Pembaca Blog Dari Search Engine Menyedihkan

Membaca dari data Google Analytics, saya bisa mendapatkan data tentang New Visitor vs Returning Visitor menuju blog. Hanya ada 11.79% returning visitor yang saya miliki. Artinya, ya hanya 11.79% pengunjung yang pernah balik lagi (entah itu dua kali, tiga kali, sepuluh kali, bahkan lebih) membaca tulisan saya. Sisanya, 88.21% adalah pengunjung atau pembaca blog yang masih baru.

Data Google Analytics

Kita lihat satu persatu, yuk.

Mulai dari pembaca blog yang pernah balik lagi. Sumbernya ada tiga yang saya baca sesuai dengan gambar di atas. Pembaca dari search engine yang balik lagi hanya menghabiskan waktu selama 04:08, jauh di bawah yang berasal dari direct traffic (05:21) dan referral traffic (05:42).

Tetapi jika dibandingkan dengan new visitor yang sama-sama dari search engine, average time on site yang returning visitor jauh lebih baik. New visitor hanya mampu bertahan 00:49! 😥

Entahlah pembaca blog yang datang dari mesin pencari ini memang kebiasaannya hanya scanning tulisan tanpa benar-benar membaca, ataukah memang dia tertipu: tidak menemukan apa yang dia cari di blog ini. 😆

Dan yang disayangkan, sebagian besar pembaca ini adalah new visitor yang berasal dari search engine. *matek*

Data bounce rate juga sama: search engine menyedihkan. Hanya referral traffic saja yang menunjukkan performa positif (58.87%). Itu artinya, pembaca yang berasal dari facebook, twitter, indonesia matters, dan blog teman-teman di mana saya meninggalkan komentar saat blogwalking, jarang yang langsung mental ketika datang ke blog ini.

Bagaimana dengan laporan dari data Google Analytics blog teman-teman?

Blogger Bisa Salah Langkah Setelah Membaca Statistik

Hayo, jujur, seberapa terobsesinyakah Anda pada berbagai macam statistik yang ada pada blog Anda? Seberapa sering mengecek nilai Page Rank? Memelototi angka-angka di Sitemeter, Google Analytics, dan lain-lainnya?

Untuk apakah data-data statistik tersebut Anda perlukan? Tentu demi mencari langkah-langkah perbaikan dan strategi ke depan agar blog Anda makin bagus dan bagus lagi, bukan?

Salah Membaca Statistik

Tetapi, kesalahan dalam membaca dan memanfaatkan data statistik juga bisa berakibat fatal. Kenapa? Karena sangat terobsesi pada deretan angka bisa membuat Anda tak rasional lagi. Saya akan ambil contoh diri sendiri.

Kemarin, saya membuka Analytics. Angka menunjukkan bulan ini hanya ada 13. 000 pengunjung, turun 16% dari jumlah bulan lalu. Apa yang ada di pikiran saya? Saya tidak begitu risau. Alasannya, bulan ini saya tidak begitu banyak menulis, bulan ini banyak hari libur, orang-orang merayakan Lebaran, atau mungkin beberapa tulisan saya turun peringkat di Google. Naik turunnya pengunjung blog saya sangat dipengaruhi oleh Google, karena 80% datang dari Search Engine.

Nah, paling saya akan berusaha menulis lagi dengan lebih baik, dan tak lupa meningkatkan kuantitas. Sampai di situ tak ada masalah. Beda dengan cara saya membaca data yang kedua.

Data kedua adalah soal jumlah pengunjung baru dan lama. Data dari Analytics terbaca, secara stabil selama beberapa bulan, 90% adalah pengunjung baru, dan hanya 10% saja yang merupakan pengunjung lama, yang sudah pernah datang, dan berkunjung lagi. Apa yang saya lakukan dengan hasil data seperti itu?

Selama ini saya salah mengambil keputusan dari membaca data 90% pengunjung baru. Yang paling utama adalah tentang berubahnya isi blog ini jadi makin campur-campur nggak karuan. Pembenaran saya: “Toh, 90% pembaca blog ini orang baru.” Jadi saya berpikir, mereka datang ke sini bukan karena mereka puas dengan tulisan saya, dan berniat untuk kembali (lagi) suatu saat nanti.

Padahal, masih ada 10% pembaca yang harus “dipikirkan” keberadaannya. Mereka yang datang berkali-kali ke blog ini. Apakah mereka puas? Ataukah datang karena terpaksa (saya berkunjung duluan)? Apa yang mereka cari ketika berkunjung lagi ke blog ini, dan apakah mereka menemukan yang dicari? Akankah mereka tetap akan datang lagi?

Terjebak Kesalahan

Ternyata tidak mudah ya jadi blogger. Saya mungkin terjebak pada pemikiran “bagaimana menarik perhatian pembaca baru” daripada “menjamin kepuasan pembaca lama”.

Itu contoh kejadian di saya. Bisa jadi Anda punya cerita berbeda. Sampai frustasi karena statistik tak kunjung membaik, mungkin? Atau malah jadi berhenti ngeblog karena kebanyakan membaca untuk bisa menghasilkan uang melalui blog, syarat-syarat statistiknya terlalu tinggi dan susah untuk dicapai? 😆

Ayo, boleh berbagi pengalaman lho di kolom komentar, bagaimana statistik blog mempengaruhi cara dan pengambilan keputusan terhadap blog. Mari.

Keyword Blog Di Google Analytics Sebuah Aset?

Hai… Pagi-pagi saya saya sudah ditanya: Mau pindah aliran ya? Kok nulis soal pribadi? Hehehe, ya enggaklah, saya juga sudah kangen nih nulis yang berhubungan dengan blog. Hanya saja kemarin itu agak susah buat sedikit konsentrasi ketika menulis, jadi ya nulis yang ringan-ringan saja dulu. Hari ini saya kembali mencoba menulis soal keyword yang dimiliki oleh sebuah blog, adakah itu merupakan aset, ataukah bebas saja diketahui oleh umum.

Sebelum ke pembahasan, saya akan sedikit curhat dulu. Dari facebook, semuanya berawal. Saya bergabung dalam sebuah grup yang beranggotakan blogger. Saya add beberapa orang untuk saya tambahkan sebagai kawan. Tiba-tiba, ada salah satu yang barusaja menerima permintaan pertemanan, berkirim surat pada saya, memuji blog ini. Setelah itu, menanyakan berapa harganya jika akan memasang iklan di blog ini.

Tentu langsung timbul rasa bangga dong ya. Pertama, si blogger tersebut dari negara tetangga. Kedua, tanpa usaha, iklan datang sendiri. Wah, hebat nih, pikir saya. Saya lalu jawab bahwa untuk menulis review, standar blog ini dihargai sekian dollar. Kalau banner berapa, dia mengejar. Saya jawab, saya belum pernah menerima iklan banner, silahkan Anda yang pasang harga, kalau cocok, akan saya terima. Sampai di sini komunikasi terputus.

Kemudian blogger tersebut bertanya soal lain: berapa visitor per hari dan berapa page view blog kamu? Saya jawab sekian ratus pengunjung per hari. Page view sekian.

Dikejar lagi: Saya berencana akan pasang banner sekian kali sekian, minta harganya. Trus, tolong ditambahkan alamat email xxx@blabla.com ke dalam Google Analytics, supaya saya bisa melihat statistiknya.

Nah, dari situ, saya merasa ada yang nggak beres. Kalau hanya sekedar untuk melihat berbagai statistik blog seperti Page Rank (valid atau tidak), visitor per hari, page view, angka Alexa dan lain-lainnya, ada banyak alat yang bisa digunakan tanpa harus masuk ke dalam akun Google Analytics seseorang. Ya nggak?

Google Analytics memuat lebih dari sekedar data statistik seperti itu. Ada semua keyword yang diurutkan berdasarkan data terbanyak, yang membawa pengunjung dari search engine menuju blog kita. Dan itu aset blog kita. Dengan susah kita menemukan, owh ternyata kata tersebut yang banyak dicari orang. Masa’ secara sembarangan kita bagi dan ‘Boleh Diintip’ oleh orang lain.

Buat saya, nggak ada masalah mempelajari blog orang lain, toh semua keyword (bahkan semua kata) di blog kan terbuka, bisa di cari diantara tulisan-tulisan yang ada. Pelajari sendiri dong ya, jangan mau enaknya aja dengan ngintip dalemannya Google Analytics saya…

Bagaimana menurut Anda? Apakah akun Google Analytics Anda boleh saya intip? 😉