Resiko Menjadi Full Time Blogger di Kampung

Sudah sebulan lebih sejak memutuskan menjadi seorang full time blogger, lamat-lamat kerap saya dengar bisik-bisik tetangga yang menggunjingkan perihal pekerjaan saya. Maklumlah, masyarakat di kampung saya adalah mayoritas bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), wiraswasta, dan karyawan, yang notabene berangkat kerja pagi dan pulang sore hari.

Pada awalnya saya merasa terusik dengan apa yang mereka bicarakan di belakang saya. Namun, keputusan saya menjadi seorang full time blogger memang sudah bulat. Sehingga, saya kemudian menjadi terbiasa dan menerima dengan lapang dada jika masyarakat di lingkungan tempat tinggal saya menggunjing tentang saya yang seolah-olah hidup tanpa pekerjaan, dan terkesan hanya numpang hidup dari keringat istri saya yang kebetulan berprofesi sebagai guru sekolah swasta. Alih-alih terusik, gunjingan mereka malah semakin membuat saya termotivasi menjadi seorang full time blogger.

Separagraf preambule di atas saya tulis sebagai latar belakang pembahasan tentang resiko menjadi seorang full time blogger di kampung. Sebelumnya barangkali saya terlalu premature menuliskan bahwa blogger itu adalah sebuah profesi. Sebab, kecenderungan menjadi blogger di Indonesia adalah semata-mata hanya menyalurkan hobi. Seperti jamak kita ketahui, menyalurkan hobi melalui blog bukanlah sebuah profesi atau pekerjaan. Ini hanya semacam sebuah selingan hidup di tengah hiruk pikuk pekerjaan. Dengan kata lain, cuma sekedar hiburan. Akan tetapi barangkali apa yang saya tuliskan benar adanya bahwa blogger itu adalah sebuah profesi. Faktanya, Yaro Starak, Darren Rowse, Daniel Sccoco mampu menjadi menjadi milyarder dengan berprofesi sebagai full time blogger. Dan ketika saya menuliskan blogger-blogger milyarder tersebut mampu menghasilkan uang dari blognya, bukankah menjadi blogger itu sebuah profesi atau pekerjaan?

Atau barangkali para sahabat Mbak Isnuansa menganggap saya berlebihan, dan terlalu jauh membandingkan blogger dunia tersebut dengan konteks blogger di Indonesia. Tetapi dengan tegas saya akan mengatakan bahwa saya tidak berlebihan. Sebab, beberapa referensi yang saya baca mengenai blogger-blogger sukses tersebut, mayoritas berangkat dari menyalurkan hobi melalui blog. Keseriusan mereka menekuni dunia blogging telah membuktikan kepada kita bahwa menjadi blogger adalah profesi yang cukup menjanjikan. Bahkan, ada dari beberapa nama blogger yang saya tuliskan di atas, kerap nongol di majalah Forbes. Continue reading “Resiko Menjadi Full Time Blogger di Kampung”

Blogger Kurang Kerjaan

Apa jadinya jika seorang blogger sudah mulai kurang kerjaan? Dia akan menyalurkan kelebihan energinya untuk mengerjakan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal, sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan.

Sudah lama saya mengetahui bahwa selain ada Komentator Yang Menyamar di blog ini, ada pula blogger iseng kurang kerjaan. Apa yang dilakukannya? Membuat blog khusus untuk memposting ulang tulisan saya. Sengaja saya nggak kasih link, nanti rekan-rekan datang ke sana, dia seneng, kerjaannnya dilihat banyak orang, hehehe…

Entah apa tujuan pastinya saya nggak tahu, tetapi saya menebak, dia melakukan itu agar posisi tulisan saya di SERP turun. Tujuannya supaya Google mendeteksi adanya DUPLICATE CONTENT, dan tulisan saya mendapat hukuman diturunkan dari posisi 1 di Google. Kalau sudah turun posisinya, maka pengunjung blog ini menjadi sepi.

Tapi tak semudah itu pelaksanaannya. Toh, setelah beberapa bulan blogger kurang kerjaan itu beraksi, blog saya baik-baik saja. Malah makin bagus. Makin ngetop. :mrgreen:

Yayang Google tetep seneng-seneng saja dengan tulisan-tulisan saya. 😳 Bahkan, mudah-mudahan, dengan semakin banyaknya tulisan saya, makin banyak pula yang naik posisi setelah saya sundul dengan memberikan link [dari blog ini-ini juga].

Yang aneh, minggu kemarin saya mendapati satu lagi blog baru yang melakukan hal yang sama. Malah lebih parah: tulisan saya disandingkan dengan berbagai konten porno. 😯

Weleh, weleh. Ada-ada aja ya otak kotor manusia bekerja.

Saya, meski sedikit jengkel, nggak akan memikirkan hal-hal seperti itu sebagai sebuah hambatan dalam ngeblog. Niatan saya hanya belajar menulis dan menulis. Jika ada yang nggak suka dengan tulisan-tulisan saya, ya kebangetan, wong yang saya tulis ya cuma hal remeh temeh saja kok, nggak ada yang spektakuler.

Energi saya ya hanya akan saya curahkan untuk mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan yang lebih baru. Syukur-syukur jika [sedikit] berguna bagi pembaca lainnya. Jika tidakpun, ya dinikmati sendiri saja, hahaha…

Kembali kepada blogger kurang kerjaan itu tadi, mbok ya, kalo pengen dengan keberhasilan orang lain, dipelajari apa rahasianya, bagaimana cara meraihnya, bukan dengan melakukan hal-hal yang malah menyita waktu dan tidak menghasilkan apa-apa selain dosa. 👿 Itupun kalo kenal dengan yang namanya dosa. 😉

Saya banyak membaca tulisan-tulisan blogger lain yang memasang banner-banner Pay Per Click atau menjalankan bisnis Google Adsense, juga sering diisengi oleh ‘lawan’nya dengan cara mengklik berkali-kali banner atau iklan yang ada, dengan tujuan supaya yang bersangkutan di banned. Itulah makanya, biasanya blog yang digunakan sebagai ‘ladang uang’ dirahasiakan keberadaannya dari blogger lain, supaya tidak ada yang mengisengi dengan sengaja.

Untungnya, pihak penyelenggara juga makin pintar, kecurangan tersebut bisa diatasi dengan peraturan yang hanya menghitung satu klik yang pertama saja, dan klik selanjutnya diabaikan. Si blogger usil tinggal gigit jari, usaha untuk mengerjai lawan sudah tidak bisa lagi dilakukan dengan cara tersebut.

Isnuansa dot com sampai saat ini belum mengikuti program-program Pay Per Click atau program semacam Google Adsense yang kini juga sudah ada di Indonesia, karena masih merasa trafik yang ada belum terlalu tinggi. Masih menunggu beberapa waktu lagi sampai siap dipasangi iklan jenis itu.

Yang bisa dilakukan kini ya kembali lagi: menulis. Jika blogger kurang kerjaan berhasil menurunkan peringkat salah satu tulisan saya, setidaknya saya sudah mempunyai banyak stok baru untuk menduduki peringkat yang bagus di mata Yayang Google. Waktu saya masih cukup banyak kok, untuk menghasilkan tulisan-tulisan bagus yang lain, bukan saya buang-buang untuk melakukan hal-hal seperti orang yang kurang kerjaan itu. 😆

Apakah Anda pernah juga diisengi blogger lain?

5 Hal yang Saya Lakukan Saat Belum Berhasil di Google Adsense

Tulisan ini hasil karya Kang Yudiono.

~~~

Google Adsense (GA) merupakan sumber penghasilan pasif yang paling populer bagi para blogger di seluruh dunia. Selain dinilai iklannya relevan, program cost per click (CPC) ini memberikan penghasilan lebih besar daripada CPC lokal. Sayangnya, GA tidak “ramah” bagi semua blogger. Memang banyak blogger yang sukses meraup ribuan dolar per bulannya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak pula blogger yang belum berhasil.

Dari fenomena ini, umumnya yang belum berhasil adalah para pemula. Saya adalah salah satunya. Penghasilan saya dari GA baru mencapai $1 per bulan. Tentunya jumlah ini jauh dari harapan. Agar tidak terbebani oleh keadaan ini, saya melakukan 5 hal berikut:

1. Bersabar dan berdoa

Mendapatkan penghasilan dari GA tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan kata lain, ini membutuhkan upaya dan juga waktu. Dengan upaya dan waktu tersebut, saya optimistis bisa berhasil di GA. Oleh karena itu, saya harus sabar dan berdoa agar memperoleh ridho-Nya. Bukankah pepatah mengatakan bahwa orang sabar disayang Tuhan?

2. Tetap Semangat

Buat apa dilanjutkan kalau hasilnya tidak memuaskan. Kata-kata tersebut sering muncul di pikiran saya sehinga terpikir untuk menelantarkan blog adsense. Untunglah saya sadar bahwa hal seperti itu bukan solusi. Oleh karenanya, saya tetap semangat untuk keluar dari zona tidak nyaman ini. Dengan semangat, saya merasa memiliki energi postif yang luar biasa.

3. Konsisten menulis

Trafik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penghasilan GA. Trafik yang besar biasanya dihasilkan dari jumlah postingan yang banyak. Isnaini menyebutkan bahwa adalah tidak masuk akal mendapatkan ribuan pengunjung dari beberapa postingan. Oleh karena itu, saya berupaya untuk konsisten menulis dua hari sekali.

4. Terus belajar

Saya memiliki beberapa buku dan e-book tentang GA. Sebelum online, saya sempatkan untuk membaca kembali buku-buku tersebut untuk memahami tips-tipsnya. Tidak lupa saya juga mencari informasi terkini melalui forum adsense, mesin pencari, dan orang lain yang berpengalaman. Selain itu, saya lengkapi pula dengan memperdalam SEO agar postingan yang saya buat bagus posisinya di mesin pencari.

5. Terus Bereksperimen

Selain trafik, faktor lain yang mempengaruhi penghasilan GA adalah posisi dan desain iklan. Saya melakukan eksperimen dengan mengubah posisi, ukuran, latar belakang, dan warna huruf iklan. Misalnya, ukuran adsense diubah dari 300×250 menjadi 336×280. Saya juga akan mengevaluasi hasilnya sebulan sekali. Bila hasilnya kurang memuaskan, saya akan melakukan perubahan lagi. Namun, jika hasilnya memuaskan, saya akan tetap mempertahankan ukuran, warna, dan posisi iklan tersebut.

Secara pribadi, saya optimis lima hal di atas akan membawa saya ke kondisi yang lebih baik daripada sekarang. Nah, jika Anda pernah mengalami kondisi seperti saya, apa yang Anda lakukan? Mohon bagi pengalaman Anda di bawah sehingga saya dan mungkin teman-teman yang lain mendapat pencerahan.

—————————–

Kang Yudiono adalah pengelola Blogodolar, blog yang membahas tips-tips ngeblog untuk menghasilkan dolar dari blog. Dia juga memiliki jasa pembuatan blog melalui Problogkator. Jika Anda ingin menjadi Guest Blogger [menulis di Isnuansa.Com] baca peraturannya.