

Nama Asli

Nggak perlu diterangin kan ya kalau yang ini. Bisa saja Nina, Joko, Hengky dan lain sebagainya. Kita pun akan enak membalas komentar jenis yang ini. Karena dengan mudah akan me-reply: Terimakasih Mas Joko komentarnya, dan lain sebagainya. Terasa akrab.

Nama Blog

Beberapa yang saya temui di kolom komentar saya, adalah blogger yang memang tidak menggunakan nama aslinya, tetapi nama blognya sebagai nama di kolom komentar. Seperti Alamendah, Alisnaik dan Indobrad. Jenis ini, meski lebih sulit kita akan memanggilnya, tetapi mereka masih bisa diketahui nama aslinya di blog. Tidak anonim, tetapi jika belum kenal, akan membuat kikuk bagaimana menyapa mereka.

Ketika saya sudah kenal nama aslinya, memang lebih nyaman jika menyapa Alamendah dengan Mas Ali, Alisnaik dengan Arooel, dan Indobrad dengan Opa Bradley.

Keyword

Keyword ini bisa bermacam-macam, mulai dari kata kunci yang digunakan mengikuti kontes SEO, sampai dengan nama barang dagangannya. Di blog saya, berseliweran nama-nama seperti: Genset Bekas, Toko Bunga Surabaya, sampai dengan Kampung Perawan. Huh.

Nama Komentar

Bagaimana saya mau menjawab komentarnya? Sama siapa saya akan ngomong? Sama Genset? Sama Toko? Sama Kampung?

Yang menarik, sebuah Universitas, juga mulai memperkenalkan diri sebagai HANDOUT melalui komentar di blog! Itukah brand yang akan mereka tawarkan untuk kampusnya? Berikut screenshotnya. Sayang, saya langsung pencet Spam, karena titip link, dan isi komentar nggak ada artinya. 😆

Nama Komentar

Salahkah Menggunakan Keyword Pada Nama Komentar?

Kalau ngomongin salah benar, ya nggak salah juga sih. Tapi secara pribadi saya lama-lama agak risih juga membacanya. Terutama keyword-keyword yang aneh-aneh.

Jika diimbangi dengan kualitas komentar yang diberikan, mungkin masih bisa ditolerir. Tetapi kalau nama yang diberikan adalah keyword, dan komentar yang ditinggalkan hanya asal, seolah-olah blog kita adalah “tempat sampah” buat mereka. Tempat mencari backlink saja. Bagaimana menurut Anda?

Berhasilkah Membentuk Brand Melalui Keyword di Nama Komentar?

Untuk peringkat di search engine mungkin pengaruh ya, tapi tidak untuk nama baik. Terlalu keras dan frontal jika mengiklankan produk melalui nama di kolom komentar. Rasanya nggak nyaman buat saya yang punya blog. Dan Satrya lebih dahulu secara jelas memberikan persyaratan bagi komentator di blognya seperti berikut:

Pastikan komentar Anda sesuai dengan peraturan saya :
Gunakan nama asli/nama panggilan, jangan kata kunci (keyword)
Jangan masukan link kedalam komentar (gunakan hxxp:// bila terdesak)
Jangan menggunakan kata-kata kasar/kotor
Bila ada yang ingin ditanyakan secara personal, silahkan gunakan form contact (navigasi atas)
Komentar yang melanggar peraturan saya akan dimasukan sebagai SPAM atau di hapus !

~~~
Monggo, silahkan berbagi pendapat di kolom komentar….